Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Rabu, 27 Juli 2011

26 Penyebab Kesesatan di Indonesia (6-Habis)


Haul setahun meninggalnya Gus Dur, di akhir tahun 2010 para tokoh berbagai agama menggelar doa bersama, tahlilan dan yasinan di Gereja GKJW Jombang Jawa Timur. (Doakan Gus Dur, Umat Berbagai Agama Gelar Yasinan & Tahlilan di Gereja, Voa-Islam.com)
***
Penyebab ke-25 telah kita bahas yakni: Media Massa Menyeret Manusia ke Arah Menjauhi Tuhannya.
Peran media massa sangat ampuh dalam menjauhkan manusia dari agamanya, dari Tuhannya. Hampir semua media massa, arahnya tidak mengingatkan adanya kehidupan akherat. Semua hidup ini dicurahkan hanya untuk di dunia ini. Hidup ini untuk dinikmati, bukan merupakan lahan untuk beramal demi mengumpulkan bekal untuk akherat.
Mari kita lanjutkan dengan penyebab ke-26.
26. Banyaknya upacara-upacara bikinan atas nama agama dengan mengerahkan massa atau jama’ah, pakai biaya besar.
Upacara-upacara itu kemudian dianggap sebagai ibadah, hingga orang yang menyumbangnya dianggap akan mendapatkan pahala. Padahal tidak ada contoh ataupun apalagi perintahnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian ketika ada yang mengkritik upacara-upacara itu, baik upacara peringatan kematian yaitu tahlilan ataupun peringatan kelahiran yaitu maulidan (aneh, padahal yang diperingati hari lahirnya itu sudah wafat); apa yang mereka sebut dzikir akbar, dzikir nasional, Indonesia berdzikir, istighotsah kubro, istighotsah nasional, taubat nasional dan sebagainya, maka mereka ramai-ramai mencari-cari dalilnya untuk menguatkan apa yang mereka lakukan.
Di saat-saat tertentu, upacara bikinan semacam ini bisa jadi modal, misalnya untuk kampanye pilkada (pemilihan kepala daerah) gubernuran, kabupaten, bahkan tingkat desa yang disebut pilkades (pemilihan kepala desa). Lalu dikampanyekanlah suara-suara kepada pihak yang dianggap lawan, bahwa kalau calon si lawan itu menang maka kita tidak boleh lagi tahlilan, maulidan dan sebagainya.
Dibuatlah slogan untuk menguatkan acara bid’ah itu. Misalnya dilontarkan, kata-kata GAM (Gerakan Anti Maulid). Diteriakkanlah dalam pidato-pidato, misalnya dengan ucapan: “Hati-hati wahai saudara-saudaraku, kemungkinan ada di sekitar kita, GAM (Gerakan Anti Maulid) itu!”
Lalu pihak lawan yang merasa dikecam itu, karena dalam menjagokan calon gubernur juga, maka berupaya “mencuci diri”, agar tidak kehilangan massa. Maka mereka mengadakan acara yang sama, dan mengundang pula tokoh-tokoh yang telah biasa mengadakan upacara-upacara bikinan itu. Hingga terangkatlah apa yang sebenarnya bid’ah itu justru menjadi bahan dagangan yang laris. Astaghfirullaah…
Ini yang jadi korban adalah da’wah yang benar, ramai-ramai mereka pecundangi, dalam kepentingan yang sebenarnya mereka sendiri saling bertentangan, namun dalam melawan da’wah sunnah, baik disadari maupun tidak, mereka maju bersama. Itu terjadi di Jakarta, tahun 2007M/ 1428H.
Pengadaan berbagai upacara atas nama agama padahal tidak diajarkan oleh Islam itu mereka atasnamakan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pengakuan mereka itu sebenarnya sudah terbantah oleh ayat:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(31)
“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-‘Imran [3] : 31)
Terbukti apa yang mereka ada-adakan seperti upacara kematian yakni tahlilan, peringatan kelahiran yakni maulidan dan sebagainya itu sama sekali tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga acara-acara bikinan seperti tersebut di atas, sama sekali tidak pula dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, tabi’in dan tabi’it tabi’ien serta para imam madzhab yang empat serta yang mengikuti manhaj (pola pemahaman)nya yang sebenar.
Di samping tidak mencontoh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, masih ada kerugian lain lagi yang tidak menguntungkan pula bagi mereka kecuali orang-orang yang mendapatkan keuntungan sementara. Sering terjadi setelah mereka menyelenggarakan acara-acara bikinan itu kemudian ada saja orang yang tiba-tiba tidak pernah nongol (tampak) ke masjid. Ada gesekan yang sampai di bawa-bawa ke hati, hingga berseteru. Entah karena konsumsi, duit, atau apa yang berkaitan dengan kepanitiaan atau rangkaiannya, kemudian ada yang merasa tersinggung, maka terjadilah perseteruan.
Masjid yang tidak punya salah apa-apa ikut dijauhi. Kadang bisa berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai setahun atau lebih dan berkepanjangan. Padahal, sesama muslim tidak boleh saling memunggungi lebih dari 3 hari. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وعن أنس - رضي الله عنه - قَالَ : قَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - : (( لا تَقَاطَعُوا ، وَلاَ تَدَابَرُوا ، وَلاَ تَبَاغَضُوا ، وَلاَ تَحَاسَدُوا ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إخْوَاناً ، وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَث )) . متفق عَلَيْهِ .
Riwayat dari Anas ra, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kamu sekalian saling memutuskan hubungan , jangan saling membelakangi, jangan saling marah, jangan saling dengki, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah secara bersaudara; dan tidak halal bagi seorang muslim untuk menghajr (memboikot tidak mau bicara dan bersalam) terhadap saudaranya (sesama Muslim tanpa uzur syar’i) lebih dari tiga malam (tiga hari). (Muttafaq ‘alaih—HR. Bukhari dan Muslim)
( وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ )
Dari Abi Ayub radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak halal bagi seorang muslim untuk menghajr (memboikot tidak mau bicara dan bersalam) terhadap saudaranya (sesama Muslim tanpa uzur syar’i) lebih dari tiga malam (tiga hari)., keduanya saling bertemu lalu satu sama lain saling berpaling, dan yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai dengan salam. (Muttafaq ‘alaih—HR. Bukhari dan Muslim)
Demikianlah ketika Islam didakwahkan bukan secara ajaran Islam yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walau mereka anggap sebagai dakwah dan syi’ar, namun ada dampak-dampak jeleknya, di samping tidak sesuainya dengan Islam itu sendiri yang telah mesti. Namun ketika hal ini sudah menjadi komoditi, dagangan, maka tentu saja dibela-bela sampai dicari-carikan dalil untuk mengabsahkannya. Dan satu strip lagi tinggal melangkah ke upacara yang lebih tinggi lagi, yaitu:
Bagaimana pula kalau yang jadi bahan komoditi itu di suatu daerah justru upacara kemusyrikan seperti larung laut, sesaji untuk syetan laut, upacara penyembelihan tumbal untuk syetan dan sebagainya?
Ternyata pemimpin uapacara dan do’anya juga tampak di dalam foto, kadang berpeci bahkan bersorban. Demikianlah, kalau sudah berani mencemplung ke bid’ah, maka langkah selanjutnya ada yang sangat rawan, bila sampai masuk ke kemusyrikan. Itulah puncak perusakan Islam. Dan itulah kemunkaran yang tertinggi. Masih juga dibela-bela? Tentu saja ya, bila itu sudah dirasa mendatangkan hasil dunia. Inilah yang amat sangat berbahaya, wahai saudara-saduaraku!
Masih banyak lagi faktor-faktor lain yang menambah rusaknya umat Islam dan memberi kesempatan tumbuh suburnya aneka kesesatan. Namun contoh-contoh tersebut di atas sudah terasa nyata. Dan barangkali saja akan menjadikan tidak enaknya berbagai pihak yang sebenarnya merasa berjuang namun di sini justru seakan dianggap sebagai perusak. Sehingga tulisan inipun justru kemungkinan dianggap sebagai faktor perusak. Tidak apalah. Yang jelas, kalau kerusakan itu dipertahankan, dan diterus-teruskan, maka sudah ada jalan keluarnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ(54)
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maaidah [5] : 54).
(Selesai, Alhamdulillah)

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah