Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Rabu, 27 Juli 2011

Pembatal Iman



Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam untuk Rasulullah, Rasul termulia dan penutup para nabi dan rasul, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Allah menciptakan seluruh manusia untuk beribadah kepada-Nya semata, Dzat yang tidak memiliki sekutu. Allah juga telah menjadikan kalimat tauhid, La Ilaaha Illallaah sebagai asas dan pilar utama agama-Nya. Kalimat tauhid memiliki dua rukun, yaitu itsbaat (menetapkan) dan nafyu (meniadakan). Maka segala sesuatu yang menghilangkan istbat uluhiyah (penetapan peribadahan) untuk Allah, baik berupa perbuatan, perkataan, keyakinan; atau meninggalkan sarana yang dengannya uluhiyah-Nya ditetapkan seperti meninggalkan semua amal shalih, adalah termasuk pembatal iman dan ibadah kepada Allah. Begitu juga segala sesuatu yang tidak meniadakan uluhiyah (penuhanan) dari selain Allah, bentuknya memberikan peribadahan kepada selain Allah, maka termasuk bagian dari pembatal keislaman.
Imam Muhammad al Tamimi rahimahullah dalam risalah "pembatal keislaman" menyebutkan pembatal Iman yang pertama adalah: Syirik dalam beribadah kepada Allah. Beliau rahimahullah berkata, Pertama, Syirik dalam beribadah kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. Al Nisaa': 48 dan 116)
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun." (QS. Al Maaidah: 72)
Di antara bentuknya: menyembelih korban untuk selain Allah, seperti orang yang menyembelih untuk jin atau suatu kuburan. Dan syirik kepada Allah meniadakan rukun nafyu (peniadaan) dalam syahadat La Ilaaha Illallaah. Maka siapa yang berbuat syirik berarti dia telah menjadikan tuhan lain bersama Allah, dia tidak meniadakan sekutu bagi Allah.
Macam-macam tauhid
Tauhid kepada Allah ada dua macam: Pertama, Tauhid al-Ma'rifah  wa al Itsbaat. Maknanya tauhid dalam mengenal Allah 'Azza wa Jalla dan menetapkan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan yang Dia khusus untuk diri-Nya, disertai meniadakan semua itu dari selain Allah. Ini adalah tauhid Rububiyyah,  dan Tauhid al Asma' wa al Shifaat masuk di dalamnya.
Kedua, Tauhid al Thalab wa al Qashdu. Maknanya adalah perbuatan ibadah hamba dengan hati, anggota badan, dan lisannya yang diberikan dan ditujukan kepada Allah 'Azza wa Jalla, dan sedikitpun tidak diberikan kepada selain-Nya.
Karenanya, mengikuti pembagian tauhid ini, syirik terbagi menjadi dua macam; syirik dalam rububiyah dan syirik dalam uluhiyah. Barangsiapa menyandangkan untuk selain Allah perkara yang hanya dimiliki Allah; seperti orang menisbatkan kepada selain Allah kemampuan mutlak, mencipta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengetahui hal-hal ghaib, mengatur dan mengendalikan alam semesta, dia telah melakukan kesyirikan dalam Rububiyah-Nya, yang berarti dia telah menjadikan selain Allah sebagai tuhan.
Siapa yang berdoa kepada selain Allah, meminta kepada makhluk ghaib, meminta kepada orang yang ada di depannya sesuatu yang tidak kuasa mengabulkannya kecuali Allah, berlindung, meminta pertolongan, atau beristighatsah kepada selain Allah; juga seperti orang yang sujud, menyembelih, atau bernadzar kepada selain Allah; berpuasa atau berhaji untuk selain Allah; Maka dia benar-benar telah melakukan kesyirikan dalam uluhiyyah (ibadah).
Contoh Syirik dalam uluhiyah : berdoa kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan meminta syafa'at kepada beliau.
Syirik dalam uluhiyah yang ada pada hari ini memiliki beberapa bentuk. Misalnya berdoa kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan meminta syafa'at kepada beliau. Seperti doanya orang yang dalam kesusahan lalu berucap: "Yaa Muhammad, Syafa'ataka" (Hai Nabi Muhammad, aku minta syafa'at (bantuan)-mu). Ini termasuk berdoa kepada selain Allah yang menyebabkan keluar dari Islam, kecuali yang berucap tidak tahu maknanya atau sudah reflek sehingga keluar tanpa diniatkan, namun dia berusaha untuk meninggalkannya makadia dimaafkan. Adapun orang yang sudah diberitahu lalu tetap mengucapkannya, maka dia menjadi musyrik dan kafir terhadap Allah yang Mahaagung.
Syafa'at Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memang benar ada, hanya saja memintanya kepada Allah.
Syafa'at Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memang benar ada, hanya saja memintanya kepada Allah. Hal ini seperti pertolongan malaikat, tidak boleh diminta kepada malaikat, walaupun bisa terwujud melalui sebab malaikat bila Allah memerintahkan mereka.
Di antara bentuk syirik dalam uluhiyah adalah perbuatan di kuburan dan tempat-tempat keramat yang disembah selain Allah 'Azza wa Jalla. Seperti yang terjadi di Abwa, kuburan ibunda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan tempat lainnya. "Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya." (QS. Saba': 20)
Di antara bentuk syirik dalam doa seperti yang dikerjakan kaum Rafidhal (Syi'ah). Mereka berdoa kepada Ali bin Abi Thalib radliyallah 'anhu –Allah melaknat orang yang beribadah kepada selain-Nya-, Husain (pemimpin pemuda di surga), Fathimah binti Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di kota Najaf, di Baqi' kuburan para sahabat, bahkan mereka menggunakan pengeras suara.
Kita memohon kepada Allah agar menganugerahi kita pemahaman terhadap dien, menunjuki kita kepada sabilul mukminin, dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafa'at Nabi Muhammad, sayyidul mursalin, shallallahu 'alaihi wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam, wal hamdulillahi rabbil 'alamiin.
Oleh: Purnomo; dikutip dan disarikan dari risalah "Masa-il fi al I'tiqaad" karya Farhan Masyhur al Ruwaili.

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah