Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Kamis, 21 Juli 2011

Evaluasi Pergerakan Syaikh Ahmad bin Irfan



Syaikh Ahmad bin Irfan melihat kondisi kaum muslimin yang mengalami kemerosotan di Jazirah Anak Benua (India). Hal ini mempengaruhi setiap rongga tubuh dan denyut jantung sehingga mempengaruhi juga semua perasaan dan pancaindranya. Bergejolaklah guncangan dan kesedihan dalam jiwaserta menimbulkan dorongan untuk hijrah kepada Allah dan menyalakan api jihad.
Prinsip gerakan Ahmad bin Irfan tercermin dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada para ulama, syaikh, dan para amir India. Ia menjelaskan sasaran akhir dari perang melawan musuh-musuh Allah:
"Sungguh, Al1ah telah menjadi Wali orang yang lemah ini dahulu, agar menyeru manusia untuk mengikuti syariat dan memerintahkan kebaikan siang dan malam. Kemudian AIIah menganugerahkan nikmat dengan memasukkan saya ke dalam kelompok muhajirin dan shadiqin dengan mengikuti sejumlah hamba-Nya yang mukmin dan mukhlis, karena dakwah kepada agama Al1ah dan amar makruf itu tidak sempurna tanpa jihad di medan perang. AIIah Yang Mahasuci telah memerintahkan kepada imam para pembawa petunjuk dan penghulu para dai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar me­merangi kaum kafirin, sehingga unggul1ah agama Al1ah dan syariat-Nya mengatasi semua agama dan syariat lain." (Ahmad bin Irfan, Said Al-Adhawi, hlm. 45)
Jadi, secara garis besar prinsip-prinsip gerakan Ahmad bin Irfan terhimpun dalam dua hal:
Pertama: Menyeru kepada tauhid murni/bersih dari semua bentuk syirik dan khurafat, menuju pelaksanaan syariat Allah Ta'ala.
Kedua: Menyeru kepada jihad di jalan Allah dalam rangka merealisasikan seruan kepada Allah dan amar makruf nahi munkar di bawah naungan suatu pemerintahan yang menghidupkan tatanan keamiran (imarah) dan keimaman (imamah).
Untuk keperluan itu disusunlah suatu jamaah besar dengan tarbiyah yang intensif, baik aspek keagamaan maupun aspek perang, sehingga beliau mampu mendirikan Daulah Islamiyah Salafiyah sekalipun tidak berumur panjang. Standarnya adalah suatu jamaah yang tertib. Anggotanya harus bersih dari segala macam bentuk syirik dan bid'ah. Ikhlas dalam berdakwah. Siap memikul di pundaknya tugas memerangi musuh dan mem­bangun daulah islamiyah mencontoh daulah islamiyah pertama.
Jika kita mengunjungi jamaah Ahmad bin Irfan, akan tampak tangan-tangan yang sedang berwudhu, dahi-dahi yang sedang bersujud, serta mata yang menangis karena takut kepada Allah. Mungkin akan terbayang di benak kita bahwa kita sedang berada di hadapan jama’atul muslimin pertama. Sebagian yang menarik perhatian dari dakwah dan jamaah beliau adalah perpaduan antara jihad dan melawan nafsu, antara cinta dan benci karena Allah, antara zuhud dan ibadah, antara keteguhan beragama dengan kebanggaan sebagai muslim, antara pedang dengan mushaf Al-Qur'an, antara rasio dan rasa, antara tasbih dalam masjid dengan tahajud pada kegela­pan malam, antara takbir di medan jihad—di atas punggung kuda—dengan dakwah kepada agama yang hanif, antara pelurusan akidah dan tarbiyah islamiyah yang sahih dengan pelaksanaan syariat Islam secara benar, antara syariat dan hukum pidana Allah dengan mendirikan pemerintahan menurut sistem Khilafah Rasyidah, serta antara pembentukan masyarakat Islam yang saling menyempurnakan dengan pengamalan perintah-Nya untuk berjihad.
“Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu) maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah: 193). (Lihat: AI-Imam alladzi Lam Yuwaffa Haqquhu, Abul Hasan An-­Nadawi, hlm. 33, dan Ahmad bin Irfan Asy-Syahid, Ali Ath- Thanthawi, hlm. 34)
Mereka memerangi syirik dengan segala bentuknya, me­madamkan bid'ah-khurafat, menghidupkan sunnah dan mem­bantah para “syaikh”; orang-orang mengaku suci dan bodoh yang mempergunakan dalil dan hujah dari tradisi-tradisi khurafat dan adat-istiadat jahiliyah. Tabah menghadapi kaum Sufi yang mengada-­adakan bid'ah, mengajak untuk mengikuti contoh generasi Salaf Shalih, serta menjelaskan kepada umat pengertian yang benar tentang zuhud, syafaat, kewalian, syirik, dan lain-lain pemahaman Islam, yang kebanyakan kaum muslimin salah memahaminya.
Di samping itu mereka memerangi kaum kuffar dan orang-orang sesat. Berhadapan dengan Inggris dalam berbagai peperangan, menimpakan bencana perang kepada kaum Hindu, sehingga dapat merangkai benih-benih daulah islamiyah. Sesungguhnya, bagi umat Islam di Anak Benua, munculnya daulah ini meru­pakan pelindung dari perpecahan yang mengancam dan penja­ga dari ujian syirik yang mengepung dan kesesa­tan yang mengintip, serta benteng dari bahaya yang mungkin datang sewaktu-waktu.
Pemerintahan ini berlangsung selama empat tahun. Kemudian kabilah­-kabilah Afghan yang jahil menimbulkan fitnah dengan me­mukulkan pedang ke tengkuk kaum yang beriman. Syaikh Ahmad bin Irfan syahid—insyaallah—di Palakot ketika dalam perjalanan menuju Kashmir. Daulah Islamiyah pun padam selagi masih dalam masa persemaian. Namun, pengaruhnya tidak padam, dengan izin Allah.

Pengaruh dan Penilaian terhadap Gerakan
Pengaruh gerakan Syaikh Ahmad bin Irfan cukup luas. Seandainya bekas peninggalan yang terlihat hanya dari perbaikan akidah manusia, penetapan mazhab Salaf Shalih, serta penolakan terhadap bid’ah dan penganutnya, kiranya itu cukup menjadi kebanggaan dan kebesaran. Padahal bukan hanya itu, pengaruhnya yang besar adalah upaya menghidupkan rukun Islam dan jihad fi sabilillah, menghidupkan sistem imarah dan jamaah dalam Islam, menghidupkan pelaksanaan haji bagi muslimin India, mendorong para bujangan dan orang-orang yang telah kelewat usia untuk menikah, dan ribuan orang yang bertobat dari perbuatan dosa, syirik, dan bid' ah.
Kita tidak boleh melupakan pengaruh besar itu hanya karena buah yang diharapkan--yaitu tamkin (kekuasaan) yang mapan atau berdirinya Khilafah Rasyidah—tidak berlangsung lama. Sisi positif dapat diambil dari niat dan ijtihadnya dalam beramal, karena penilaian pun menurut niat dan ikhtiar amalnya, bukan pada hasil usahanya. Adapun hasil adalah atas izin Allah.
“Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3)
            Tidak diragukan bahwa gerakan Syaikh Ahmad bin Irfan telah mencapai sukses besar dalam menjelaskan masalah tauhid dan membersihkan praktik ibadah dari noda-noda bid'ah dan kemungkaran. Mengembalikan mereka kepada kejernihan dan kesucian, mengembalikan manusia kepada tauhid setelah sebelumnya mempersekutukan Allah dan berdoa kepada para syaikh, nabi, imam, wali, malaikat, syuhada, dan jin. Inilah jalan kaum Salaf Shalih. Prioritas seperti ini mengingat bahwa di India berkembang luas tarekat sufiyah yang penuh bid'ah. Bahkan, Ahmad bin Irfan memulai ke­hidupannya bersama kaum sufi, kemudian berubah pikiran setlah memperoleh pencerahan.
Gerakan dakwah ini telah mengikat diri dengan Al-Kitab dan As-Sun­nah dengan ikatan yang kuat terpercaya. Setelah merasa sukses menegakkan perintah-perintah Allah di kalangan mereka, pengikut gerakan ini mencoba untuk mewu­judkan gambaran sempurna dari keadaan kaum  muslimin pada zaman kejayaan Islam yang pertama. Citra masyarakat Islam pada zaman kejayaannya menjadi teladan tertinggi. Mereka pun memulai menepati janji mereka kepada Allah sehingga manusia pun mencontoh mereka. Masyarakat pun mulai berbaiat kepada Imam Ahmad bin Irfan dan berbondong-bondong mengikuti dakwahnya.
Syaikh Ahmad bin Irfan telah memahami kenyataan jahiliyah yang mengelilinginya. Dengan demikian, ia memahami bagaimana cara untuk bergerak; dari mana memulai dan bagaimana menyelesaikannya. juga me­nelaah kondisi kaum muslimin di luar anak benua India terutama dalam perjalanan ibadah haji beliau, yang dalam perjalanan itu Ahmad bin Irfan menimba ide jihad dan pemumian tauhid dari gerakan salafiyah; gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Strategi konfrontasi gerakan Ahmad bin Irfan terhadap musuh-musuhnya terang-terangan. Sayangnya, hasil perang melawan mereka cukup pahit. Gerakan ini dipukul dari belakang oleh klan kabilah-kabilah Afghan yang jahil. Para syaikh mereka yang jahat berhasil dikipas-kipasi oleh kaum penjajah dengan siasat dan tipu daya sehingga membangkang terhadap pemerintahan Islam yang baru tumbuh dan berkembang.
Menurut Dr. Hafizh Al-Ja’bari dari Universitas Ummul Qura, Mekkah, gerakan ini sebenarnya telah menyempumakan selu­ruh syarat yang seyogianya dipenuhi oleh gerakan Islam, yaitu sistem gerakan yang mantap. Gerakan ini juga memiliki kemandirian sehingga membatasi hubungananya dengan kekuatan-kekuatan yang mengelilinginya serta menjaga batas-batas hubungan itu berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah.
Yang jelas, gerakan ini telah berjihad dalam masa yang panjang dan melahirkan banyak syuhada. Tetapi, ­kekuatan yang mengepung mereka—pada faktanya—lebih besar dan lebih kuat secara fisik. Meski tamkin tak lama diraih, kemenangan maknawi berupa konsistensi di atas dakwah salafiyah dan pelaksanaan jihad fi sabilillah menjadi harga mati. Puncaknya adalah kesyahidan—insyaallah—Syaikh Ahmad bin Irfan sendiri, yang disusul kemudian oleh sahabatnya Syaikh Ismail Ad-Dahlawi beserta kaum muslimin pilihan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah