Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Rabu, 27 Juli 2011

Menyeru Manusia Kepada Islam


Islam adalah aqidah hati nurani, tempat bersumbernya tingkah laku dalam masyarakat, dan menjadi dasar sistem kehidupan. Ia suatu sistem yang sempurna yang mencakup kegiatan orang-seorang dalam kehidupan keluarganya, dalam kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan internasionalnya. Ia menentukan hukum-hukum berbagai macam hubungan dalam segala bidang itu, dan mengadakan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan-hubungan ini.

Karena itu dalam kehidupan Islam adalah mustahil untuk memisahkan aqidah yang terdapat dalam hati nurani orang-seorang dan hukum yang mengendalikan kehidupannya. Yang menjadi dasar dan hukum itu adalah aqidah itu sendiri. Aqidah itu sendiri kalau telah terdapat dalam hati nurani, maka ia berusaha untuk menyatakan diri dalam hidup nyata dalam bentuk hukum. Kedua hal itu tidak dapat dipisahkan dalam wujud Islam. Kenyataan ini sendiri telah cukup untuk menggariskan jalan yang akan kita tempuh dalam menyeru kepada Islam, sebagaimana pada waktu dahulu ia telah menggariskan jalan da’wah Islam dalam kenyataan sejarahnya.

Muhammad Rasulullah SAW telah memulai langkahnya sebagai seorang da’i, menyeru kepada Islam. Baru saja beberapa orang mendengarkan seruannya, ia mulai menyempurnakan da’wahnya sebagai orang yang menentukan hukum, yang menentukan sistem dan yang memerintah. Ia tidak membiarkan apa yang kepunyaan Kaisar itu diberikan kepada Kaisar dan apa yang kepunyaan Allah itu diberikan kepada Allah, karena menurut pendapat Islam segala sesuatunya adalah kepunyaan Allah. Islam hanya mengenal Kaisar sebagai orang yang melaksanakan hukum Allah dan mengatur kehidupan dengan undang-undang Allah.

Kenyataan sejarah ini, di samping kenyataan yang jelas dalam wujud Islam itu, keduanya itu sekarang ini dapat menggariskan bagi kita cara kita menyeru kepada agama Islam. Dalam agama ini, apa yang telah terbukti baik bagi generasi pertamanya, juga akan baik bagi generasi yang datang kemudian: bahwa kita berusaha untuk membentuk suatu pribadi yang Muslim, sampai kalau ia telah ada, ia akan bangkit dengan sendirinya untuk mewujudkan sistem Islam. Tetapi langkah-langkah kita hari ini di jalan da’wah mungkin memerlukan perubahan sedikit sesuai dengan wujud masa di mana kita hidup, dan situasi yang mengelilingi kehidupan sekarang ini.

Ketika Rasul SAW yang mulia memulai da’wahnya, ia pertama-tama berusaha untuk membebaskan jiwa manusia dari perbudakan selain dari Allah, yang terdiri dari bermacam-macam tuhan, atau khayalan-khayalan yang menakutkan dan kesenangan syahwat yang menghinakan. Dalam pembebasan ini pertama-tama harus diusahakan pembebasan dan pembersihan jiwa manusia, dan mempersiapkan untuk menerima kehidupan yang tinggi yang dituntut oleh Islam.

Perbudakan selain dari Allah terhadap tuhan-tuhan yang bermacam-macam, baik perbudakan waham, khurafat dan dongeng-dongeng, serta membudakkan diri terhadap hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan rendah, semuanya menghabiskan tenaga manusia terhadap hal-hal yang tidak pantas untuk manusia, dan semuanya itu menghalanginya daripada melihat kepada pembangunan, dalam segala bidang, dan semuanya itu menghalangi dari bangkit memikul tanggungjawab kehidupan yang mulia, yang dimaksudkan Allah untuk seluruh manusia.

Inilah yang merupakan tugas da’wah yang pertama di masa Rasulullah SAW dan ini pulalah sepantasnya menjadi tugas da’wah sekarang ini. Bukan hanya dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan melakukan pimpinan. Kita tidak mungkin menyeru manusia kepada sesuatu kalau kehidupan pribadi kita tidak merupakan terjemahan hidup darinya. Da’wah tidak akan ada nilainya, jika para da’inya sendiri tidak menjadi bukti yang mendukung da’wah itu.

Perbedaan yang terdapat antara keadaan kita sekarang dengan keadaan yang terdapat di zaman nabi SAW dipandang dari segi ini adalah perbedaan kelihatan dari luar saja, walaupun ada sebagian orang yang membayangkan bahwa sekarang ini tidak ada tempatnya lagi untuk membebaskan manusia dari perbuatan tuhan-tuhan yang bermacam corak, dan tidak ada kepentingannya. Ini salah sekali! Penyembahan bermacam-macam tuhan sekarang ini, tidak kurang dari penyembahan bermacam-macam tuhan di zaman jahiliah. Yang berubah hanyalah jenis tuhan-tuhan ini, bukan penyembahan tuhan-tuhan itu. Tetapi penyembahan hawa nafsu, penyembahan takhyul, maka keadaaanya tetap sebagaimana adanya tanpa kecuali.

Perubahan yang kita perlukan dalam langkah-langkah kita hari ini adalah bahwa kita jangan memulai mengadakan suatu individu Islam dari segi kepercayaan dan tingkah laku saja, tetapi dalam waktu yang sama kita juga menggabungkan ke dalam hal ini bagaimana mengemukakan program-program kemasyarakatan yang berdasarkan dasar-dasar gagasan Islam dan terambil dari hukum Islam. Kita tidak akan menangguhkan program-program ini sampai diselesaikan pembentukan-pembentukan pribadi-pribadi Muslim. Kita tidak akan menggariskan program-program ini sedikit demi sedikit dari hari demi hari, sebagaimana yang pernah dilakukan pada masa-masa da’wah yang pertama.

Inilah satu-satunya perubahan dalam rencana itu yang dituntut oleh kondisi yang mengelilingi da’wah sekarang ini dan dituntut oleh perubahan-perubahan yang terjadi di masa moden ini.

Ketika Rasul SAW yang mulia memulai da’wahnya, di Semenanjung Arabia tidak terdapat suatu pemerintahan yang stabil, atau suatu sistem yang tetap dan sarana-sarana kemasyarakatan yang tertentu. Demikian pula di seluruh dunia di waktu itu belum ada teori-teori yang ditetapkan tentang pemerintahan, masyarakat dan ekonomi dalam bentuk yang sama jelasnya dengan sistem-sistem, teori-teori yang terdapat di zaman kita sekarang ini. Karena itu maka Islam pertama-tama dapat mendirikan sistem kemasyarakatannya satu batu bata demi satu batu bata, mengadakan teori-teorinya tentang kehidupan satu demi satu, sesuai dengan pertumbuhan badan kemasyarakatan yang telah diusahakannya mendirikannya, dan pada akhirnya dengan sistemnya yang telah disempurnakannya itu ia dapat mengadakan konfrontasi dengan semua sistem-sistem dunia yang dikenal di waktu itu, lalu dirobohkan dan dikalahkannya. Ia mengalahkannya bukan dengan kekuatan senjata sebagaimana beberapa orang ingin menggambarkannya, tetapi dengan kekuatan gagasan yang dibawanya. Gagasan ini tidak dapat dibandingkan dengan semua gagasan yang dikenal dunia di waktu itu. Gagasan Islam itu adalah lompatan pembebasan yang belum pernah dikenal ummat manusia tolok bandingannya. Lompatan ini sampai sekarang ini masih belum dapat diikuti langkah-langkah manusia. Inilah yang harus kita buktikan kepada seluruh manusia dalam bentuk yang sesuai dengan mentalitas sekarang ini.

Dunia sekarang diperintah oleh teori-teori kemasyarakatan yang terperinci. Jika kita menyeru manusia kepada Islam, kita harus juga mengemukakan kepada mereka teori kemasyarakatan Islam secara terperinci pula. Memang benar bahwa teori saja tidak cukup untuk memperbaiki kehidupan dan meningkatkan kehidupan itu selama kita tidak menciptakan suatu pribadi Muslim yang percaya kepada teori itu, mampu melaksanakannya dan mewujudkannya dalam kenyataan hidup. Tetapi mengadakan suatu pribadi Muslim sekarang ini dibutuhkan agar ia mempunyai suatu gagasan terperinci tentang teori kemasyarakatan Islam, karena tanpa memperlihatkan teori ini secara sempurna dalam bentuk yang dapat dilaksanakan dalam kenyataan hidup sekarang ini, maka perasaan keagamaan itu tidak akan sempurna dan kesadaran kemanusiaan juga tidak akan sempurna.

Orang-orang yang kita seru kepada Islam menemui ada sistem-sistem lain yang memerintah kehidupan, yang tidak akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadikan tingkah laku keislaman mereka itu sempurna. Sebabnya adalah karena dasar-dasar kehidupan sekarang ini tidak bersifat Islam. Karena itu perasaan keagamaan mereka bertabrakan dengan kenyataan hidup dalam praktek. Ini sebetulnya baik karena telah dimulai usaha untuk mengubah motivasi ini, hingga dapat sesuai dengan gambaran yang dilukiskan Islam untuk kehidupan. Jadi gambaran ini harus diketahui, dikemukakan dan mulai dilaksanakan, agar individu-individu Muslim berusaha untuk mewujudkannya dengan kesadaran dan dengan bukti yang cukup.

Karena itu sekarang ini tidak cukup kalau kita memanggil manusia dengan da’wah yang bersifat umum saja kepada Islam, kepada al-Qur’an, atau kepada hukum Allah, atau kepada syari’at Islam, atau kepada sistem pemerintahan Islam, atau kepada sistem kemasyarakatan Islam, dan seterusnya, sampai kepada persoalan-soalan umum, yang tidak mempunyai pengertian yang terperinci dan jelas dalam pemikiran.

Harus ada tempat-tempat pendidikan untuk mendidik orang-orang secara pendidikan Islam. Inilah dasarnya. Dalam tempat-tempat pendidikan ini mereka harus diperkenalkan dalam bentuk yang terperinci: bagaimana bentuk kehidupan Islam yang lengkap itu yang harus dicoba untuk mewujudkannya, ke mana mereka didorong oleh perasaan agama mereka. Gambaran seperti ini harus dikenal manusia dalam bentuk teori-teori kemasyarakatan yang terperinci, yang mencakup keadaan-keadaan kehidupan seluruhnya, hubungan-hubungan individu dan kelompok yang terdapat di dalamnya, dan dasar-dasar yang menjadi tempat tegak kehidupan umum.

Langkah ini tidak merupakan langkah yang terlalu cepat. Waktunya bukanlah ketika telah berdirinya suatu pemerintahan Islam. Pemerintahan Islam itu tidak akan berdiri, kalau manusia, atau mayoritas mereka, masih merasa tidak puas dengan gambaran yang telah dilukiskan Islam terhadap kehidupan, dan mereka tahu bagaimana bentuk kehidupan mereka, hubungan mereka, hak-hak mereka, kewajiban-kewajiban mereka, dan seluruh hal yang dibebankan kepada mereka, kiranya suatu pemerintahan Islam telah berdiri nanti. Jadi sama sekali tidak cukup kalau sekarang ini kita menyeru mereka kepada Islam dengan ringkas dan pendek saja, sebagaimana yang dilakukan di zaman Rasul SAW. Dalam zaman itu belum ada teori-teori kemasyarakatan yang terperinci yang menentang da’wah Islam. Selama Islam mempunyai teori-teori yang lebih maju dan semua yang dikenal manusia sekarang ini, kenapa kita tidak mengemukakan teori-teori ini dalam bentuk yang dapat disesuaikan dengan kehidupan yang ada sekarang, dengan segala hubungan-hubungannya, situasi-situasi yang mengelilinginya dan keperluan-keperluannya, pada waktu kita menyeru manusia kepada Islam?

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah