Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Kamis, 21 Juli 2011

MUJAHID, Harapan Dan Beratnya Ujian


Dalam suatu peperangan, RasululLah shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa yang ingin melihat salah seorang di antara penghuni neraka, hendaklah dia memperhatikan orang ini!" Sabda beliau itu mengagetkan para sahabat yang ada di sekeliling beliau. Kekagetan itu dikarenakan orang yang ditunjuk oleh Nabi itu ada di barisan muslimin, bukan di shof musyrikin. Keterkejutan para sahabat itu menarik perhatian salah seorang di antara mereka untuk memperhatikan kiprah orang yang ditunjuk Nabi itu dan melihat kesudahannya.
Orang itu bertempur penuh keberanian mengobrak-abrik barisan musyrikin, sehingga orang-orang musyrik berkonsentrasi untuk menghentikan pergerakannya dan menghabisinya. Hujaman dan tikaman dari berbagai arah dengan beragam jenis senjata menghentikan langkahnya, dengan luka yang parah namun belum mati. Tak tahan merasakan sakit, orang itu meraih pedangnya dan menghujamkan ke tengah dadanya sehingga tembus diantara kedua pundaknya. Sahabat yang sejak sebelumnya memang mengamati kiprah orang tersebut menemui Rasulullah seraya bersaksi, "Saya bersaksi bahwa sungguh Anda utusan Allah". Nabi bertanya, "Ada apa [kamu bersaksi bahwa aku utusan Allah]?". Sahabat itu menjelaskan bahwa apa yang Rasulullah katakan tentang orang yang dikatakan bahwa dia termasuk ahli neraka itu benar adanya.
Kisah ini dikeluarkan oleh Imam Ath-Thabarani di dalam Mu'jam al-Kabiir. Beliau mengetengahkan kisah di atas dikaitkan dengan hadits shahih:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ
Hanyasanya 'amal-'amal itu tergantung penutupnya. [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Ibnu Hibban dengan sanad shahih].
Benar! Hadits dalam bingkai kisah di zaman Nabi tersebut sungguh merupakan pesan berkesan yang sangat dalam. Bukan suatu kebetulan jika Nabi kita shallallaahu 'alaihi wa aalihi wa sallam menempatkan tarbiyah-nya kepada umat beliau dalam masalah ini dikaitkan dengan peperangan. Hal ini mengandung isyarat lembut agar para pendamba jannah, meskipun telah berada di ma'rokah [medan pertempuran], di mana jarak antara dirinya dengan amal jihad yang dikerjakannya dengan jannah tinggal sehasta, tetap harus waspada. Tidak boleh over estimasi bahwa dirinya pasti akan masuk jannah sampai memastikan akhir kesudahan 'amalnya dengan baik.
Juga, bahwa salah satu sebab paling besar yang dapat menggagalkan jannah yang tinggal sehasta jaraknya itu adalah kurangnya kesabaran menahan rasa sakit yang diderita sebagai konsekuensi logis pilihan jalan yang diambil fie sabiilillaah. Padahal musibah di jalan Allah yang dirasakannya merupakan musibah ikhtiyari [pilihan sengaja] yang sudah tergambar kelelahan, kesulitan dan penderitaannya sejak sebelum dia melaluinya. Justru karena hal itu merupakan musibah yang dipilih secara sengaja, maka nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan musibah yang diterimanya secara ijbariy [mau tak mau harus diterima, bukan atas pilihannya] seperti tertabrak kendaraan dan semisalnya.

Motivasi yang Membangkitkan.

Penggambaran jannah dengan segala kenikmatannya di akherat nanti bagi mereka yang syahid fie sabiilillaah, kadang-kadang membuat para perindu jannah menganggap enteng persyaratan-persyaratannya, beratnya kualitas ujian dan panjang [lama]nya waktu. Cara memandang yang kurang komprehensif  terhadap suatu masalah,kurang memperhatikan persoalan dari seluruh sisi, terbatasnya pengalaman, sering kali menjadikan seseorang menganggap sederhana perkara yang dihadapi. Memang, jika dibandingkan jannah dengan kenikmatannya dalam keabadiannya, ujian kelelahan, kesakitan dan penderitaan dunia di jalan Allah, bak gigitan semut kecil.
Permisalan itu tidak salah. Tetapi, satuan waktu dunia yang tengah kita lewati dalam kesulitan, kelelahan dan penderitaan, tetap terasa panjang dirasakan oleh hawa nafsu. Sebab, keyakinan iman di dalam kalbu manusia betapapun harus diuji, dapatkah menundukkan kecenderungan hawa nafsu yang tidak pernah menyukai kesulitan dan penderitaan, selalu menyeru, mengajak dan menarik dirinya untuk mengambil pilihan yang mudah, enak dan menyenangkan.
Hanya ketika hawa nafsu tersebut dapat ditundukkan untuk menunda kesenangan sampai nanti di akherat dan bersedia menahan pahitnya ujian kesulitan di dunia, kesabaran itu akan hadir. Terlebih, iblis dan kabilahnya memang menjadikan hawa nafsu yang punya kecenderungan jelek itu sebagai pintu masuk untuk mempengaruhi hawa nafsu agar tidak bersedia menunda kesenangan itu sampai nanti.
Realitas membuktikan, adanya mujahid yang dapat dibeli oleh musuhnya sehingga berubah posisi menjadi 'predator' bagi mujahid yang lain? Wa al-'iyaadzu billaah. Bukankah itu kenyataan? Argumentasi apa yang dapat digunakan untuk membenarkan pilihan itu? Mukroh [dibawah paksaan]? Atau kesulitan hidup? Atau sakit hati kepada pimpinan dan teman sejawat? Atau pahala akherat belum kelihatan sedang [sodoran] kemapanan dunia lebih kongkrit? Sikap yang terentang dari mulai 'pasif', berhenti dari aktivitas perjuangan, hingga 'aktif', ambil bagian membantu musuh menjadi 'hama' perjuangan. Meskipun getir, harus diakui bahwa perjuangan menghasilkan produk sampingan seperti itu.

Jurang antara Idealisme dengan Realitas dijembatani oleh Tarbiyah.

Bukankah Rasulullah telah mengingatkan bahwa ketika seseorang membaca [mendengar] keterangan mengenai janji-janji Allah kepada orang mu'min berupa jannah dengan segala kenikmatannya, luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya [bahkan yang berbuat maksiyat sekalipun] dia merasa [pasti] akan diampuni oleh Allah segala dosa-dosanya sehingga seolah pasti masuk jannah? Sebaliknya jika dia membaca [mendengar] ancaman Allah kepada hamba-Nya yang kufur atau berbuat maksiyat berupa kemurkaan dan siksa dengan segala kepedihannya, dia merasa tidak mungkin lepas dari kemurkaan dan adzab-Nya sehingga seolah pasti masuk neraka?
Begitu pula dalam menyikapi tasyji' [dorongan, motivasi] kepada hamba yang beriman berupa janji-janji pahala yang besar, jannah dengan segala kenikmatannya, makanan dan minumannya, huurun 'ien dengan kecantikannya, keridhoan Allah dan menatap wajah-Nya di jannah. Terlebih kepada mereka yang gugur syahid di jalan-Nya, banyak lagi keutamaan yang lain.
Selayaknya, siapapun yang membaca berita gembira itu, harus pula secara seimbang mengkonsumsi informasi mengenai besarnya murka Allah bagi siapapun yang menjadi pengkhianat perjuangan, sadar bahwa lari dari perjuangan menegakkan dien-Nya, membocorkan rahasia mujahidin kepada musuh, apalagi berbalik menjadi penolong musuh-Nya termasuk kabaair [dosa besar] yang merusak pahala dan menghancurkan kedudukan di sisi Allah, mengganti keridloan dengan kemurkaan-Nya. Mengerti bahwa membiarkan dirinya berbelok motivasi dari mencari keridloan Allah mencari keuntungan duniawi akan menjadikan dirinya terlempar dari orbit fie sabiilillaah, sehingga sejatinya dia menipu diri dengan mengatasnamakan perjuangan.
Selain itu juga mentarbiyah keimanan dan hawa nafsunya dengan iltizam kepada syari'at, berhias dengan akhlaq karimah, menghidupkan sunnah, menambahi dengan ibadah nafilah sehingga layak dicintai oleh Allah. Sadar bahwa dirinya tidak dapat memenangkan Islam dan meninggikan 'izzah ummat sendirian, atau bersama kelompoknya saja, tetapi mesti mengikutkan peran serta dan bersama umat. Yakin dengan pilihan jalan perjuangan yang ditempuhnya, tetapi tidak menganggap hanya kelompoknya saja yang berjuang. Selalu tersedia ruang di dalam hati dan pikirannya adanya kemungkinan komunitas pejuang lain yang lebih baik, lebih berakhlaq dan lebih berpengalaman. Diri dan keluarganya selalu berusaha untuk menjadi hamba Allah yang bersegera memenuhi panggilan untuk merealisir syari'at-Nya.

Kepemimpinan dalam Dien diraih dengan Yakin dan Shabar

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa kepeloporan di dalam dien Islam akan diraih tatkala seorang mukmin memiliki sifat sabar dan yakin. Sifat sabar, yang dimaksud oleh beliau adalah sabar menundukkan hawa nafsu sehingga mau mengikuti tuntunan syari'at.
Sebelum seorang hamba dihiasi dengan sikap sabar, maka terlebih dahulu sifat yakin telah menghiasi dirinya. Yakni yakin terhadap apa yang diturunkan oleh Allah melalui rasul-Nya. Yakin merupakan buah dari pencarian ilmu nafi' yang tidak kenal lelah disertai dengan pengamalannya, sedang sabar merupakan buah dari tarbiyah untuk menundukkan dan mengendalikan nafsu sehingga seorang hamba bersih dan menjaga diri dari motivasi duniawi dalam beramal dan hanya mencari keridloan-Nya semata. Pendapat beliau, juga murid beliau Ibnul-Qoyyim dilandaskan kepada firmannya :
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُواْ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ [السجدة: 24]
Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang membimbing manusia dengan perintah Kami tatkala mereka bersabar dan adalah mereka terhadap ayat-ayat Kami mereka yakin.
Pribadi yang seimbang dan matang. Seimbang dalam menempatkan dirinya antara janji dan ancaman-Nya, antara pengertiannya terhadap kewajiban syar'iy dengan kelengkapan ilmu waqi'iy agar perintah syar'iy tersebut dapat di-implementasikan, antara keberanian dan perhitungan, antara hasungannya ketika memotivasi orang lain dan kesungguhannya memulai dari dirinya sendiri, dll. Mengerti kapan menahan diri dari melakukan suatu tindakan dan kapan saat harus melakukan, di mana dia harus melakukannya dan seberapa kadarnya.
Pribadi mukmin mujahid yang seperti deskripsi di atas yang insya Allah mampu menapaki jarak tingginya harapan meraih kemuliaan mendapatkan jannah dan keridhoan Allah dengan dengan kesulitan riil yang jelas-jelas menghadang. Kesulitan dan masyaqqoh yang sekalipun pendek jika diukur dengan satuan waktu akherat, tetapi kenyataannya telah menjungkalkan tidak sedikit orang yang sebelumnya dianggap sebagai pioner-pioner mujahid. Kesulitan dan penderitaan singkat dan ringan [sekali lagi jika diukur dengan satuan waktu akherat] yang sebagian orang menukarnya dengan kemudahan dan fasilitas hidup 'aajil [yang disegerakan] melalui tanga-tangan musuh-Nya. 


0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah