Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Rabu, 27 Juli 2011

26 Penyebab Kesesatan di Indonesia (5)




Penyebab ke 24 telah kita bahas yakni: Ta’mir masjid dan pengurus pengajian belum tentu faham tentang Islam, dan kadang manhajnya pun rancu. Ini sudah menjadi musibah di kebanyakan tempat. Ada semacam kecenderungan, orang yang punya modal ngomong atau punya harta, atau punya kedudukan, walau kosong ilmu agama, mereka dipilih untuk duduk bahkan memimpin masjid, musholla atau pengajian. Akibatnya, masjid ataupun pengajian pun diatur semau mereka, tanpa dilandasi ilmu agama.
Mari kita lanjutkan untuk penyebab ke 25.
25. Media Massa Menyeret Manusia ke Arah Menjauhi Tuhannya.[1]

Peran media massa sangat ampuh dalam menjauhkan manusia dari agamanya, dari Tuhannya. Hampir semua media massa, arahnya tidak mengingatkan adanya kehidupan akherat. Semua hidup ini dicurahkan hanya untuk di dunia ini. Hidup ini untuk dinikmati, bukan merupakan lahan untuk beramal demi mengumpulkan bekal untuk akherat.
Sifat umum media massa, baik televisi, radio, maupun media cetak rata-rata seperti itu, masih pula sering menjerumuskan kepada kerusakan. Dari kerusakan moral akhlaq sampai kerusakan aqidah.
Media massa pada umumnya hanya mempertimbangkan uang, sehingga tidak menggubris manfaat dan madhorotnya. Bahkan cara pandang dalam pemberitaan misalnya, rata-rata memakai cara pandang sekuler, tanpa nilai Islam. Mereka berlagak obyektif, dengan cara apa yang mereka sebut keseimbangan, cover both side, kedua belah pihak dicari keterangannya dalam peliputan. Seakan itulah yang obyetif. Padahal, justru cara itulah yang berbahaya ketika penerapannya model sekuler tanpa menggubris agama. Karena akan mendudukkan suara syetan sama dengan suara Ar-Rahman. Pendapat model syetan ditampilkan, lalu untuk sekadar agar dikatakan obyektif, maka dikutip sedikit pendapat orang yang mengutip wahyu Allah, atau dianggap dekat dengan agama.
Ketika pendapat pro syetan ditampilkan panjang lebar, dan hanya ada diselingi sedikit pendapat yang pro Allah, bahkan kemudian ditutup dengan pendapat dari media massa itu yang kemungkinan sekali adalah pro syetan, maka sebenarnya yang dilakukan media massa sehari-harinya itu hanyalah melecehkan ajaran dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Menggiring manusia ini untuk lebih jauh lagi lari dari Tuhannya. Dan itulah yang menjadi menu sehari-hari umat Islam Indonesia, sebagai ganti dari membaca dan menyimak Al-Qur’an kitab suci. Maka isi kepala dan memori jiwa manusia yang sudah digarap oleh media massa perusak sehari-hari ini adalah akherat itu mbuh ra weruh (tak tahulah), dan agama itu hanyalah embel-embel dalam hidup ini. Sehingga ketika ada da’i yang menyampaikan ayat-ayat dan hadist-hadits, maka tidak masuk ke otak manusia-manusia yang sudah terseret sehari-hari oleh arus media massa yang telah menjauhkannya dari ayat dan hadits itu. Sebaliknya, kalau ada da’i yang lucu-lucu, guyon-guyon, yang tidak membicarakan akherat, tak bicara neraka, tak bicara dosa, tak bicara tentang maksiat, tak bicara tentang taklif (beban-beban yang harus dilaksanakan) dalam agama; maka baru mereka dengarkan.
Dalam kasus ini, da’i-da’i yang bercerita mengenai kisah-kisah yang telah ditampilkan oleh media massa yang merusak itu, lalu dibumbui dengan gaya khasnya si da’i, misalnya, maka akan dianggap sebagai hiburan tambahan, dan menyenangkan. Terhadap dakwah yang lucu-lucu, goyon-guyon, dan menirukan televisi yang muatannya banyak merusak itu, maka masyarakat baru nyambung, karena arusnya sama. Itulah gambarannya. Bagaimana ketika mereka masuk kubur tiba-tiba, sedang selama hidupnya hanya terseret oleh gaya hidup yang pro syetan seperti ini?
Pers dan media massa, baik cetak maupun elektronik (televisi dan sebagainya), sebenarnya hanyalah alat untuk menyampaikan pesan. Sebagaimana telepon genggam bisa dijadikan alat untuk menyampaikan pesan lewat bicara atau lewat tulisan pesan singkat (sms). Hanya saja media massa itu ditujukan kepada masyarakat umum, sedang kalau kita menelepon atau sms hanya kepada orang-orang yang kita tuju. Karena sifatnya hanyalah alat sebagai penyampai pesan, maka tergantung pelaku-pelaku penyampai pesan itu, mau mengisi pesannya itu dengan apa.
Dalam hal pesan memesan ini, dalam Islam sudah jelas petunjuknya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al-‘Ashr: 1, 2, 3).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
{ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ } وهو أداء الطاعات، وترك المحرمات، { وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ } على المصائب والأقدار، وأذى من يؤذى ممن يأمرونه بالمعروف وينهونه عن المنكر. آخر تفسير سورة “العصر” ولله الحمد والمنة. (تفسير ابن كثير - (ج 8 / ص 480)
“…dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran”, yaitu melakukan ketaatan dan meninggalkan keharaman-keharaman. dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” atas musibah-musibah dan taqdir-taqdir; dan gangguan dari orang yang mengganggu penegak amar ma’ruf nahi munkar.[2]

Media massa harus di barisan depan dalam memberantas kemunkaran
Dalam hal menghadapi kemunkaran atau keburukan, media massa seharusnya di barisan depan untuk memberantasnya. Karena merupakan apa yang sering jadi slogan bahwa statusnya adalah sebagai alat pengontrol masyarakat. Maka tugas utamanya adalah memberantas kemunkaran alias segala keburukan. Dalam hal memberantas kemunkaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ) .
Siapa di antara kalian yang melihat kemunkaran/ keburukan maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya, maka apabila ia tidak mampu maka dengan lisannya, maka kalau tidak mampu maka dengan hatinya, dan hal itu adalah selemah-lemah iman. (HR Muslim).
Secara singkatnya, media massa itu sebenarnya adalah alat untuk amar ma’ruf nahi munkar, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran/ keburukan. Tetapi ketika yang dipakai adalah teori ”keseimbangan berita” yaitu menampilkan suara pro keburukan dengan diimbangi suara pro kebaikan, maka yang terjadi adalah mengangkat keburukan itu sejajar dengan kebaikan. Ketika sudah seperti itu, jadi sama dengan berkata, jangan hanya meniru kebaikan tetapi tiru pula keburukan itu.
Selanjutnya ketika dalam kenyataan missi media massa itu memang sekuler, yang otomatis berhadapan dengan Islam, maka setelah menyejajarkan keburukan dengan kebaikan itu sudah terlaksana, maka pembaca atau pemirsa media massa itu digiring ke missi media massa itu, yang tentu saja untuk menjauh dari Islam. Otomatis keburukan yang sudah diangkat sejajar dengan kebaikan itu kemudian di angkat satu derajat lagi, menjadi agar dipilihlah keburukan itu, dan agar ditinggalkanlah kebaikan.
Itulah yang terjadi dalam permainan media massa di Indonesia bahkan di dunia ini. Karena mayoritas yang menguasai media massa di mana-mana adalah tangan-tangan orang yang tidak pro Islam walau mungkin mengaku beragama Islam kalau berada di negeri Islam. Dan itulah sebenar-benar kejahatan yang tinggi secara massal berskala nasional bahkan internasional.
Dan itulah bahaya besar yang telah diingatkan oleh AllahSubhanahu wa ta’ala dengan firman-Nya:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(67)
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma`ruf dan mereka menggeng-gamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah: 67).
Dalam melaksanakan misi buruknya itu, maka ketika materi yang mereka tampilkan itu berupa ajaran Islam, ditampilkanlah yang aneh-aneh, yang tak sesuai dengan Islam. Atau paling “toleran” bagi aturan mereka adalah Islam yang tanpa beban (tanpa taklif) apa-apa. Sehingga Islam yang jelas agama dari Allah Subhanahu wa ta’ala ini pun hanya menjadi bagian sasaran atau alat dari misi mereka belaka, sedang para pembaca dan pemirsa jadi korban dari kejahatan itu semua.
Secara massal telah sukses digiring oleh media massa ke arah sangat jauh dari agamanya, Islam. Namanya masih sebagai seorang Muslim, namun isi kepalanya sudah kosong dari kedekatan diri terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan lantaran penggiringan itu secara massal, maka secara seragam, tumbuhlah manusia-manusia yang mengaku Muslim tetapi sebenarnya benci terhadap ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Berikut ini satu contoh nyata:
Satu kejadian nyata, dialami teman, seorang da’i di Karawang Jawa Barat, yang bercerita langsung kepada saya tentang pengalaman pahitnya. Dia fasih bahasa Arabnya, baik lisan maupun tulisan. Dia faham ayat dan hadits karena memang belajar Islam sampai tingkat tinggi. Dia juga bisa bicara di depan umum, karena memang juga da’i. Suatu ketika, da’i yang tidak merokok ini harus bicara bergantian dengan da’i perokok yang model guyon-guyon lucu-lucu. Pengajian akbar pun dimulai di malam hari di daerahnya, Karawang.
Para pejabat hadir, pengunjung pun membludak. Setelah acara sambutan pejabat dan panitia, maka giliran da’i yang tak merokok dan fasih ayat dan haditsnya ini untuk tampil di depan umum. Baru bicara beberapa menit, dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, da’i yang tadi duduknya di samping para pejabat daerah di barisan depan itu, langsung diteriaki hadirin selapangan: “Turun…! Turun…! Turun…!” suasana pun ramai sekali, takkan terdengar apa yang da’i ini sampaikan. Maka terpaksa da’i yang membawakan ayat dan hadits ini pun turun, kembali ke tempat duduknya.
Kemudian tiba giliran da’i yang satunya, perokok dan pengobral lucu-lucu. Begitu tampil, dari gaya sampai bicaranya, dibuat lucu. Sehingga dari awal sampai akhir, hadirin ger geran tertawa-tawa sepanjang dia berdiri di depan mereka. Para pejabat dan masyarakat itu seakan menikmati hiburan yang ditunggu-tunggu, dan bagai menemu durian runtuh. Hanya satu orang lah yang di lapangan itu yang tak bisa tertawa, yaitu da’i yang teman saya itu tadi, yang telah mereka turunkan ramai-ramai itu. Padahal apa yang terjadi sebenarnya?
Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi peringatan:

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ { وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ , وَيْلٌ لَهُ , وَيْلٌ لَهُ } .
Rasulullah saw bersabda: “ Celaka bagi orang yang berkata dengan perkataan untuk membuat kaum tertawa dengannya maka dia berbohong, celaka baginya, celaka baginya.” (Hadits dikeluarkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi dan ia menghasankannya, An-Nasa’i, dan Baihaqi dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya).
Cerita yang diada-adakan alias dusta untuk membuat orang-orang tertawa itulah yang dilakukan oleh para pelawak dalam kenyataan. Dan cara pelawak itupun dipakai pula oleh sebagian da’i. Padahal sudah jelas dikecam oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan ungkapan berkali-kali,wailun lahu, wailun lahu; celaka baginya, celaka baginya. Kalau keadaannya sudah seperti itu, maka majelis yang seharusnya mendapatkan rahmat dari Allah, dilingkupi oleh para malaikat yang memintakan rahmat kepada Allah itu tentu saja berubah total menjadi sebaliknya. Kemudian, pelajaran apa yang mereka bawa setelah pulang dari pengajian? Apakah mereka akan lebih bertaqwa kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala dibanding sebelumnya?
Itulah kenyataan masyarakat umum yang telah digarap oleh media massa buruk sehari-harinya, hingga sudah menjadi pembenci-pembenci ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits-hadits Nabishallallahu ‘alaihi wasallam. Sebaliknya menjadi penggemar-penggemar guyonan dusta yang telah dikecam keras oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. (bersambung, insya Allah).

________________________________________

[1] Dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan pertama, Februari 2008, halaman 371-375.
[2] (Tafsir Ibnu Katsir juz 8 halaman 480).

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah