Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Jumat, 22 Juli 2011

Etika (Adab) Buang Air


Hal-hal yang harus diperhatikan oleh orang yang hendak buang air adalah sebagai berikut.
1. Ia mencari tempat yang sepi dari manusia, dan jauh dari penglihatan mereka. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. hendak buang air besar, maka beliau pergi hingga tidak dilihat oleh siapa pun. (HR Abu Dawud dan Tirmizi).
2. Tidak membawa apa saja yang di dalamnya terdapat zikir kepada Allah SWT. Karena, dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Rasulullah saw. mengenakan cincin yang ada tulisannya Rasulullah, namun ketika beliau masuk WC, beliau melepaskannya. (HR Tirmizi, dan ia menyahihkannya).
3. Masuk toilet/WC dengan mendahulukan kaki kiri, sambil berdoa (yang artinya),”Bismillaahi innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khabaaitsi (Dengan nama Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki-laki dan setan perempuan).” Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. selalu membaca doa tersebut jika hendak memasuki tempat buang air.
4. Tidak mengangkat pakaiannya agar auratnya tidak terbuka.
5. Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang air kecil atau buang air besar. Rasulullah saw. bersabda,”Janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya ketika buang air besar maupun buang air kecil.” (HR Mutaffaq Alaih).
6. Tidak buang air di tempat berteduhnya manusia, di jalanan, di mata air, di pohon-pohon yang berbuah. Rasulullah saw. bersabda,”Takutlah pada tiga tiga tempat buang hajat: di aliran air, di tengah jalan, dan tempat berteduh.” (HR Hakim dengan sanad yang baik).
7. Tidak berbicara (ngobrol) pada waktu sedang buang air besar. Rasulullah saw. bersabda,”Jika dua orang buang air besar, hendaklah masing-masing dari keduanya bersembunyi (agar tidak terlihat satu sama lainnya), dan hendaknya tidak saling bercakap-cakap, karena Allah membenci hal tersebut.”
Alat Istinja
Tidak beristinja dengan tangan tulang, atau kotoran hewan. Rasulullah saw. bersabda,”Janganlah kalian beristinja dengan kotoran hewan dan tulang, karena hal itu adalah makanan saudara-saudara kalian dari golongan jin.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu, tidak beristinja dengan hal-hal yang mengandung manfaat, seperti pohon rami yang bisa digunakan dengan daun dan yang lainnya dari barang-barang yang bernilai, karena meniadakan sesuatu yang bermanfaat dan merusak sesuatu itu diharamkan.
Tidak menggunakan tangan kanan dan tidak menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. Rasulullah saw. bersabda,”Janganlah setiap kalian menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan, dan janganlah cebok di WC dengan tangan kanannya.” (HR Mutaffaq Alaih).
Melakukan istinja dengan ganjil, misalnya dengan tiga batu, jika belum bersih dengan lima batu. Salman r.a. berkata,”Rasulullah saw. melarang kami menghadap kiblat ketika buang air dan melarang istinja dengan tangan kanan, atau menggunakan batu kurang dari tiga, dan melarang istinja dengan kotoran hewan dan tulang.” (HR Muslim).
Jika ingin menggunakan air dan batu, maka terlebih dulu menggunakan batu, kemudian dengan air. Jika cukup dengan salah satu dari keduanya, maka diperbolehkan, hanya saja dengan air itu lebih baik. Aisyah berkata,”Perintahkan suami-suami kalian untuk beristinja dengan air, karena aku malu kepada mereka dan karena Rasulullah saw. terbiasa berbuat seperti itu.” (HR Tirmizi, dan ia menyahihkannya).
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Setelah Buang Air:
  1. Keluar dari tempat buang air dengan mendahulukan kaki kanan, seperti yang biasa diperbuat oleh Rasulullah saw.
  2. Membaca doa,”Ghufraanaka (Ya Allah, ampunilah aku).” (HR Abu Dawud dan Tirmizi). Atau doa,”Alhamdulillaahil ladzii adzhaba ‘annil adzaa wa ‘aafaanii (Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan gangguan dariku dan memberikan kesehatan kepadaku).” Atau doa,”Alhamdulillahi al-ladzii ahsana ilayya fii awwalihi wa aakhirihi (Segala puji bagi Allah yang telah berbuat baik kepadaku, dari pertama hingga terakhir).” Atau doa,”Alhamdulillahil ladzi aadzaaqanii ladzdzatahu, wa abqaa fiyya quwwatahu, wa adzhaba ‘annii adzaahu (Segala puji bagi Allah yang telah merasakan kepadaku kelezatannya, mempertahankan kekuatannya kepadaku, dan menghilangkan gangguannya dariku).”
Semua doa di atas ada hadisnya.
Sumber: Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

0 komentar:

Posting Komentar

Jazakallah