Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Kamis, 21 Juli 2011

Damaskus Adalah Kota Ribath Dunia Islam



Damaskus, bagi kaum muslimin, terutama yang peduli terhadap sejarah Islam, tentu tak asing lagi. Sejak Khalid bin Walid, Abu Ubaidah bin Jarrah dan sahabat lainnya masuk kawasan Syam, maka berubahlah tanah kelahiran para nabi itu menjadi negeri Islam.
Bahkan, tidak lama sepeninggalan Nabi Muhammad, yakni di zaman Khilafah Bani Umayyah pusat pemerintahan Islam pindah ke sana dari yang sebelumnya di Madinah. Berabad-abad lamanya Damaskus menjadi pusat peradaban dan pemerintahan khilafah Bani Umayyah.
Masjid-masjid dibangun megah. Perpustakaan-perpustakaan sebagai pusat studi dan riset ilmiah didirikan pula. Dari kota ini pula ulama-ulama Islam lahir sebagai pengiring perjalan umat dan mengarahkan perjuangan agama.
Yang membuat kota ini berbeda dengan kota-kota lainnya adalah karena keberadaannya yang di Syam, negeri para rasul dan nabi. Syam yang merupakan nama lama untuk beberapa negara, yaitu Palestina, Yodania, Libanon dan Suriah (Syria) telah tersirat dan tersurat di dalam Quran dan Hadits Nabawi.
Mengenal Negeri Para Nabi
Damaskus dikenal sebagai kota para nabi. Keramahan dan kemurahan penduduk kota Damaskus menambah keberkahan bagi kota ini. Kota empat musim ini selalu membawa keindahan dan kekayaan alam buah-buahan yang silih berganti.
Ulamanya terkenal dengan keilmuan dan ketakwaannya. Mereka mengajar tanpa meminta imbalan, bahkan sebaliknya memberi hadiah bagi yang menghadiri pengajiaan mereka.
Tradisi baik seperti ini masih terjaga sejak zaman keemasan Damaskus lebih dari seribu tahun lalu, saat ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari, Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan beribu-ribu ulama besar lainnya yang pernah menjadikan Damaskus sebagai tempat menimba dan mengajarkan ilmu kepada generasi Islam dari berbagai penjuru dunia. Semua keilmuan Islam diajarkan di kota tertua ini. Sungguh mengagumkan.
Tidak dipungkiri bahwa Damaskus adalah negeri yang bersejarah. Masih nampak dengan jelas berbagai peninggalan sejarah masa lalu. Di antaranya adalah Al-Jami’ Al-Umawi (Masjid Agung Umawi). Terletak di tengah kota Damaskus dan dikelilingi oleh pasar tua, namun bersih dan rapi. Penduduk Damaskus menamakannya Suq Al-Hamidiyyah. Masjid Umawi dijadikan universitas gratis sebagai sarana kaderisasi pemuda Islam.
Al-jami’ Al-Umawi dibangun sejak Abu Ubaidah Ibnul Jarrah menguasai Damaskus dan sekitarnya dengan cara damai. Kemudian masjid ini dipugar dan dibangun kembali dengan megah oleh Khalifah Umayyah, Al-Walid Bin Abdul Malik pada tahun 95 H, atau bertepatan dengan 705 M. Setelah dipugar, masjid ini menjadi masjid termegah dan terbesar pertama dalam sejarah Islam.
Perhatian masyarakat Damaskus terhadap masjid amat besar. Biasanya, masjid dibangun besar-besar, jarak antara satu dengan yang lain tidak terlalu berjauhan, kondisinya bersih, nyaman dan selalu saja ada yang belajar ilmu syar’i di dalamnya, mulai dari metode salaf (talaqqi), sampai dengan konsep belajar modern.
Rasulullah Berbicara Soal Syam
Ibnu Umar berkata, Rasulullah bersabda, “Ya Allah, berkahilah kami dalam negeri Syam dan negeri Yaman.” Sebagian sahabat berkata, “Dan negeri Najd (dalam riwayat lain: Iraq)?” Beliau berkata, “Ya Allah, berkahilah kami dalam negeri Syam dan negeri Yaman.” Sebagian sahabat berkata, “Dan negeri Najd?” Beliau menjawab, “Di sana terdapat gempa, fitnah dan keluarnya tanduk syaitan.” (HR. Bukhari)
Abdullah bin Hawalah Azdy berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kalian akan menjadi pasukan-pasukan perang, satu pasukan di Syam, satu pasukan di Iraq dan satu pasukan di Yaman.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, pilihkan untukku!” Rasulullah menjawab, “Pilihlah Syam, dan barangsiapa yang enggan maka hendaklah ia bergabung dengan dengan Yaman dan meminum dari kolam-kolam air Yaman. Sesungguhnya Allah telah menaungi Syam dan penduduknya.” (HR. Shahih Ibnu Hibban no. 7306)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Muadz bin Jabal dan Hudzaifah bin Yaman tatkala mereka berdua meminta petunjuk kepada Rasul untuk tempat tinggal mereka sesudah wafat Rasulullah. Rasul menyarankan mereka untuk tinggal di Syam karena orang-orang pilihan Allah tinggal di negeri ini. (Lihat Mu'jamul Kabir no. 137)
Markas Tentara Allah
Abu Darda berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sesunguhnya kekuatan Muslimin pada waktu itu di Ghuthah, di samping kota yang bernama Damaskus yang paling terbaik di negeri Syam.” (HR Abu Daud)
Dalam konteks peradaban, dunia Islam—yang terbentang luas dari Maroko hingga Merauke—memiliki pusat di Jazirah Arab. Pusat “hidayah” ada di Najd: sekitar Makkah dan Madinah. Sedangkan, kawasan tsughur dan ribath (tapal batas) berada di Syam. Letaknya yang secara geografis berhimpitan dengan benua Eropa, dengan  otomatis menjadikan kawasan ini sebagai benteng dunia Islam secara keseluruhan dan ancaman bangsa Romawi yang ulet hingga kini.
Maka tidak heran pula jika dalam berbagai hadits, Rasulullah menyatakan, kualitas penduduk Syam melebihi kualitas orang-orang di belahan dunia Islam lainnya, secara umum. Sebab, mereka menjadi tumpuan untuk menahan musuh di kawasan pintu akses yang paling strategis itu.
Memuliakan Muhajir
Kiranya, kelebihan-kelebihan penduduk Syam, tercermin dalam kemurahan hati masyarakat Damaskus pula. Salah satu contohnya, perlakuan mereka terhadap para pengungsi (Muhajirin) Palestina akibat pengusiran Yahudi 1948 M. Di pinggiran kota Damaskus terdapat sebuah kawasan khusus penampungan Muhajirin Palestina yang berjumlah sekitar 600 ribu orang. Namanya Mukhayyam Yarmuk.
Barangkali terbayang, saat mendengar kata Mukhayyam (tempat berkemah) itu adalah kemah-kemah besar yang dijadikan tempat tinggal Muhajirin Palestina tersebut. Namun, tak ada satupun kemah di sana. Yang terlihat adalah komplek pertokoan bertingkat (ruko) besar dengan bangunan modern. Di situlah Muhajirin Palestina tinggal sejak tahun 1948, 1967 dan terus saja mengalir sampai saat ini. Bahkan beberapa tokoh besar Hamas pun diberikan kemudahan dan perlindungan tinggal di sana, seperti Khalid Misy’al.
Demikianlah Damaskus, sebagai bagian dari Syam. Semoga benteng dunia Islam ini semoga tetap tegak dan semakin kokoh seperti dahulu di masa keemasan Bani Umayyah

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah