Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Rabu, 27 Juli 2011

Sandungan Menggapai Keluarga Samara (3)


3. Berat untuk menyampaikan kata ‘maaf’ dan memaafkan
Tak ada manusia yang luput dari khilaf dan lalai. Dan biasanya, kekhilafan atau kesalahan yang punya peluang besar teralamatkan kepada orang-orang yang paling dekat dengan kehidupan kita.
Dalam kehidupan berumah tangga, suami isteri adalah sepasang manusia yang selalu dekat dan berinteraksi dalam kondisi apa pun. Dalam suasana senang atau susah, dalam keadaan lapang atau sempit, dalam bahagia atau sedih, dan dalam suasana normal atau tidak.
Pendek kata, semua keadaan itu sangat berpeluang memunculkan kekhilafan dan kesalahan antara suami isteri. Masalahnya, ada kesalahan yang disadari, dan ada yang tidak.
Ketika seorang suami sedang mengalami hal yang tidak menyenangkan di tempat kerja, suasana ketidaknyamanan itu kadang masih terbawa ke rumah. Bisa berupa emosi yang belum stabil, dan jalan keluar solusi yang masih kusut.
Dalam keadaan inilah, kadang kekhilafan terjadi kepada seorang isteri. Apa yang dilakukan isteri kepadan suami, tiba-tiba menjadi selalu salah di mata suami. Ujungnya, kemarahan bisa teralamatkan ke isteri.
Ketika hal itu berlalu. Dan seorang suami akhirnya menyadari kekhilafan yang ia lakukan kepada isteri yang mungkin masih menyimpan sakit hati, ungkapan maaf adalah sebuah kemestian. Dan sekali-kali, jangan menganggap kalau isteri sudah memaafkan kekhilafannya tanpa harus ada pengungkapan kata maaf.
Tidak jarang, seorang suami merasa begitu berat untuk mengungkapkan kata maaf kepada isterinya. Mungkin karena rasa gengsi, malu kalau isterinya akan mengambil peluang itu untuk menyalahkannya, atau karena bukan sebuah kebiasaannya. Saat itu, seperti ada bisikan batin yang sebenarnya keliru, ”Ah, lupakan saja. Nanti juga termaafkan dengan sendirinya.”
Ketika seorang suami berani dan dengan rendah hati mengungkapkan kekeliruannya dan berujung pada kata maaf, saat itu juga, wibawanya sebagai seorang pemimpin di keluarga menjadi naik. Dan di saat yang bersamaan, seorang isteri merasakan kalau ia bukan seorang bawahan dari suaminya, tapi seorang mitra yang terikat dalam jalinan cinta.
Saat itu juga, hampir bisa dipastikan, segala hal yang tidak menyenangkan dari apa yang pernah ia terima dari suami, dengan sendirinya akan lenyap, seperti debu yang berterbangan ditiup angin kencang.
Begitu pun sebaliknya, antara seorang isteri kepada suami atau antara keduanya dengan anak-anak. Jika sudah seperti itu, sebuah keluarga tak ubahnya seperti suasana surga, yang penghuninya tidak lagi menyimpan rasa ketidaknyamanan terhadap penghuni yang lain.
Di antara kunci dari keberanian untuk mengungkapkan kata maaf adalah rasa empati yang tinggi terhadap hak diri orang lain. Terlebih lagi terhadap orang-orang yang sangat dicintai.
Beberapa kesalahan kecil yang mungkin terlewatkan dan akhirnya menjadi endapan rasa ketidaknyamanan antara lain, tidak tepat waktu dalam kesepakatan, melupakan janji walaupun dalam hal kecil, keceplosan dalam bicara, tidak mampu menyempurnakan kewajiban secara baik, dan lain-lain.
Ketika seorang suami atau isteri menyampaikan ungkapan maaf, akan lebih baik jika memperhatikan beberapa hal berikut. Fokuskan pandangan kepada wajah pasangan kita, berikan sentuhan yang lembut, dan ungkapkan dengan penuh kerendahan hati. (muhammadnuh@eramuslim.com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah