Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Kamis, 28 Juli 2011

Sekilas Muhajirin dan Anshor



Asal kata dari Muhajirin adalah Haajaro – Yuhaajiru yang berarti berhijrah, maka Muhajirin mengandung makna orang-orang yang berhijrah, yaitu orang-orang yang dengan suka rela meninggalkan semua yang mereka miliki beserta tanah air tempat tinggal mereka demi menyambut seruan Alloh dan Rosul-Nya. Mereka telah berhijrah dari Makkah menuju Madinah, dan di Madinah mereka disambut oleh orang-orang yang berada di disana.
Sedangkan Anshor berasal dari kata Nashoro – Yanshuru yang berarti menolong atau pertolongan, maka kata Anshor mengandung makna orang yang menolong, yaitu mereka yang siap menerima, membela, memberi perlindungan dan bantuan kepada orang-orang yang berhijrah dengan tanpa mengharapkan imbalan selain balasan pahala dari Alloh Subhanahau wa Ta’ala. Mereka adalah orang-orang Madinah yang telah masuk ke dalam islam dan menerima kedatangan kaum Muhajirin yang berhijrah ke tempat mereka.
Kedua kata ini bukanlah istilah yang dinamakan oleh mereka sendiri, akan tetapi keduanya adalah istilah atau penamaan yang diberikan oleh Alloh dan Rosul-Nya.
Kedua kelompok ini diabadikan oleh Alloh dalam Al-Qur’an dengan penghargaan dan jaminan yang tertinggi, serta ridho Alloh dan surga-Nya yang abadi. Hal ini dapat kita lihat dalam firman Alloh di surat At-Taubah ayat ke 100: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.
Ciri-ciri dari kedua golongan ini dijelaskan didalam Al-Qur’an. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman perihal kaum Muhajirin didalam Surat Al-Hasyr Ayat 8 :
“(Dan ada juga bagian dari harta ini) untuk para fakir dari golongan Muhajirin yang terusir dari kampung halaman dan harta-benda mereka, demi mencari karunia Alloh serta Ridha-Nya, dan demi menolong (agama) Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (perkataannya).”
Kaum Muhajirin ini telah mengalami siksaan yang tiada henti-hentinya dari orang-orang kafir Makkah, sehingga tak tertahankan lagi untuk terus menetap di sana. Keadaan inilah yang memaksa mereka untuk berhijrah ke Madinah. Orang-orang kafir Makkah menguasai tempat tinggal dan harta benda yang mereka tinggalkan. Maka dari itu Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyebut mereka didalam Al-Qur’an sebagai Fakir, atau dengan kata lain amat sangat miskin. Seringkali, sebagian besar dari mereka tidak memiliki apapun untuk sekedar makan sehingga biasanya mereka mengikatkan batu-batu untuk menekan perut, menahankan lapar. Banyak pula diantara mereka yang menggali tanah, membuat liang untuk duduk melindungi diri mereka sendiri dari terpaan udara dingin.
Ciri-ciri kedua dari para Muhajirin ini adalah alasan yang melatar-belakangi kepergian mereka meninggalkan kampung-halaman mereka. Mereka berhijrah bukan demi keuntungan duniawi berupa apapun. Dapat dipastikan bahwa mereka melakukannya demi mencari ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupan di dunia ini, dan untuk mencari karunia-Nya di Hari Pembalasan kelak.
Ciri-ciri yang ketiga, mereka berhijrah untuk menolong Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maksud dari menolong Alloh Subhanahu wa Ta’ala disini adalah menolong dalam hal mendakwahkan Al-Islam. Mereka telah memberikan pengorbanan yang luar biasa demi mencapai dua macam tujuan tersebut.
Ciri-ciri keempat dari para Muhajirin ini adalah, mereka adalah orang yang benar dalam kata dan perbuatan. Mereka berdiri tegak diatas ikrar yang mereka ucapkan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengucapkan dua kalimat syahadat di awal mula mereka masuk Islam.
Kemudian pada ayat ke sembilan dari surat Al-Hasyr Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ciri-ciri dari kaum Anshor. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Imam Malik rohimahulloh berpendapat bahwa kota Madinah adalah kota yang paling diberkahi oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan merupakan kota yang amat berbeda dengan kota-kota lain di dunia ini. Sebab, kota ini telah tertaklukkan oleh Iman. Adapun kota-kota lain, termasuk Makkah, tertaklukkan melalui pertempuran dalam arti yang sebenarnya. Maka, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa ciri-ciri pertama dari kaum Anshor adalah, mereka dibesarkan di kota yang dimuliakan, karena dipersiapkan sebagai tempat bernaung bagi Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya.
Ciri-ciri yang kedua, kaum Anshor tidak memandang para Muhajirin yang tak berdaya itu sebagai aral atas diri mereka. Mereka menerima para Muhajirin dengan tangan terbuka dan mencintai mereka secara tulus. Karena cinta inilah, kaum Anshor rela berbagi rata seluruh kepemilikan mereka dengan kaum Muhajirin, bahkan sampai pada perlengkapan rumah-tangga pun mereka bagikan. Lebih dari itu, orang-orang Anshor yang beristri lebih dari satu, secara sukarela segera menceraikan satu diantaranya agar dapat dinikahi oleh para muhajirin.
Ciri-ciri yang ketiga dari kaum Anshor adalah, mereka menerima dengan sepenuh-hati apapun yang diberikan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Muhajirin. Sebagai contoh, ketika kaum Muslimin berhasil mengambil alih kendali atas harta kekayaan dari Bani Nadhir dan Bani Qainuqa’ tanpa menempuh jalan pertempuran, harta benda itu harus dibagikan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada lima kategori penerima Fa’i sebagaimana tersebut didalam Al-Qur’an. Maka beliau meminta Tsabit bin Qais untuk mengumpulkan kaum Anshor. Beliau kemudian berkhutbah di hadapan mereka dan memuji perilaku keteladanan mereka terhadap para Muhajirin. Selanjutnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dua pilihan berkaitan dengan pembagian kepemilikan harta kekayaan yang baru saja diperoleh itu, “Jika kubagikan perolehan ini kepada semua orang Anshor dan Muhajirin, maka para Muhajirin masih akan terus tinggal di rumah para Anshor. Pilihan lainnya, kubagikan perolehan ini hanya kepada para Muhajirin dan dengan demikian mereka bisa meninggalkan rumah para Anshor dan memulai hidup mandiri.” Pemimpin kaum Anshor, Sa’ad bin Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz menanggapi, “Silahkan, bagikanlah diantara kaum Muhajirin saja, dan hendaklah merekapun tetap tinggal di rumah kami.”
Ciri-ciri keempat dari kaum Anshor adalah, mereka lebih cenderung mencukupi kebutuhan kaum Muhajirin, walaupun mereka juga mempunyai kebutuhan yang sama.
Demikianlah dari pengertian mengenai istilah Muhajirin dan Anshor. Wallohu ‘alam…..

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah