Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Selasa, 19 Juli 2011

Ketahuilah Rukun Iman


Rukun Iman
وَاْلإِيْمَانُ هُوَ اْلإِيْمَانُ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ وَحُلْوِهِ وَمُرِّهِ مِنَ اللهِ تَعَالَى
(74) Iman adalah iman kepada Allah SWT, para malaikat Allah, kitab-kitab Allah, para rasul Allah, hari akhir, dan takdir; yang baik, yang buruk, yang manis, dan yang pahit, semua dari Allah SWT
Dengan matan ini Abu Ja’far ath-Thahawi menegaskan, akidah Ahlussunnah wal Jamaah tentang iman adalah bahwa iman dibangun di atas enam rukun. Keenam rukun iman itu disebut oleh Rasulullah SAW saat beliau ditanya oleh malaikat Jibril AS yang datang serupa lelaki berbaju putih menemui beliau dan para sahabat. Kabar kedatangan Jibril itu diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
“… Jibril bertanya, ‘Kabarkan kepadaku, apakah iman itu?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Iman itu hendaknya kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang  buruk.’ ‘Benar,’ kata Jibril.”
Kedudukan Rukun
Rukun berarti pilar atau asas. Ketika seseorang ingin membangun rumah, bagian pertama yang mesti diperhatikannya adalah pilar atau asas bakal rumahnya. Sebaik dan seindah apa pun bagian-bagian rumahnya yang lain, apabila pilar dan asas rumahnya keropos, umur rumahnya tak akan lama. Demikian pula halnya dengan bangunan keimanan seseorang. Jika si pemilik bangunan tidak mempedulikan pilarnya, dapat dikatakan bangunan imannya berada di tepi jurang kesirnaan.
Dari sini, kontinyu mengoreksi dan berkala mengevaluasi pilar iman menjadi suatu kelaziman bagi setiap orang yang mengaku beriman dan ingin diselamatkan oleh Allah SWT di akhirat kelak.
Cakupan Iman kepada Allah
Beriman kepada Allah SWT maknanya meyakini eksistensi Allah SWT, membenarkan semua kabar yang ada di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah mengenai rububiyah dan uluhiyah-Nya, serta menetapkan semua nama-nama indah dan sifat-sifat-Nya yang tersebut di dalam keduanya. Menetapkan semua nama dan sifat itu sebagaimana ditetapkan oleh Rasulullah SAW. dan para Salaf; tidak mentakwil, tidak menganggapnya serupa dengan makhluk, dan tidak membahas atau membicarakan kaifiyatnya.
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-A’raf: 54)
“Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman! Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asmaul Husna.’.” (QS. Al-Isra`: 110)
Malaikat Bukti Kuasa Allah
Beriman kepada malaikat yakni meyakini bahwa para malaikat adalah makhluk Allah SWT, bukan anak perempuan Allah. Allah SWT menciptakan mereka dari cahaya. Allah SWT menciptakan mereka sebagai hamba yang selalu tunduk dan patuh kepada perintah-Nya. Allah menciptakan mereka bukan karena tidak kuasa mengatur alam raya sendiri. Sebaliknya, menciptakan makhluk yang tunduk kepada-Nya dan menaati segala perintah-Nya menunjukkan betapa tanpa batas kuasa-Nya.
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (QS. Fathir: 1)
“Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabb-mu tidaklah merasa enggan beribadah kepada Allah, mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya mereka bersujud.” (QS. Al-A’raf:206)
Hujjah Allah Kemurahan Allah
Agar manusia dapat menjalani hidup di dunia dengan aman-damai dan diliputi berbagai kemaslahatan serta jauh dari berbagai kelaliman, kesewenang-wenangan, dan marabahaya, Allah SWT menurunkan kitab suci untuk mereka. Kitab suci yang menjadi pertanda kasih sayang-Nya kepada manusia.
Beriman kepada kitab-kitab Allah SWT berarti mempercayai bahwa Taurat, Zabur, Injil, al-Qur`an, berbagai kitab yang namanya tidak disampaikan kepada kita dan semua shuhuf—di antaranya diberikan kepada nabi Ibrahim AS —berisikan kalam Allah yang mesti dan sudah disampaikan oleh para Nabi kepada umat masing-masing. Kecuali Nabi Muhammad SAW. yang kitabnya diberlakukan oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia sejak beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Al-Qur`an me-nasakh, menghapus kitab-kitab yang sebelumnya.
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.” (QS. an-Nisa: 136)
“Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqon (al-Qur`an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. al-Furqan: 1)
Satu Tauhid Beragam Syariat
Beriman kepada para rasul artinya percaya bahwa tidak ada satu umat pun yang dibiarkan oleh Allah SWT tanpa diutusnya seorang rasul yang memberi penjelasan tentang kewajiban mentauhidkan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya serta memberi peringatan akan adanya hari akhir, hari pembalasan segala amal. Tauhid yang diajarkan para rasul satu. Hanya, tata cara mentauhidkan Allah SWT dan beribadah kepada-Nya berbeda-beda antara satu umat dengan umat yang lain.
Termasuk Iman kepada Rasul, beriman bahwa mereka telah menyampaikan dan menjelaskan semua yang diamanahkan oleh Allah SWT untuk mereka sampaikan. Penjelasan yang terperinci yang tidak membuka kemungkinan bodohnya umat yang mereka beri kabar gembira dan peringatan, sehingga—tidak bisa tidak—haram bagi mereka menyelisihinya.
“Sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka (ada) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. al-Mukmin: 78)
“Tidak ada kewajiban atas para rasul selain menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. an-Nahl: 35)
Tujuan Akhir Jaminan Keadilan
Terkadang di dunia ini seseorang hidup dalam keadaan terzhalimi sampai mati. Dengan memiliki iman kepada hari akhir, ia tetap dapat menjalani kehidupan yang perih-pedih dengan dada lapang. Sebab, ia dapat menaruh asa dan harapannya terhadap balasan atas kesabarannya di kehidupan berikutnya, kehidupan yang sejati.
“Mereka selalu mengatakan, ‘Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah/tulang belulang, kami benar-benar akan dibangkitkan? Apakah bapak-bapak kami terdahulu (akan dibangkitkan pula)?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan kemudian benar-benar akan dikumpulkan pada waktu tertentu pada hari yang telah dikenal.’.” (QS. al-Waqi’ah: 47-50)
Para ulama menyatakan bahwa iman kepada hari akhir meliputi empat perkara:
a.       Iman kepada kematian, bahwa semua makhluk yang diberi kehidupan oleh Allah SWT akan merasakannya dan masing-masing telah tertulis ajalnya. Ajal yang tak dapat diajukan atau diundurkan.
b.      Iman kepada apa yang terjadi di alam kubur, pertanyaan malaikat, serta percaya kepada adzab dan nikmat kubur.
c.       Iman kepada hari Kiamat dan tanda-tandanya; baik yang besar seperti datangnya Dajjal, turunnya nabi Isa AS, terbitnya matahari dari arah tenggelamnya, atau yang kecil seperti munculnya banyak nabi palsu, pasar yang dipenuhi perempuan, dan tanda-tanda lain yang disebut oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih.
d.      Iman kepada berbagai hal dan peristiwa yang mengikuti kejadian hari Kiamat seperti ditiupnya shur (sangkakala), hari kebangkitan, hasyr (peristiwa dikumpulkannya semua manusia di satu tempat), hisab, mizan, shirath (titian di atas neraka), surga, neraka, telaga kautsar, dan syafaat.
Hidup Nikmat Bersama takdir
Beriman kepada takdir artinya percaya dan yakin bahwa semua peristiwa dan segala yang ada di dunia ini terjadi dengan kehendak Allah SWT. Tidak ada sesuatu pun yang keliru sehingga jatuh tidak pada tempatnya. Seseorang yang mendapatkan musibah adalah seseorang yang memang dikehendaki oleh Allah SWT untuk mendapatkannya. Bahkan jika setelah mendapatkan musibah itu ia mendapatkan musibah lagi. Allah SWT sama sekali tidak keliru. Demikian pula halnya dengan orang yang mendapatkan berbagai kenikmatan.
Musibah atau pun kenikmatan, sejatinya kita telah diajari bagaimana menyikapinya. Bersabar dan bersyukur. Yang pasti, saat kita diuji oleh Allah SWT dengan salah satu dari keduanya, Allah SWT sudah menakar bahwa kita mampu menghadapinya sesuai dengan aturan dan syariat-Nya.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (al-Baqarah: 286)
Ketetraman dan kesejahteraan batin kita dalam menjalani hidup di dunia ini berbanding lurus dengan iman kita kepada takdir.
Wallahu a’lam.

Bagaimana menurut anada???

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah