Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Kamis, 28 Juli 2011

Turunnya Nabi Isa di akhir zaman


Siapa yang tak mampu menundukkan akalnya di bawah kendali keimanan dan dalil yang shahih, niscaya ia akan berada di barisan pasukan pengingkar.
Di antara bentuk penyimpangan aqidah adalah pengingkaran atau tidak mengimani akan turunnya Isa ‘alaihissalam. Pengingkaran ini bisa dilakukan secara individual semacam yang dilakukan oleh Mahmud Syaltut, guru besar Universitas Al-Azhar Mesir, atau secara kelompok seperti sebagian kelompok Mu’tazilah serta orang-orang filsafat dan atheis.
Insya Alloh pada postingan rubrik Roddussyubhat kali ini, kita akan menyebutkan beberapa syubhat berkaitan dengan pengingkaran turunnya Isa ‘alaihissalam di akhir zaman, disertai dengan jawabannya.
Di antara alasan dan syubhat mereka dalam mengingkari turunnya Isa adalah:
Pertama: Bahwa hadits-hadits mengenai turunnya nabi isa itu palsu dan tidak masuk akal
Adapun Jawaban atas syubhat ini adalah: Bahwa hadits-hadits dalam hal ini sangat banyak. Bahkan para ulama menggolongkannya sebagai hadits mutawatir. Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri mengatakan bahwa jumlahnya mencapai lebih dari lima puluh hadits. Mayoritasnya shahih dan sebagian lagi hasan. Adapun anggapan mereka bahwa hadits-hadits ini tidak masuk akal, maka Asy-Syaikh At-Tuwaijiri juga telah menyanggahnya. Beliau mengatakan: “Adapun nalar yang lurus dan akal sehat yang selalu berjalan bersama kebenaran ke mana kebenaran itu mengarah, niscaya tidak akan ragu-ragu dalam menerima kebenaran yang datang dari Kitabulloh atau yang secara mutawatir datang dari hadits Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal turunnya Al-Masih (Isa) di akhir zaman. Tapi nalar yang melenceng serta akal yang rusak, tidak akan segan-segan menolak kebenaran. Sehingga akal yang rusak serta pengusungnya itu tidak perlu diperhitungkan.”
Kemudian Syubhat yang kedua adalah: Turunnya Isa itu mustahil, karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dengan nash Al-Qur`an
Adapun Jawabannya adalah: Bahwa turunnya Isa di akhir zaman tidaklah membawa syariat yang baru. Tidak pula berhukum dengan Injil. Namun berhukum dengan syariat Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ia menjadi salah satu umat ini. Jadi, Turunnya Isa tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur’an  yang menjelaskan bahwa Rosul terakhir adalah Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Bahwa Dajjal pasti keluar –lalu beliau melanjutkan haditsnya, dalam hadits itu–. Lalu datanglah Isa bin Maryam membenarkan Muhammad dan di atas agama Muhammad, kemudian setelah itu tegaklah hari kiamat.”
Syubhat yang selanjutnya adalah: Seandainya turunnya Isa itu termasuk prinsip iman, tentu itu akan disebut dalam Al-Qur`an dengan tegas
Bantahan syubhat ini adalah: Semua yang telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik itu sesuatu yang telah terjadi atau yang akan terjadi adalah wajib kita imani. Dan ini merupakan realisasi dari syahadat Muhammad Rosululloh. Dan realisasi ini termasuk prinsip iman, di mana seseorang tidak menjadi seorang mukmin yang terlindungi darah dan hartanya hingga merealisasikan persaksian kerosulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdasarkan sabda beliau:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang benar kecuali Alloh, serta beriman denganku dan dengan apa yang aku bawa. Bila mereka melakukan itu maka mereka telah melindungi dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya. Dan hisabnya diserahkan kepada Alloh.”
Dan telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memberitakan akan munculnya Imam Mahdi di akhir zaman, keluarnya Dajjal, serta turunnya Isa. Sehingga wajib mengimani hal itu sebagai bentuk bukti pembenaran terhadap firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam surat An-Najm ayat ke 3 dan 4:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya.”
Dan sebagai pengamalan terhadap firman-Alloh ai surat Al-Hasyr ayat ke 7:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat keras hukuman-Nya.”
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, maka sangat jelas bahwa pada hakikatnya, setiap yang diucapkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun termasuk wahyu yang bersumber dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Maka apa pun yang dikabarkan oleh beliau wajib kita Imani, dan ini merupakan salah satu prinsip keimanan dan kebenaran syahadat kita. Maka kesimpulannya adalah: kita wajib mengimani akan turunya Isa ‘alaihissalam di akhir zaman nanti, beliau turun bukan sebagai nabi, akan tetapi sebagai pengikut Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta beliaupun akan mematahkan salib-salib  yang disembah oleh kaum nasrani, serta menyeru mereka untuk mengikuti syari’at Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikanlah diantara syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengingkari turunnya kembali nabi Isa diakhir zaman, mereka lebih mengedepankan akal mereka dari pada wahyu, dan alhamdulillah, syubhat-syubhat mereka sudah terjawab, dan memang sebenarnya setiap syubhat mudah untuk dipatahkan jika kita memiliki keilmuan yang mendalam, hal ini dikarenakan, syubhat adalah sesuatu yang muncul dikarenakan kurangnya ilmu atau pemahaman terhadap Islam yang benar, Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memperdalam ilmu-ilmu agama Islam ini, agar keimanan kita semakin kuat dan tidak mudah diragukan oleh orang-orang yang bertujuan untuk menjauhkan Ummat islam dari agamanya.
Semoga pembahasan kali ini  bermanfaat, Wallohu ‘alam…..

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah