Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Kamis, 21 Juli 2011

Marwan Hadid dan Estafet Jihad di Suriah

Marwan Hadid lahir di tengah-tengah keluarga yang terhormat dan terkenal di Hama pada 1934. Keluarga ini menonjol dalam kecerdasan berpikir, teguh pendiriannya, murah hati, dan progresif. Anggota keluarga ini mempunyai ciri fisik khusus berbadan tinggi-besar dan memiliki bakat kepemimpinan, meskipun paham dan mazhabnya berbeda-beda. Marwan sendiri adalah sosok pemuda yang tinggi semampai, tubuhnya kuat, rambutnya disisir rapi, kumis dan jenggotnya dipotong rapih, suka memakai hem dan pantalon, pakaiannya rapi dan bersih, sehingga penampilannya menarik perhatian orang.
Marwan menempuh studi di Hama hingga berhasil meraih gelar sarjana sains (B.Sc.) pada tahun 1955. Ia melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Ain Syams pada 1956-1964. Kemudian melanjutkan lagi belajarnya di Jurusan Filsafat, Fakultas Sastra, Universitas Damaskus pada sekitar 1965/1966 hingga 1970.
Sebelum bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, Marwan Hadid pernah menjabat sebagai bendahara organisasi pelajar sosialis di SMA Ibnu Rusyd. Ia pun menceritakan perubahan orientasi pemikirannya sehingga menjadi aktivis Islam:
"Anda sudah tentu memahami, bahwa lingkungan tempat kami hidup di tengah masyarakat dan saudara-saudara, menjadikan saya dengan sendirinya seorang sosialis. Suatu hari, ketika saya masuk ke dalam rumah, saudara tertua saya berkata: ‘Hari ini orang yang paling berbahaya bagi bangsa Arab telah tewas!’ Kemudian ia mema­ki dan mengumpat sepuas-puasnya dengan kata-kata kotor kepada orang tersebut. Saya pun bertanya kepadanya, Siapa dia, Bang?’ Kakak saya menjawab, Hasan Al-Banna, pemimpin Ikhwanul Muslimin di Mesir!
Sejak saat itu saya berusaha mengikuti kabarnya melalui radio dan surat kabar-surat kabar. Saya terdorong keras untuk mengenal pemikiran orang yang dikatakan berbahaya terhadap bangsa Arab itu. Saya membaca risalah-risalahnya, saya berusaha melihat apa yang dapat dilihat dan mendengar apa yang mungkin didengar ten­tang sosok ini. Ternyata ia telah membawa perubahan pada diri saya; dari kebutaan kepada hidayah, dari merelakan diri menjadi pasukan kebatilan, berbalik menjadi prajurit kebenaran."
Sejak saat itu Marwan dikenal di kalangan Al-Ikhwan sebagai seorang pemuda yang paling teguh memegang ajaran Islam dan paling gigih melaksanakan ketentuan syariat-Nya. Rekan-rekannya terheran melihat Marwan banyak mengerjakan shalat dan di­siplin dalam shalat jama'ah. Lama sekali sujudnya, hingga bila ada salah seorang yang agak lama bersujud, ditanya oleh yang lain: "Anda meniru sujudnya Marwan ya?"
Ketika itu Suriah masih dalam suasana bergolak dan porak-poranda oleh berbagai kudeta yang silih berganti. Ia mengamati dengan cermat gerak-gerik semua rezim pemerintah terhadap berbagai harakah islamiah. Saat itu ia melakukan aktivitas dengan rahasia dan berpusat di Masjid Jami' An-Nuri di Hama.
Dalam kegiatannya Marwan mengikutsertakan kawan-kawan yang kelak menjadi pelopor jihad melawan musuh-musuh Islam. Mereka juga ikut bersama Dunia Islam menuntut Presiden Gamal Abdul Nasser membatalkan keputusan hukuman mati yang dijatuhkan kepada enam orang tokoh Ikhwanul Muslimin kala itu. Pelaksanaan hukuman tersebut menimbulkan perasaan benci dan jijik dalam hati Marwan kepada Gamal Abdul Nasser. Meskipun sedang melanjutkan kuliah di Ain Syams, Mesir, ia tidak segan-segan menyatakan sikap antipatinya terhadap presiden yang waktu itu dipuja-puja sebagai pemimpin dan pahlawan bangsa Arab. Padahal hakikatnya ia adalah jagal bangsa Mesir yang berkhianat dengan menyerahkan Sinai kepada Israel tanpa perang.
Ketika kuliah di Mesir ia berdakwah kepada teman-teman sekuliahnya. Ia menganjurkan supaya rekan-rekannya hanya takut kepada Allah semata. Akhirnya terbinalah pemuda dan mahasiswa Mesir yang lebih siap syahid dalam perjalanan meraih ridha-Nya. Dia pun menga­jarkan caranya menerkam dan memberikan pukulan mematikan lewat berbagai latihan ilmu bela diri.
Pada awal Maret 1964 Marwan kembali dari Mesir setelah meraih ijazah sarjana dari Fakultas Pertanian, Univcrsitas Ain Syams. Pada tahun sebelumnya terjadi kudeta yang berhasil mengantarkan Partai Ba'ats ke tampuk kekuasaan di Syiria. Dengan cepat Marwan Hadid menyadari bahaya yang tersembunyi di balik pengaruh partai kufur ini, lalu ia mulai memperingatkan kawan-kawannya akan bahaya yang mungkin akan mengancam mereka dan Islam. Ternyata para pemuda yang dibinanya juga cepat me­nangkap niat dan rencana busuk rezim Ba’ats maka menyalalah semangat juang  para aktivis untuk membendung mereka.
Kobaran semangat keimanan suatu saat pasti akan berbenturan dengan kekafiran, karena perbedaannya jelas dan jalannya bertentangan. Maka terjadilah peristiwa pengepungan aparat terhadap basis para aktivis di Masjid Jami' As-Sulthan pada 14 April 1964 itu. Marwan dan para ikhwan pun ditangkap. Sesudah keluar dari penjara, Marwan Hadid aktif kembali seperti biasa. Akibatnya, ia ditangkap lagi oleh Pemerintah Suriah pada tahun 1966 dan baru dilepaskan sesudah Perang Arab-Israel pada 5 Juni 1967.
Rupanya Marwan Hadid sudah sampai pada kesimpulan bahwa tiada jalan bagi kaum muslimin  selain melawan kekerasan dengan kekerasan. Sejak tahun 1974 mulailah ia menyiapkan para pemuda Islam untuk berjihad melawan rezim Nushairiyah. Marwan dan kawan-kawannya mendorong para pemuda Islam lainnya untuk menyiapkan diri mengadakan perang gerilya; tidak hanya mengadakan latihan bela diri dan menggunakan senjata saja.
Sebenarnya banyak saudara-saudaranya dari anggota Al-Ikhwan yang kurang sependapat dengan gagasan Marwan. Namun, berkat ketekunannya yang luar biasa, Marwan dapat membuktikan kepada mereka bahwa ia telah banyak melepaskan kader-kader yang insyaallah mampu untuk mengadakan perlawanan bersenjata. Maka, mulailah mereka menyusun cikal bakal pasukan mujahidin di Suriah.
Pemerintah bukan tidak tahu atau menga­baikan kegiatan berbahaya Marwan dan kawan-kawannya. Pengawasan dan pemantauan dijalankan terus di mana dan kapanpun kegiatan mereka dilakukan. Namun, hal itu tak menyurutkan Marwan karena ia lain daripada yang lain. Ia sudah menazar­kan nyawa dan hidupnya karena ia berprinsip: "Kematian dalam taat kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam maksiat kepada-Nya."
Kata-katanya selalu berkisar pada soal sabar dan tabah dalam menghadapi musuh. Ia melukiskan ketabahan orang-orang zaman dahulu, meskipun salah seorang dari mereka digergaji dari atas kepalanya dengan gergaji besi, yang membelah tubuhnya menjadi dua, namun mereka tidak surut dan berhenti membela agamanya. Ia selalu meyakinkan kawan-kawannya bahwa kemenangan insyaallah sudah dekat. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa kemenangan itu selalu menyertai keimanan dan kesabaran. Selalu mawas diri, mematuhi pemimpin, mempererat ukhuwah, dan mem­persenjatai jamaah dengan segala sesuatu yang mungkin, demi mencapai kemenangan atau syahadah sesuai dengan spirit: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggup." (Al-Anfal: 60).
Marwan tidak menyembunyikan dirinya dan memimpin kawan­-kawannya dari belakang layar. Keyakinannya tegas, metodenya jelas, dan gerakannya dalam menghadapi pihak penguasa beralasan. Para pemuda tertarik pada sosok kepemimpinan Marwan Hadid yang tampil berdakwah dengan kemuliaan akhlaknya; karena keluhuran budinya, karena kemurahan dan rendah hatinya, suka berkelakar, kata-katanya sejajar dengan perbuatannya, serta simpatik dan berwibawa.
Pihak penguasa sering sekali merencanakan akan membunuhnya, yaitu pada peristiwa 1964 dan tahun 1966, namun selalu gagal karena ajalnya memang belum juga tiba. Mereka juga akan menangkapnya pada awal Maret 1973 di rumahnya yang terletak di kampung Barudiyah. Namun, Marwan melakukan gerakan bawah tanah selama itu sembari mempersiapkan kader-kader umat untuk menghadapi rezim Ba’ats dengan kekuatan senjata. Ia tinggal di Damaskus lebih dari 2,5 tahun; berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Pemerintah berusaha keras mengetahui tempatnya dan menangkapnya hidup atau mati. Terutama sesudah Direktur Badan Keamanan Nasional, Mayor Muhammad Ghirrah ditemukan terbunuh di Hama.
Pada pagi hari 30 Juni 1975 terjadilah kontak senjata dengan pasukan pemerintah dari pukul 7.00 hingga pukul 17.00. Pihak pemerintah menggunakan berbagai senjata modern. Setelah pihak AI-Ikhwan kehabisan amunisi dan Marwan terkena tembak pada pundaknya barulah mereka berhasil menangkapnya. Setelah itu Marwan tidak pernah dihadapkan ke pengadilan, baik terbuka maupun tertutup. Ia pun dijadikan mangsa pasukan intelijen yang memiliki spesialisasi dalam hal penyiksaan mental dan fisik.
Marwan Hadid yang dikenal berbadan tinggi, padat , dan kuat disiksa terus-menerus. Makanan dan minumannya tidak tertelan. Tangan dan kakinya diborgol, meskipun di dalam sel. Kepada salah seorang sipir ia berkata, "Sampaikan­lah kepada orang-orang bahwa anjing-anjing (para intel) itu tidak berhasil memaksa saya berbicara; sepatahpun tidak!"
Sesudah kesehatannya menurun dengan drastis sehingga pihak intelijen putus asa, untuk menutupi kejahatan mereka, Marwan dibawa ke rumah sakit. Pihak intelijen membujuk saudaranya Ahmad agar mau menyuruhnya makan dan minum. Saudaranya pun datang membujuknya, namun Marwan tetap menolak karena makanan yang disuguhkan kepadanya terdiri dari makanan yang diolesi kotoran orang dan minumannya dicampur dengan air kencing.
Sete­lah saudaranya memaksa, akhirnya Marwan pun mau menerima nasihatnya dengan syarat. Ucapnya, “Abang Ahmad, saya mau makan dan minum dengan dua syarat; air yang akan saya minum air dari Hama dan Abang berjanji kepada saya akan mengerjakan shalat!” Saudaranya menjawab tegas, “Ya, aku berjanji akan melakukannya!”
Sejak hari itu mulailah kesehatan Marwan Hadid pulih kembali. Namun pada suatu sore, tiba-tiba ia dinyatakan meninggal dunia. Keluarganya pun meminta agar Marwan dimakamkan di Hama. Namun, pihak keamanan memaksakan kehendaknya untuk menguburkannya di Damaskus, dengan pengawalan militer dan intelijen yang ketat. Setelah dikebumikan, kuburannya tetap dijaga keras; tidak diperkenankan untuk diziarahi! Demikianlah, Marwan meraih cita-citanya; hidup terhormat dan syahid (insyaallah).
Marwan Hadid sudah gugur, namun ia telah meninggalkan keteladanan dan kepahlawanan pada rekan-rekan seperjuangan dan mujahidin generasi berikutnya. Terbukti, Dr. Abdullah Azzam sering menyinggung sosok Marwan dalam tulisan dan ceramah beliau. Madrasah jihadnya juga melahirkan tokoh-tokoh jihad kontemporer setelah era 11 September; yang paling terkenal di antaranya ialah Abu Bashir Ath-Tharthusi dan Abu Mush’ab As-Suri. Rujukan: At-Tajribah Al-Jihadiyyah fi Suriya, Umar Abdul Hakim; dan Ikhwanul Muslimin Dibantai Suriah, Jabir Rizq.

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah