Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Kamis, 21 Juli 2011

Bo-Kaap Melayu di Afrika Selatan


Islam berkembang dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali, ke ujung selatan benua hitam, Afrika. Di negara asal Nelson Mandela ini, terdapat sebuah kawasan dengan panorama indah dan berpenduduk mayoritas muslim. Uniknya lagi, mayoritas mereka ialah keturunan melayu. Bo-Kaap nama kawasan ini.
Bo-Kaap adalah sebuah kawasan berpanorama indah di Cape Town, Afrika Selatan. Dulu kawasan ini disebut sebagai Kawasan Melayu karena banyaknya orang Melayu yang menetap di sini. Bo-Kaap memegang peranan yang cukup signifikan dalam sejarah Melayu Muslim di Cape Town.
Cape Town merupakan rumah bagi hampir setengah juta Muslim yang berasal dari beragam negara di Asia. Sementara di Bo-Kaap sendiri terdapat kurang lebih 6.000 jiwa penduduk yang sembilan puluh persennya ialah muslim. Populasi Muslim di Afrika Selatan mencapai 1,5% dari total 44 juta orang yang mendiami negara Afrika Selatan. Islam masuk ke wilayah yang diberi nama Tanjung Harapan ini di tahun 1652, seiring dengan adanya pengiriman budak dan orang-orang yang diasingkan karena alasan politik pada masa kompeni Belanda (Dutch East Indies Company), yang saat itu melakukan aktivitasnya antara Cape Town, Belanda, dan Indonesia (serta daerah sekitarnya).
Kampung Melayu di semenanjung Afrika
Di Cape Town, di mana kawasan Bo-Kaap terletak, rumah-rumah penduduk bercorak khas, paduan antara gaya Timur dan neoklasik. Jalan-jalannya masih buatan batu asli dari abad ke-17. Ada pula rumah penyembelihan hewan, restoran, dan klinik yang hanya meladeni warga beragama Islam. Permukiman yang unik itu dikenal sebagai Kampung Melayu atau The Malay Quarter. Penduduknya kebanyakan keturunan pendatang dari Indonesia, yang tiba di Benua Afrika 300 tahun silam.
Sepintas, orang tak akan yakin mereka keturunan Melayu. Nama panggilannya memang nama-nama islami khas Melayu, tapi nama keluarganya Barat, akibat peraturan dua abad lalu yang mengharuskan mereka memiliki nama yang mudah diucapkan penjajah Belanda. Lagi pula, mereka tidak berbahasa Melayu, tetapi Inggris dan Afrikaans, sejenis bahasa Belanda. Hanya beberapa kata Melayu saja yang masih terselip dalam bahasa mereka.
Menurut ahli-ahli sejarah, orang Indonesia pertama yang tiba di Afrika Selatan terdiri atas budak-budak atau pekerja paksa yang diangkut ke sana oleh pemerintah Hindia Belanda. Menurut arsip museum di Bo-Kaap, selama periode 1652 sampai 1808 tercatat 4.890 budak yang tiba di Cape Town, di antaranya 1.033 berasal dari Indonesia.
Warga muslim, yang terhitung minoritas di Afrika Selatan, ini memiliki semangat yang tinggi dalam berdakwah. Masjid-masjidnya bagus-bagus. Tempat wudhunya di lengkapi dengan tempat duduk, keran air panas dan air dingin, kemudian juga  jamaah diberi fasilitas handuk khusus untuk muka, handuk untuk tangan dan kertas tissue untuk mengelap kaki setelah berwudhu. Bukan hanya itu, mereka juga selalu menaruh tatakan sabun di sebelah keran air sehingga mempermudah jamaah yang hendak cuci tangan dan kaki. Hampir mayoritas di mana-mana standar masjidnya seperti itu.
Terdapat sebelas masjid di Bo-Kaap. Yang tertua ialah Masjid Auwal yang dibangun pada tahun 1798. Masjid ini sekaligus sebagai simbol pengakuan Islam serta eksistensi muslim di Afrika Selatan. Dari masjid ini pula ajaran madzhab Syafiiyah mulai disebarkan. Seperti halnya mayoritas muslim Indonesia, di Afrika Selatan pun mayoritas warga muslim mempraktikkan Islam sesuai madzhab imam Syafii.
Hal yang menonjol lagi adalah bahwa di tempat ini, walaupun bukan negara muslim, namun kebebasan beragama begitu tinggi. Kaum laki-laki muslim mayoritas mengenakan baju gamis dan memelihara jenggot. Sementara kaum perempuannya, mengenakan abaya dan ada juga yang memakai hijab atau burqa sebagai penutup wajah. Mereka dengan leluasa bekerja dengan pakaian dan atribut seperti itu.
Walau minoritas namun masyarakat muslimnya bisa mengontrol dan memaksa produsen makanan besar untuk memastikan bahwa produk mereka mencantukan label halal yang di keluarkan oleh majelis ulama setempat.
Peran Ulama Indonesia
Berbicara soal Islam Afrika Selatan, tak lepas dari sosok seorang ulama Islam asal Makassar, Syaikh Yusuf Al-Makassari. Pada tahun 1693, beliau  diasingkan oleh Belanda ke Tanjung Harapan (Cape Town). Harapan Belanda untuk menjauhkan pengaruhnya terhadap pejuang-pejuang muslim Nusantara memang terwujud. Namun, keberadaannya di kota pelabuhan itu menjadi jalan bersinarnya Islam di sana.  Kampung tempat pengasingannya dinamai Kampung Makassar.
Nelson Mandela, Bapak Bangsa Afrika Selatan, termasuk orang yang menaruh respek kepada tokoh ini. Ia menyebut Syeikh Yusuf sebagai salah satu pemberi inspirasi dalam perjuangan melawan sistem apartheid di negerinya.
Selain Syaikh Yusuf ada nama ulama Indonesia lain yang juga berpengaruh di Afrika Selatan, yaitu Syaikh Abdullah Kadi Abdussalam. Beliau adalah seorang pangeran kerajaan Tidore, Maluku, yang menjadi tahanan politik VOC. Tahun 1780, beliau diasingkan ke Cape Town.
Di Cape Town, beliau dikenal dengan sebutan Tuan Guru. Gelar ini tak berlebihan. Sebab, selain beliau banyak menulis buku-buku keislaman yang sampai abad-19 menjadi referensi utama bagi muslim Afrika Selatan. Beliau juga pendiri madrasah Islam pertama di kota itu.
Semoga semangat muslim Bo-Kaap dan adanya keterikatan psikologis dengan peran ulama Indonesia di sana, bisa menginspirasi geliat aktivis dakwah di negeri ini.*( berbagai sumber)

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah