Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Senin, 25 Juli 2011

Anjungan ,Berbadan Silindris


FPSO
Suatu inovasi teknologi kembali lahir dari salah satu kiblat teknologi lepas pantai, Norwegia. Sebuah perusahaan disain bangunan lepas pantai, Sevan Marine, telah berhasil mengembangkan konsep disain baru bernama Sevan Stabilized Platform (SSP) dengan feature utama struktur lambung (hull) berbentuk silindris. Konsep ini akan difungsikan sebagai anjungan pengeboran (driling platform) atau anjungan produksi (production platform) dan FPSO, khususnya untuk wilayah operasi di perairan sangat-dalam (ultra deepwater) dengan kondisi lingkungan yang sangat-ganas (ultra-harsh environment).
Dengan demikian “pemain baru” dalam pasar struktur lepas pantai akan segera ikut meramaikan pentas dunia penambangan minyak dan gas, khususnya untuk aplikasi laut-dalam. Masih perlu waktu untuk membuktikan unjuk kerjanya atas “pemain-pemain lama” yang sudah cukup dikenal seperti jenis TLP, Spar maupun FPSO konvensional berbadan kapal (ship-shaped FPSO).
Pada tulisan ini akan diuraikan dua karakteristik utama dari struktur jenis SSP ini yang menjadikannya berbeda dengan jenis lainnya dalam kelasnya, sekaligus sebagai ciri performansi utamanya. Pertama dari segi karakteristik strukturalnya dan kedua, dari karakteristik geraknya pada saat beroperasi. Disamping itu juga diuraikan beberapa kelebihan SSP dibandingkan dengan jenis Drill Ship dan Semisubmersible.
Latar Belakang
Munculnya konsep ini dilandasi oleh kondisi umum bahwa biaya produksi minyak atau gas bumi dengan menggunakan fasilitas lepas pantai akan naik secara tajam seiring dengan bertambahnya kedalaman perairan operasinya. Sehingga untuk memastikan perolehan keuntungan dari suatu ladang laut-dalam (deepwater) atau bahkan ladang laut sangat-dalam (ultra-deepwater), maka tren yang terjadi saat ini adalah dengan menambah ukuran unit prosesing dan jumlah riser yang digunakakan pada anjungan lepas pantai tersebut. Akibatnya diperlukan suatu unit struktur apung yang besar yang mampu menopang beban besar dengan area geladak dan kapasitas penyimpanan yang besar pula.
Dengan memperbesar ukuran unit struktur, di satu sisi memang mampu mengatasi problem-problem di atas, namun di sisi lain timbul masalah baru. Selain biaya membengkak akibat bertambahnya berat baja dan peralatan, sebuah struktur yang besar akan memperkompleks masalah skala-baru dalam disain serta membutuhkan teknologi baru untuk menanganinya. Karena teknologi untuk penanganan struktur-sturktur kecil, tidak serta-merta bisa langsung diterapkan untuk struktur-struktur besar. Perubahan ini pada gilirannya akan memperbesar resiko. Di samping itu, ukuran struktur yang besar berkonsekuensi kepada terbatasnya ketersediaan galangan (shipyard) pembangunnya, yang cukup mampu, misalnya untuk pengiriman hull tepat waktu -setelah dibangun- dengan biaya pembangunan yang sesuai anggaran.
Untuk menjawab persoalan di atas, maka ditawarkan suatu konsep struktur baru jenis apung yang mampu menyediakan luasan geladak dan kapasitas muat beban yang lebih besar. Selain itu, jenis struktur baru ini diklaim akan memiliki biaya pengadaan/pembuatan yang lebih murah, tetapi mempunyai kapasitas penyimpanan yang besar serta memiliki karakteristik gerak yang baik/halus. Ditandaskan pula bahwa faktor utama yang turut berperan dalam memperkecil biaya pembangunan SSP ini diantaranya terletak pada dua hal. Yaitu, karena bentuk lambung silindris, sehingga menyebabkan struktur bersifat sama dalam segala arah (omni-directionality) dalam menerima gaya-gaya lingkungan, serta adanya sifat disain yang berdasarkan modul-modul (modular design).
1.Struktur_Apung_SSP
Gambar 1. Struktur apung SSP menawarkan suatu konsep baru
untuk operasi di perairan dalam dan ganas (sumber: www.sevanmarine.com)
Karakteristik Struktural SSP
Konsep struktur anjungan produksi minyak dengan lambung-tunggal (mono-hull) yang beroperasi di laut-dalam serta berkapasitas produksi besar, misalnya untuk kasus struktur FPSO berbadan-kapal (Ship-shaped FPSO), telah diakui sebagai pilihan yang berbiaya lebih murah. Dalam konteks ini adalah jika dibandingkan dengan konsep struktur lainnya seperti Semisumersible, TLP maupun Spar.
FPSO ini telah digunakan secara luas di seluruh dunia dan sudah memiliki teknologi yang cukup establis. Telah terbukti bahwa dengan penambahan sistim turret dan swivel, FPSO akan memiliki kehandalan yang tinggi untuk dioperasikan di perairan yang lebih ganas. Untuk aplikasi di perairan yang sedikit lebih moderat, maka cukup dipakai sistim tambat-sebar (spread-mooring) konvensional saja. Diantara kelebihan FPSO adalah memiliki kapasitas penyimpanan yang besar dan beban geladak satuan yang tinggi. Namun kekurangannya, FPSO konvensional ini berkarakteristik sensitif terhadap arah gelombang, meskipun hanya untuk kondisi gelobang moderat.
Konsep SSP pada dasarnya adalah struktur dengan sebuah lambung-tunggal berbentuk bundar dan berdasarkan pada prinsip stabilitas yang sama dengan struktur apung lainnya. Berbeda dengan Spar yang juga memiliki lambung silindris, lambung SSP berdiameter lebih besar dibandingkan dengan dimensi tingginya karena sarat (draft) operasionalnya biasanya kurang dari 1/3 diameternya. Penampang lambung yang bundar memungkinkan struktur memiliki tahanan hidrodinamis yang sama untuk segala arah pada saat terkena gelombang. Sehingga dalam hal ini SSP tidak memerlukan sistim tambahan seperti turret maupun swivel seperti pada jenis FPSO berbadan-kapal. Dengan kondisi ini pula nantinya bisa menghemat biaya fabrikasi dan pemeliharaan.
2.Penampang_Melintang_SSP
Gambar 2. Penampang melintang struktur SSP yang memperlihatkan
pembagian kompartemen yang ada di dalamnya (sumber: www.sevanmarine.com).
Dimensi karakteristik dari SSP adalah diameter. Hal ini membuatnya menjadi sebuah disain yang berbasis modul, yang mana ukuran diameter akan menjadi penentu dimensi dari anjungan tersebut. Saat ini Sevan Marine telah mendisain SSP untuk 3 ukuran berdasarkan pada kapasitas penyimpanan minyaknya.
Stabilitas SSP sama dengan bangunan apung berbentuk kapal seperti pada umumnya. Luasan bidang air (water plane area) yang besar menyebabkan stabilitas yang tinggi sehingga memiliki kapasitas beban geladak yang besar. Kapasitas beban geladak satuannya mencapai 15.000 metrik ton. Sementara untuk Semisubmersible generasi terakhir hanya berkapasitas 50%-nya yaitu sekitar 7.500 metrik ton. Kemampuan SSP setara dgn drillship laut-dalam yang berkapasitas 15.000-20.000 metrik ton. Meskipun luasan geladak yang tersedia sudah cukup besar, namun bila diperlukan bisa ditambah lagi dengan geladak kantilever sehingga seluruh aktivitas dapat dilakukan di atas geladak. Sedangkan muatan, material penyeimbang (ballast) dan persediaan bentuk cairan diletakkan di dalam lambung, demi meningkatkan keselamatan operasional. Tata letak tangki dalamnya menjadikan posisi tangki ballast ada di sekeliling bagian luar dari lambung, sehingga konfigurasi SSP menjadi berlambung-ganda (doble hull).
Bentuk SSP yang simetris memberikan keuntungan tersendiri. Akses keseluruh tangki termasuk tangki ballast dan tangki muatan dapat dilakukan dari sebuah kompartemen pusat. Sistim akses untuk air dan minyak dapat dibuat melalui suatu jalur utama berbentuk cincin. Setiap tangki tidak memerlukan sistim perpipaan, sehingga secara signifikan sangat menyederhanakan proses disain, konstruksi dan operasinya. Malahan diperkirakan SSP hanya memerlukan sekitar 30% dari sistim perpipaan normal yang biasa dipakai pada FPSO konvensional. Bisa dibayangkan berapa besar penghematan yang bisa dilakukan. Dan juga, dengan disain yang kompak, jumlah kebutuhan kabel dengan sendirinya bisa berkurang.
SSP dengan lambung-ganda didisain untuk memaksimalkan keamanan, baik keamanan operasional maupun keamanan bagi lingkungan. Tangki-tangki muatan dilindungi dengan tangki-tangki ballast agar pada saat terjadi kebocoran, material muatan tidak langsung masuk ke laut. Disamping itu, secara struktural, konstruksi lambung-ganda memiliki peran yang penting dalam menambah kekakuan struktur secara keseluruhan, selain kontribusi dari struktur geladak atas dan poros pusatnya yang dihubungkan melalui sekat utama vertikal (vertical bulkhead) dan elemen-elemen penegar horisontalnya.
Kondisi keseluruhan struktur yang demikian ini akan menghasilkan suatu struktur yang relatif ringan yang pada akhirnya akan mengurangi biaya pembangunannya. Harga satuan SSP unit pengeborannya sangat atraktif. Dikatakan bahwa biaya pengiriman seluruhnya adalah US$ 430 juta. Sangat kompetitif jika dibandingkan dengan jenis semisubmersible generasi ke-3 dan drillships yang mencapai harga US$ 500-600 juta. Bentuk lambung yang silindris juga mengakibatkan momen lentur yang bekerja pada struktur menjadi jauh lebih kecil sehingga mengurangi sagging dan hogging, yang selanjutnya hal ini menyebabkan tingkat tegangan lelah yang terjadi menjadi lebih kecil.
Di bagian dasar struktur SSP terdapat sebuah kotak bilga yang berfungsi meredam gerak vertikal dan angular SSP. Hal ini bisa terjadi karena kotak bilga tersebut dapat memperbesar massa tambah hidrodinamis (hydrodynamic added mass) dan menambah redaman struktur SSP.
Karakteristik Gerak SSP
Perilaku gerak dan hidrodinamis dari SSP telah diuji secara intensif dalam kolam uji Marintek di Trondheim, Norwegia. Gerak angular dan vertikalnya yang bagus telah berhasil diverifikasi. Dalam pengujian tersebut kondisi laut yang disimulasikan adalah untuk merepresentasikan perairan Laut Utara dan Brazilia yang mana memiliki kondisi gelombang multiarah dengan beban-beban lingkungan yang ekstrim/ganas. Kedua skenario tersebut diujikan hingga kondisi gelombang 100 tahunan.
Pada dasarnya karakteristik struktur luar juga akan berpengaruh terhadap perilaku geraknya. Dengan bentuk badan silindris serta adanya bilge keel peredam-gerakan membuat SSP memiliki gerakan yg baik dalam heave dan roll. Karakteristik gerak ini sangat penting, terutama sangat berpengaruh pada saat operasi pengeboran dan proses produksi. Dan di sisi lain juga akan memudahkan proses kontruksinya.
Respon gerak SSP dalam arah pitch atau roll adalah sangat kecil. Gerak angular ini secara khusus sangat terkait dengan efesiensi operasional dari suatu unit pemroses yang mana pada saat terjadi gerak roling berlebih pada wahana apungnya, maka operasi pemrosesan hidrokarbon bisa jadi akan dihentikan. Gerak roling yang besar juga bisa menyebabkan retak akibat kelelahan pada struktur seperti tiang pembakar gas yang panjang dan bantalan turret yang besar. Bila riser dipasang pada posisi yang jauh dari pusat geometris dari unit wahana apungnya (SSP), maka gerak roling juga akan memperbesar gerakan vertikal dari risernya. Konfigurasi pemasangan riser seperti itu biasa dipakai pada anjungan jenis Semisubmersible dan FPSO konvensional bertali-tambat sebar. Pada FPSO dengan sistim tambat turret, gerak angular yang berlebih dapat menimbulkan level tegangan yang tinggi pada titik gantung dari riser.
Unjuk kerja respon gerak heave SSP bahkan melebihi jenis Semisubmersible yang dapat diaplikasikan pada spektrum kondisi laut yang luas. Respon gerak heave ini menjadi suatu pertimbangan yang penting terkait dengan kelelahan riser baja tipe catenary (Steel Catenary Riser/SCR) karena jenis riser ini sangat sensitif terhadap gerakan heave frekuensi tinggi. Uji model SSP menunjukkan, dengan disain kotak bilga yang tepat, maka gerak SSP berada pada rentang gerak yang diperlukan dalam mencegah kelelahan SCR. Karakteristik gerak yang sangat baik yang dimiliki oleh SSP tidak hanya akan menaikkan efesiensi unit pemroses dan umur riser, namun juga akan menambah tingkat keamanan operasional secara keseluruhan.
Perbandingan dengan beberapa tipe sejenis
Dengan profil struktural dan performansi gerak sebagaimana dijelaskan di atas, maka SSP mampu menampilkan kelebihannya tersendiri baik sebagai anjungan pengeboran maupun dalam fungsinya sebagai FPSO. Beberapa kelebihan yang mampu dicapai oleh disain SSP dibandingkan dengan dua jenis struktur lepas pantai lainnya, yaitu drillship dan semisubmersible (Gambar 3) dapat diringkas sebagai berikut :
  • Drill Ship:
Drill ship atau kapal pengebor adalah sebuah struktur apung berbentuk kapal konvensional yang berfungsi untuk proses pengeboran dan penyelesaian sumur minyak. Peralatan pengeboran yang ada di atas kapal memungkinkan untuk melakukan operasi pengeboran sumur, pemasangan pipa pelindung sumur (casing) dan pemasangan xmas tree bawah laut.
Dalam operasinya, dengan badan berbentuk kapal tersebut maka beberapa hal yang menjadi catatan atas performansinya antara lain: (1) defleksi yang terjadi pada lambung kapal cukup signifikan, (2) terjadi interaksi gaya-gaya antara badan kapal dan modul pengeborannya, (3) elemen-elemen struktur rentan terhadap kelelahan (fatigue), (4) area moom pool menurunkan integritas struktur lambungnya, (5) pada seksi depan dan belakang kapal banyak mengandung detil struktur yang rumit, (6) konstruksi strukturnya membutuhkan jenis pengelasan full penetrated weld dan NDT yang intensif di daerah-daerah kritisnya dan (7) memerlukan sistim pengkabelan dan pipa-pipa yang panjang.
  • Semisubmersible:
Merupakan sebuah unit terapung dengan geladak yang ditopang oleh sistim kolom (elemen struktur vertical) dan ponton (elemen struktur horizontal) yang memungkinkan respon lebih lentur dan bebas terhadap gelombang dengan karakteristik respon gerak yang bagus.
Dengan konfigurasi struktur yang demikian, maka beberapa catatan penting atas performansinya meliputi hal-hal berikut: (1) pada geladak struktur, pontoon, kolom dan elemen cabangnya (bracings) terjadi gaya melintang dan puntir, (2) tata letak peralatan diintegrasikan dalam elemen-elemen struktur seperti dalam kotak geladak, dalam kolom dan pontoon, (3) detil-detil sambungan lokal rentan terhadap tegangan tinggi dan kelelahan, (4) diperlukan baja kekuatan tinggi (high tensile steel) untuk mengurangi berat struktur, (5) konstruksi strukturnya membutuhkan jenis pengelasan full penetrated weld dan prosedur pengelasan khusus dan (6) terdapat gap udara antara permukaan air dan geladak sehingga memungkinkan terjadinya hempasan gelombang pada struktur geladak (slamming).
3.Perbandingan_Struktur
Gambar 3. Perbandingan performansi tiga struktur lepas pantai jenis apung, (A) drillship, (B) semisubmersible, dan (3) Sevan Stabilized Platform (SSP)
(sumber: www.sevanmarine.com).
  • Sevan Stabilized Platform (SSP):
Sementara itu untuk SSP, selain performansi yang sudah diuraikan di atas, beberapa hal yang memberikan kelebihan atas dua jenis struktur sebelumnya adalah: (1) defleksi yang terjadi pada struktur geladaknya tidak signifikan karena bentuk struktur yang lebih kompak, (2) seluruh modul pengeboran ditopang oleh struktur lambung sehingga membentuk integrasi yang terbatas dan kompak, tidak banyak memerlukan elemen struktur penyambung, (3) detil struktur dan elemen-elemennya banyak yang sama sehingga mudah dalam reproduksinya, (4) konstruksi strukturnya hanya membutuhkan baja dan prosedur pengelasan biasa, (5) sebagian besar hanya menggunakan las sudut (fillet weld), (6) struktur bangunan atas (topsides) dengan sistim modul yang kompak dan (7) tidak memerlukan sistim pengkabelan dan pipa-pipa yang panjang.
Pada dasarnya konsep SSP memiliki aplikasi yang luas, mulai dari unit besar untuk laut-dalam hingga ukuran yang lebih kecil untuk produksi ladang kecil di perairan dangkal. Selain peruntukan utamanya sebagai FPSO dan unit pengeboran, sebenarnya konsep SSP menawarkan suatu solusi yang fleksibel untuk bermacam-macam keperluan. Disamping bisa digunakan sebagai FPSO fungsi-penuh untuk perairan sangat-dalam, SSP bisa juga diaplikasikan misalnya, sebagai suatu unit penyimpanan di perairan dangkal dengan riser dalam jumlah yang besar yang dikombinasikan dengan anjungan produksi terpancang.
Prinsip dasar disain SSP adalah berdasarkan pada prinsip pembangunan kapal standart dengan meniadakan bagian depan dan buritannya. Sementara itu bagian kompartemen muatan dipertahankan dan dimodifikasi hingga menjadi bentuk lambung bundar (Gambar 1). Sehingga terbentuklah disain yang kompak dengan integrasi yang sederhana antara lambung dan bangunan atasnya. Untuk aplikasi FPSO, komponen turret dan swivel yang umum dipakai pada FPSO berbadan kapal, digantikan dengan sistim tambat sebar. Proses fabrikasi panel-panel dan blok-blok strukturnya dapat dilakukan secara standart dengan elemen-elemen struktur yang relatif berukuran kecil. Dengan cirinya yang mudah dalam pembangunannya itu menyebabkan SSP dapat dibangun di banyak galangan umum dengan fasilitas standart.
4.Desain_SSP
Gambar 4. Disain SSP terinspirasi oleh bagian tengah sebagai kompartemen muatan dari struktur kapal konvensional
(sumber: Pareto’s Oil & Offshore Conference, 2006)
Bentuk lambung yang memiliki tingkat simetri yang sangat tinggi (karena berbentuk silindris) dalam konsep struktur SSP sangat mendukung pembentukannya dengan cara modul. Lambung ini disusun dari delapan jenis konstruksi modul sehingga proses pembangunannya sangat menguntungkan. Dimana faktor efisiensi dalam pembangunan dengan sistim modul didapati akan makin bertambah seiring dengan kemajuan tahap pekerjaan tersebut. Dengan adanya fakta ini, ditambah lagi dengan tidak diperlukannya perpipaan dan pengkabelan dalam tangki, maka makin menyederhanakan proses detil disain, sehingga pada akhirnya akan menurunkan biaya konstruktsi secara keseluruhannya.
Saat ini Sevan Marine memfokuskan pada dua jenis aplikasi SSP, yaitu sebagai anjungan apung produksi dan anjungan pengeboran. Unit SSP pertama, SSP Piranema dibangun di galangan Yantai Raffles di China. Pada kuartal kedua tahun 2006 telah dikirim ke galangan Keppel Verolme di Rotterdam, Belanda dan saat ini sedang dilakukan perangkaian peralaran dan fasilitas prosesing di atasnya. SSP Piranema ini direncanakan akan diinstal di ladang Piranema Brazilia pada akhir 2006 untuk masa kontrak selama 11 tahun dengan Petrobras.
Dua SSP lainnya, saat ini juga sedang dibangun di galangan Yantai Raffles. SSP kedua nantinya akan diinstal di ladang minyak Chestnut wilayah tengah Laut Utara pada pertengahan 2007 dibawah kontrak selama 2,5 tahun (dengan kemungkinan perpanjangan) dengan Venture Production. Sedang SSP ketiga dijadualkan akan dikeluarkan dari galangan pada kuartal kedua tahun 2007. Sementara itu, untuk SSP keempat yaitu SSP 300 FPSO, bagian lambungnya juga akan dibangun di China di galangan Hantong. Pengiriman SSP 300 dari galangan diperkirakan akan dilakukan pada paruh kedua 2008.
SSP unit FPSO
Sejauh ini telah dikembangkan dua jenis SSP yaitu sebagai SSP FPSO (Floating Produksion, Storage and Offloading) dan sebagai SSP Unit Pengeboran. SSP FPSO digunakan sebagai sebuah unit terapung untuk produksi dan penyimpanan hidrokarbon. Hidrokarbon hasil eksploitasi disimpan dalam tangki-tangkai yang ada di atas lambung anjungan dan selanjutnya ditransportasikan ke daratan dengan kapal tanker atau melalui sistim pipa laut.
SSP_sebagai_fpso
Gambar 5. Salah satu jenis SSP yang diperuntukkan sebagai FPSO.
Proses offloading hidrokarbon dilakukan dengan suttle tanker yang dihubungkan dengan SSP (sumber: www.sevanmarine.com)
Dalam lambung ajungan FPSO antara lain dilengkapi dengan sistim permesinan, generator listrik, transformator, modul-modul elektrik, sistim pengontrol kebakaran, pompa balas dan pompa muatan. Modul pembangkit listrik menyalurkan tenaga listrik ke sistim permesinan tambahan di anjungan. Sedangkan komponen utama yang terdapat di atas geladak (deck) adalah unit tempat tinggal kru yang dilengkapi dengan ruang kontrol, bengkel kerja, vesel-vesel keselamatan, landasan helikopter, derek-derek, sistim bongkar-muat minyak dan sistim katrol jangkar.
SSP FPSO juga memiliki unit pemroses hidrokarbon yang dipasang di atas geladak. Modul dan spesifikasi dari unit pemroses ini bisa bervariasi yang tergantung pada karakteristik hidrokarbon yang akan diolah, sehingga memungkinkan terdapat modul pemroses minyak, gas dan/atau air. Modul pemroses minyaknya memiliki kapasitas produksi berkisar 10.000 – 200.000 bbls.
Dalam sistim FPSO ini, minyak diangkat dari kepala sumur (wellhead) yang berada di atas reservoir, ke atas anjungan melalui satu atau lebih pipa penyalur (riser). Gas dan air yang terkandung di dalamnya dipisahkan dari minyaknya. Gas yang dihasilkan dapat diproses dalam beberapa cara. Di antaranya bisa di bakar, diinjeksikan kembali ke dalam sumur atau digunakan pada operasi pemrosesan. Air yang akan diinjeksikan kembali ke dalam reservoir atau yang akan dibuang ke laut harus sudah melalui proses pengolahan hingga memenuhi syarat keselamatan lingkungan.
5.Tabel1
Tabel 1. Beberapa ukuran SSP yang sudah dikembangkan saat ini
(sumber: Pareto’s Oil & Offshore Conference, 2006)
Hingga September 2006, telah dikembangkan enam macam disain SSP FPSO berdasarkan kapasitas penyimpanannya (lihat Tabel 1). Dari kapasitas 300.000 bbl untuk SSP 300 FPSO dengan diameter lambung 60 m, hingga kapasitas 2 juta bbl untuk SSP 2000 FPSO. Kapasitas terbesar ini dicapai dengan diameter lambung 106 meter.
Operasi bongkar muatan minyak ke kapal tanker dilakukan melalui dua stasion pada SSP yang masing-masing berjarak 180o antara satu dengan lainnya dan jauh dari unit akomodasi. Stasion ini didisain sebagai tipe gulung (reel type station) yang memiliki alat penggulung selang minyak kecil di sampingnya. Pengujian telah dilakukan di Marintek dengan sebuah model tanker konvensional tanpa dynamic positioning (DP). Dynamic positioning (DP) merupakan suatu sistim penjaga posisi yang digunakan pada unit struktur apung dengan piranti utama berupa alat pendorong (thrusters) yang dioperasikan secara dinamis terkontrol untuk mengimbangi gaya angin, gelombang dan arus. Tujuannya adalah untuk menjaga unit apung agar tetap berada pada posisi yang telah ditentukan.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa gerak yaw tanker relatif kecil karena gerakan SSP dalam arah surge dan sway-nya jauh lebih kecil dibandingkan dengan bangunan apung berbadan-kapal. Kondisi ini akan memperkecil peluang interaksi antara dua buah wahana apung (SSP dan tanker) pada saat berlangsung operasi pemindahan muatan (offloading), sehingga meningkatkan keamanan operasionalnya.
SSP Unit Pengeboran
SSP yang diaplikasikan untuk operasi pengeboran didisain untuk mampu beroperasi di lingkungan yang ganas/ekstrem, misalnya untuk wilayah Laut Utara dengan gelombang operasional besar atau pada saat terjadi gelombang badai.
Pembangunan bagian lambung untuk unit pengeboran pertamanya dilakukan pada musim panas 2006 di galangan Hantong, China. Peralatan unit pembor direncanakan selesai diinstal dan siap untuk operasi pengeboran pada paruh pertama tahun 2009. Demikian juga untuk lambung anjungan SSP produksi keempat, sudah dibuat kontrak pembangunan di tempat yang sama. Kontrak dengan Hantong dijadualkan berlaku hingga akhir 2012, sehingga memungkinkan untuk pembangunan sembilan unit SSP berikutnya, meliputi unit pengeboran maupun unit FPSO.
6.Jenis_SSP

Gambar 3. Salah satu jenis SSP yang diperuntukkan sebagai unit pengeboran
di lingkungan operasi yang ganas (sumber: www.sevanmarine.com).
  • Kapasitas SSP unit Pengeboran:
Dengan kapasitas beban geladak yang besar, SSP unit pengeboran mampu menyimpan hingga 12.500 ft riser, kata manager proyek SSP unit Pengeboran, Bjorn Egil Gustavsen. Selain itu SSP dirancang memiliki kapasitas penampung lumpur dan penyimpan bentonite dan barite dalam volume besar, kapasitas derek pengangkat yg tinggi serta memiliki sistim kompensator gerak. Untuk memberikan station-keeping yang efisien dipakai sistim DP-3 (DP-3 adalah sistim dynamic positioning kelas 3 yang merupakan kelas tertinggi, yang telah teruji kemampuannya untuk lingkungan perairan ganas, misalkan pada pengujian di daerah ekstrim Timur Canada).
Unit SSP ini memiliki kapasitas penyimpanan untuk minyak dan material habis-pakai yang besar dibandingkan dengan drillship atau semisubmersible sehingga mampu meminimalkan aktivitas pemasokan dan fasilitas operasi jarak jauh. Jika diperlukan, SSP ini mampu untuk menampung minyak dalam lambungnya hingga 200.000 bbl.
Kombinasi antara kemampuan gerak yang baik dan kapasitas beban geladak serta kapasitas penyimpanan yang besar, menjadikan SSP sangat cocok untuk operasi pengeboran di perairan yang ganas. Unit driling SSP ini memiliki cadangan stabilitas yang tinggi, artinya peralatan yang lebih berat dapat ditempatkan di posisi yang lebih tinggi dibandingkan pada semisubmersible. Untuk kondisi Laut Utara unit ini mampu beroperasi pada tinggi gelombang signifikan hingga 8m (ekivalen dengan puncak gelombang hingga 14,8m).
  • Ramah lingkungan dengan operasi aman:
Menurut Sevan Marine, disain SSP juga ramah lingkungan dan aman dalam operasionalnya. Hal ini karena telah memenuhi peraturan untuk seluruh wilayah operasi dengan lingkungan sensitif. Sistim pembuangannya adalah jenis tertutup dengan buangan nol dengan dilengkapi sistim manajemen limbah dan menggunakan mesin rendah emisi. Untuk menjamin keamanan operasi dipakai cadangan stabilitas tinggi dan konstruksi lambung dan pondasi ganda. Kapasitas penyimpanan internalnya memungkinkan SSP melakukaan pengujian lanjut terhadap sumur yang diperlukan untuk wilayah operasi dengan lingkungan sensitif seperti di Laut Barents.
Dalam disain digunakan derek dua geladak guna menjamin keamanan operasi pengangkatan, dimana penangangan pipa-pipa dilakukan secara otomatis. Tingkat otomatisasi operasi pengboran juga ditingkatkan hingga pada level tinggi. Terdapat juga sebuah derek tunggal untuk aktivitas-aktivitas offline. Misalnya penanganan drillpipe atau casing dapat dilakukan secara terpisah, sementara operasi pengeboran sedang berlangsung. Derek ini juga dapat memindahkan riser hinggga 11 m menjauh dari pusat pengeboran, sehingga Christmas tree dapat diinstal tanpa mencabut riser. Dengan demikian makin mempersingkat waktu operasi pengeboran.
Bahkan untuk mengantisipasi operasi pengeboran di daerah kutub, disain SSP telah disiapkan untuk musim dingin dan seluruh peralatan yang sensitif dilindungi secara khusus. Konstruksi bajanya dirancang tahan terhadap temperatur hingga -200C, termasuk di Laut Barents.
Penutup
Bahwasanya saat ini Brazil sedang berpacu dengan program swasembada migasnya yang ditargetkan akan tercapai pada tahun 2010. Pada tahun itu diproyeksikan produksi minyaknya mencapai 2,3 MMb/d. Dalam rangka merealisasikan proyek tersebut, Petrobras menggagas 13 proyek utama. Di luar itu, saat ini delapan unit produksi sedang dalam pembangunan. SSP FPSO Piranema adalah menjadi salah satunya. Tujuh anjungan lainnya adalah P-34 (Jubarte), FPSO Cidade de Vitoria (Golfinho module 2), P-52 (Rancodor), P-53 (Marlim Leste), P-51 (Marlim Sul), FPSO Rio de Janeiro (Espadarte) dan P-54 (Rancodor).
Sementara di tahun 2006 ini, unit yang akan segera diinstal dan dioperasikan adalah P-45 di ladang Jubarte (Campos Basin) dengan kapasitas produksi 60 ribu bl/d, SSP-300 di ladang Piranema (di Sergipe) dengan produksi 20 ribu bl/d dan unit Golfinho Fase 1 dengan produksi harian 100 ribu barel yang akan diinstal di ladang Golfinho (Espirito Santo Basin).
Dengan demikian, ladang Piranema Brazil nantinya akan menjadi saksi pembuktian performansi konsep disain SSP, terutama untuk SSP-300 FPSO sebagai produk perdananya, seperti yang telah diklaim oleh pihak disainernya sebagaimana diuraikan di atas. Sekaligus hal ini juga sebagai penantian kita semua atas tekat-kuat Brazil dengan cita-cita besar industri migasnya. Mampukah keduanya terwujud? Yah, kita lihat saja, sembari menanti upaya-upaya besar dan mulia dari PERTAMINA untuk industri migas Indonesia kita tercinta. [@rwp].
Bahan bacaan
  1. “The SSP: A New Class of Hull for the Oil Industry”, Kare Syvertsen, MSc / Sevan Marine AS, Clovis Lopes, Ph.D. / Sevan Marine do Brasil
  2. Sevan Marine Comp., http://www.sevanmarine.com/index.php
  3. Nick Terdre, “Cylindrical drilling platform tailored for deepwater and ultra-harsh environments”, Offshore Magazine, August 2006, www.offshore-mag.com.
  4. Sevan Marine ASA, “Pareto’s Oil & Offshore Conference”, Presentation material, Oslo, September 6, 2006
  5. Wertheim, P.H and Abrantes, D., “2010 target looms: Drive for self-sufficiency pushes action offshore Brazil”, Offshore Magazine, July 2006, www.offshore-mag.com.
Di-copy dari artikel Rudi Walujo Prastianto
Rudi Walujo Prastianto, Staf pengajar Jurusan Teknik Kelautan ITS Surabaya, mahasiswa program doktor Graduate School of Engineering, Department of Marine System Engineering, Osaka Prefecture University – JAPAN, Student member dari Japan Society of Naval Architects and Ocean Engineers (JASNAOE).

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah