Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Kamis, 21 Juli 2011

Ketika Jihad Bangsa Moro

 

Cahaya Islam memasuki tanah air Bangsa Moro pada tahun 1310 M (sekitar 710 H) melalui para pedagang Arab, perantau, pengembara Sufi, dan para dai. Institusi-institusi politik dan pengaruh islami berasal dari Sumatera melalui kedatangan Raja Baginda Ali dengan menteri dan prajuritnya. Islam berkembang pesat sehingga berdirilah negara muslim Sulu dan Maguindanao pada tahun 1830. Sultan pertama dari Kesultanan Sulu ialah Sayyid Abu Bakar. Kesultanan ini merupakan sebuah negara yang merdeka dan berdaulat, yang memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan dengan negara-negara lain di wilayah tersebut. Sedangkan Syarif Muhammad Kabungsuan, seorang Arab Melayu dari Malaysia, mendirikan Kesultanan Maguindanao yang berada di pulau kedua yang terbesar dan terkaya di Filipina.
     Ketika dua kesultanan Muslim di selatan berkembang dengan cepat dan semakin kuat dan menjadi bangsa yang merdeka, kabupaten-kabupaten muslim lain lahir dan kemudian dikenal sebagai emirat (keamiran) seperti Emirat Raja Sulaiman (Manila ) dan Emirat Panay. Dapat dikatakan pula bahwa negara-negara Islam dan emirat muslim merdeka berdiri 600-an tahun yang lalu, jauh sebelum Barat (Spanyol) menemukan Filipina. Kesultanan Sulu dan Maguindanao eksis secara de facto sampai tahun 1933 dan terus eksis secara seremonial saja dari tahun 1935 hingga 1946.
     Fakta-fakta penting tentang tanah air Bangsa Moro yang tidak bisa diabaikan oleh para sarjana dan ahli sejarah modern yang meneliti akar permasalahan Bangsa Moro adalah sebagai berikut :
         1.         Institusi politik pertama yang berdiri di tanah air Bangsa Moro bersifat islami.
         2.         Agama samawi pertama yang sampai di wilayah tersebut adalah Islam.
         3.         Sistem pendidikan pertama di pulau itu adalah pendidikan Islam dengan naskah pertama kali yang dikenalkan adalah berbahasa Arab.
         4.         Peradaban pertama yang diperkenalkan di Filipina adalah peradaban Islam.
     Invasi Spanyol sekitar 160 tahun setelah eksistensi kesultanan dan kabupaten-kabupaten Islam menandai permulaan pengawasan Spanyol dan hambatan terhadap perkembangan Islam di kepulauan bagian utara (Luzon dan Visayas). Selanjutnya Bangsa Moro dari Mindanao dan Sulu berjuang melawan kolonialisme Barat atas nama Islam selama 377 tahun (1521-1898).
     Hispanisasi dan kristenisasi yang dilakukan oleh orang-orang Filipina Baru (muda) menjadi landasan kuat bagi kampanye antimuslim—baik secara militer maupun lainnya—setelah Perjanjian Paris 10 Desember 1898 yang menyerahkan Filipina kepada Amerika Serikat dengan kompensasi 20 juta dolar AS. Agresi AS pada tahun 1899 dihadapi dengan ketahanan kaum muslimin di selatan yang bertekad untuk bertempur sampai titik darah penghabisan. Dengan keyakinan bahwa Spanyol tidak pernah punya hak untuk menjual tanah air mereka dan tidak mau menerima aturan Amerika, kaum muslimin memberikan perlawanan berdarah yang berlangsung selama 47 tahun (1899-1946).
     Amerika membalas secara taktis dengan menawarkan sebuah gencatan senjata yang menghasilkan Bates Treaty, The Carpenter Agreement, dan seterusnya. Ini merupakan manuver politis dan sosial ekonomi yang membuat Amerika mampu untuk menaklukkan Bangsa Moro.

Aneksasi (perebutan) Filipina terhadap Kesultanan Islam Bangsa Moro
Di samping memperlakukan Kesultanan Sulu dan Maguindanao sebagai wilayah protektorat, Amerika Serikat mendirikan pemerintahan Persemakmuran Filipina pada tahun 1935. Pemerintahan semacam ini berfungsi sebagai transisi ke arah kemerdekaan penuh yang akan dihadiahkan segera kepada Filipina. Sebenarnya pada situasi semacam ini sekalipun tanah air Bangsa Moro tidak pernah dimasukkan oleh Amerika ke dalam wilayah administrasi Filipina.
     Dengan memanfaatkan pemerintahan transisi dan ketidakpedulian politis masyarakat awal Bangsa Moro, para pemimpin politik Kristen Filipina melakukan manuver dan berusaha menganeksasi Tanah Air Bangsa Moro yang terdiri dari Kepulauan Mindanao, Basilan, Sulu, Tawi-Tawi, dan Palawan.
      Di samping memberikan kemerdekaan pada Filipina pada tanggal 4 Juli 1946 AS juga menganeksasi Tanah Air Bangsa Moro ke dalam negara Filipina Merdeka. Tindakan pemerintah AS ini berlawanan dengan kemauan masyarakat Bangsa Moro.
     Ketika orang-orang Kristen Filipina dari Luzon, Visayas, dan daerah-daerah lain di kepulauan bagian utara dengan gembira ria merayakan apa yang mereka anggap sebagai awal dari kebebasan dan kelahiran bangsa baru, masyarakat Bangsa Moro bersedih karena mereka menganggap itu sebagai akhir dari kebebasan, kemerdekaan, dan kedaulatan selama ratusan tahun. Namun Bangsa Moro tidak bisa bereaksi secara cepat karena mereka berperang melawan Spanyol selama 377 tahun dan 47 tahun melawan Amerika. Hal itu memperlemah mereka bahkan lebih dari itu membawa mereka kepada kemiskinan, kebodohan, dan kesehatan yang buruk.
       Bangsa Moro seolah menjadi orang sakit yang tidak mempunyai obat untuk menyembuhkan dirinya sendiri serta tidak cukup makanan dan ketika alam menyembuhkannya dia mendapati dirinya diperbudak oleh orang yang lebih kuat dan sehat. Karena itu, ketika Bangsa Moro masih dalam taraf penyembuhan dari kerusakan-kerusakan parah akibat peperangan, pemerintah Filipina memanfaatkan kelemahan Bangsa Moro untuk merintis jalan penegakan pendudukan orang-orang Kristen di Tanah Air Bangsa Moro.
     Penting dicatat bahwa selama masa Pra-Spanyol tidak diketahui ada seorang Kristen pun di tanah air Bangsa Moro. Orang-orang Kristen yang tinggal di negeri itu adalah budak-budak Spanyol atau buruh-buruh Amerika yang memilih untuk tinggal di tanah air Bangsa Moro untuk menikmati kebebasan daripada pulang ke negeri asal di bagian utara dan tetap menjadi budak dan pekerja..
     Langkah-langkah yang diambil orang-orang Kristen Filipina untuk menaklukkan dan menggagalkan aspirasi Bangsa Moro selama rezim sipil mengindikasikan pengaruh yang semakin kuat dari teori bahwa kristenisasi atau filipinisasi merupakan satu-satunya jalan untuk menghentikan perlawanan kaum Muslimin. Kali ini masa depan Bangsa Moro sebagai Muslim terancam.
     Sebuah hukum Filipina diberlakukan untuk mendorong pendudukan orang-orang Kristen dari selatan dengan membuka lahan-lahan besar dari tanah-tanah Bangsa Moro kepada para penghuni Kristen dengan bantuan pemerintah secara langsung dan material-material.
     Pada tahun 1946 dasar hukum yang lebih kuat diberlakukan yang memberi orang-orang Kristen Filipina pengaruh dan kekuatan lebih di wilayah-wilayah kaum Muslimin yang menimbulkan migrasi besar-besaran orang-orang Kristen dari tahun 1950-1970 untuk merebut tanah leluhur Bangsa Moro Muslim. Penduduk Kristen ini berkembang secara cepat sehingga melebihi penduduk asli Bangsa Moro dan pemilik sah dari tanah-tanah tersebut pada tahun 70-an di berbagai area di Mindanao. Bersamaan dengan meningkatnya jumlah orang-orang Kristen, gangguan terhadap Bangsa Moro Muslim juga meningkat. Tujuan utamanya adalah untuk meraih kekuasaan politik.

Gerakan Ilaga dan Teror Orang-Orang Kristen
     Pada tahun 1970 para penduduk Kristen di Tanah Air Moro mengorganisir dan mendirikan sebuah organisasi bersenjata yang dinamai ILAGA yang para pemimpin serta perintisnya adalah personil militer Kristen yang aktif, perwira purnawirawan angkatan darat Kristen dan para politisi Kristen.
      Organisasi teroris ini digerakkan dengan persetujuan pemerintah Manila. Operasinya dimulai dengan membunuh individu muslim dilanjutkan dengan pembantaian keluarga-keluarga muslim. Bersamaan dengan meningkatnya semangat permusuhan, orang-orang kristen fanatik mulai menyerang desa-desa muslim, membunuh wanita-wanita muslimah, anak-anak, dan orang-orang lanjut usia. Para teroris itu membakar rumah-rumah, masjid-masjid, madrasah-madrasah, buku-buku Islam termasuk setiap kopian Al-Qur’an. Mereka menghancurkan ladang-ladang pertanian Bangsa Moro, kebun buah-buahan, ladang-ladang dan hampir segala hal yang dimiliki orang Muslim.
     Otoritas pemerintah Filipina tetap tuli terhadap keluhan-keluhan kaum Muslimin dan tidak menghiraukan seruan kaum muslimin untuk menciptakan kedamaian. Kedamaian dan keteraturan telah menjadi agak genting. Darah orang Islam yang tak bersalah berceceran di berbagai sudut tanah air Bangsa Moro.
     Ketika peristiwa-peristiwa tersebut berkembang sehingga meningkatkan ketegangan, kaum Muslimin tidak punya pilihan lain lagi kecuali balas memerangi dan mempertahankan diri. Dalam perkembangan pergerakan Moro di tanah airnya, kaum muslimin menyaksikan munculnya sebuah pergerakan revolusioner baru yang berbeda dalam hal sifat dan pendekatan dari pergerakan Moro pada era yang lalu. Elemen baru tersebut adalah para pemimpin Moro muda yang merupakan keturunan dari kaum Muslimin yang gagah berani melawan Spanyol dan Amerika selama lebih dari 400 tahun.
     Dengan persenjataan yang kurang, para pembela kaum muslimin menunjukkan superioritas mereka dalam perang. Ketika milisi teroris Kristen tidak mampu menghadapinya, oknum-oknum dari Angkatan Darat Filipina turut campur dan membantu ILAGA. Pada tahun 1972 Martial Law (Hukum Perang) diumumkan untuk menerobos pertahanan kaum Muslimin.

Jihad Bangsa Moro Melawan Pemerintah Filipina
Bangsa Moro Muslim menderita berbagai macam tekanan dan ketidakadilan di bawah pemerintahan Filipina. Pemerintah Filipina mendiskriminasi mereka sebagai warga negara kelas dua, bahkan berlanjut mencapai titik terendah dengan memperlakukan mereka secara tidak manusiawi. Pembunuhan Wanton terhadap kaum Muslimin dimulai pada tahun 1972 dan puncaknya deklarasi Martial Law (Hukum Perang) pada tanggal 21 September tahun itu juga.
       Selama rezim Martial Law, Angkatan Bersenjata Filipina melancarkan serangan udara, laut dan darat besar-besaran terhadap desa-desa atau masyarakat Muslim di Mindanao, Basilam, Sulu, Palawan dan Tawi-Tawi. Konon, sebagian pengamat mengatakan serangan tersebut melebihi serangan yang dilakukan oleh Jepang ke Pearl Harbour dan bagian-bagian lain di Pasifik selama Perang Dunia II.
Pada tahap awal perang, Mujahidin Moro mampu untuk menahan agresi musuh dan menghentikan gerak maju kekuatan militer Filipina yang berjumlah sekitar seratus ribu personil yang menguasai udara dan laut secara penuh. Mujahidin mampu untuk mempertahankan beberapa wilayah sebelum mundur ke hutan karena kekurangan amunisi. Kali ini perang gerilya terus dilakukan tanpa henti, sehingga memaksa Pemerintah Filipina meminta gencatan senjata sehingga diambil solusi damai terhadap problem Bangsa Moro. Dengan demikian masuklah Perjanjian Tripoli pada tahun 1976.
Meskipun demikian, serangan terhadap masyarakat muslim yang dilakukan oleh militer dan milisi Filipina terus berlangsung, guna menumpas kekuatan perjuangan Bangsa Moro. Bangsa Moro pun balas menyerang meski daya tahan hidup mereka dalam keadaan darurat. Hingga berlanjut ke meja perundingan atas mediasi OKI.
        Tiba-tiba sejarah berbalik terhadap rezim diktator Ferdinand Marcos. Revolusi EDSA pada tanggal 24 Februari 1986 telah menggulingkan Marcos, dan mengantarkan Corazon Aquino, janda musuh bebuyutan Marcos, Benigno Aquino Jr. ke kursi kepresidenan. Di bawah rezim Aquino, mujahidin Bangsa Moro dijanjikan gencatan senjata yang lain, kali ini dengan MILF (Moro Islamic Liberation Front) untuk merintis jalan menuju perdamaian, pembangunan dan kemajuan di tanah air.
        Sayangnya, kesepakatan tersebut gagal mencapai sasarannya karena Presiden Aquino menyelisihi perjanjian dengan MILF. Sehingga pertempuran antara mujahidin MILF dan elemen-elemen Angkatan Bersenjata Filipina dan milisi-milisi fanatiknya berlanjut secara sporadis diberbagai wilayah dari Davao Oriental di Timur ke Surigao Del Norte di utara dan Tawi-Tawi di barat daya.
     Sebagai upaya untuk mengakhiri aspirasi kaum Muslimin untuk mendirikan negara Islam, pemerintah Aquino membuat dan mengumumkan Republic Act No. 6734, sebuah undang-undang untuk mendirikan wilayah otonomi dalam Mindanao Muslim (ARMM) di tanah air yang terdiri dari Sulu, Tawi-Tawi Lanao Del Sur dan Maguindanao. Bagi penduduk Moro ini merupakan aturan yang dibuat untuk memisahkan kaum muslimin di wilayah-wilayah yang disebutkan di atas dengan saudara-saudaranya yang lain di tanah air yang sama, dalam rangka melemahkan kekuatan Bangsa Moro.
      Agar tetap bertahan, Bangsa Moro tidak punya pilihan kecuali menolak seluruh undang-undang yang bertentangan dengan eksistensi mereka. Berbekal segala keterampilan untuk membela diri, mereka harus berjihad di jalan Allah dan membayar harga kemerdekaan dari tekanan dan penjajahan dengan darah dan jiwa mereka.
     Dengan peran utama yang dimainkan oleh BIAF (Angkatan Perang Islam Bangsa Moro), masyarakat bertempur dengan hebat untuk mempertahankan tanah air. Ujian pun semakin berat setelah kini Angkatan Bersenjata Filipina dibantu militer AS di bawah kampanye global perang melawan terorisme.


0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah