Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Kamis, 02 Juni 2011

Para Sahabat Tidak Menghafal Hadits?

 

Selanjutnya, Dr. Harun Nasution menuduh bahwa hadits tidak dihafal pada masa sahabat. Ini adalah tuduhan yang aneh dan menggelikan. Tuduhan ini tidak pantas muncul dari seorang mahasiswa pemula, apalagi dari seorang profesor. Alasannya, dalam logika sederhana, jika tidak ditulis atau tidak dihafal, bagaimana sunnah bisa sampai dari sahabat kepada generasi berikutnya?  
Terdapat banyak bukti bahwa para sahabat r.a. menghafal banyak hadits. Di sini, penulis mengutip beberapa pengakuan sahabat dan tabi'in yang menegaskan bahwa sebelum ditulis, hadits lebih dahulu dihafal. Dalam hal ini, keterangan mereka diposisikan untuk menjawab tuduhan Harun. Para sahabat r.a. sepenuhnya sadar bahwa sunnah adalah bagian tidak terpisahkan dari agama Allah. Seperti telah kami sebutkan, Al-Qur'an menyuruh taat kepada perintah Rasulullah saw. dan menjauhi larangannya, untuk meneladaninya, dan mengikuti sunnahnya. Bahkan, Rasulullah saw. mengancam orang yang meninggalkan dan mengabaikan sunnah dengan dalih bahwa Al-Qur'an sudah memadai.
Sejak awal Rasulullah saw. telah mengungkap adanya kelompok-kelompok tertentu yang bertujuan merobek-robek Islam dengan jalan memisahkan kitabullah dari sunnah. Mereka berasumsi bahwa yang wajib diikuti hanyalah Al-Qur'an dengan mengabaikan sunnah. Rasulullah saw. telah mengetahui kecenderungan ini sejak awal, sehingga beliau merasa perlu memperingatkan agar umatnya tidak terjebak.
Beliau saw. bersabda, "Nanti akan datang suatu masa saat seorang dari kalian sedang duduk di peraduannya, lalu diajukan kepadanya perintah dan laranganku, lalu ia berkata, 'Aku tidak tahu, kami hanya mengikuti apa yang ada dalam kitab Allah saja'." (Al-Hakim, Al-Mustadrak, juz 1, hlm. 108. Ia mengatakan shahih berdasarkan kriteria Bukhari dan Muslim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
Para sahabat itu telah merasakan peran penting sunnah sejak turunnya ayat Qur'an yang bersifat mujmal (umum, membutuhkan perincian), seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Semua kewajiban ini tidak dapat dilaksanakan tanpa penjelasan sunnah. Mereka tidak dapat memahaminya kecuali dengan kembali kepada Rasulullah saw. sebagai penerapan dari firman Allah SWT (yang artinya), "Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (An-Nahl: 44).
Selain itu, beberapa ayat bersifat umum dan mutlak, dan para sahabat tidak tahu teknis pelaksanaannya. Mereka merujuk pada sunnah tentang pengecualian ayat yang bersifat umum atau pembatasan ayat yang bersifat mutlak. Di samping itu, seperti h alnya Al-Qur'an, sunnah juga menetapkan hukum secara independen karena tidak terdapat dalam Al-Qur'an.
Oleh karena itu, para sahabat sangat membutuhkan sunnah. Kebutuhan ini mengharuskan mereka meriwayatkan, menjaga, menghafal, dan mewariskan hadits kepada generasi yang lahir sesudahnya. Mereka serius mengawal sunnah, sejak menerimanya dari Rasulullah saw. hingga menyampaikan kepada generasi berikutnya dengan cara yang shahih dan metode yang benar, tanpa distorsi dan manipulasi dengan cara menambah atau menguranginya. (Rif'at Fauzi, Tautsiq as-Sunnah, hlm. 26).
Oleh karena itu, tuduhan Harun yang menyatakan bahwa hadits tidak dihafal pada masa sahabat adalah tuduhan atau anggapan yang keliru. Ini bisa dilihat dari keterangan-keterangan sebagai beirkut.
Abu Nadhrah, seorang tabi'in, mengisahkan perbincangannya dengan Abu Sa'id. Ia minta Abu Sa'id menuliskan hadits-hadits Rasulullah saw. karena ia tidak mampu menghafal. Abu Sa'id menolak. Alasannya, hafalan adalah alat utama dalam menjaga sunnah Nabi dan jalan paling banyak digunakan para sahabat.
Abu Nadhrah berkata, "Saya berkata kepada Abu Sa'id, 'Tolong tuliskan hadits karena kami tidak bisa menghafal.' Abu Sa'id menjawab, 'Kami tidak menulisnya untuk kalian dan kami tidak menjadikannya sebagai mushaf. Ia menceritakannya dan kami menghafalnya. Pesannya, 'Hafalkanlah dari kami seperti kami menghafalnya dari Nabi'." (Al-Khatib, Taqyid al-Ilm, hlm. 36). Senada dengan hal itu, Abu Musa al-Asy'ari berpesan, "Hafalkanlah dari kami sebagaimana kami menghafal sebelumnya." (Al-Khatib, Taqyid al-Ilm, hlm. 40).
Terdapat banyak keterangan, khususnya tentang sahabat yang terkenal banyak menghafal hadits dan riwayat, seperti Abu Hurairah r.a. Said bin Abu Hasan berkata, "Tidak ada sahabat Nabi saw. yang lebih banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw. selain Abu Hurairah." (Al-Khatib, Taqyid al-Ilm, hlm. 41).
Pola kehidupan sahabat ini diwarisi oleh generasi tabi'in yang datang kemudian. Abu Sofyan menegaskan sikapnya untuk tidak menulis dan mengandalkan hafalan di luar kepala. Ia berkata, "Aku tidak menulis hadits dari Abu Hurairah, tetapi kami menghafalnya." (Al-Khatib, Taqyid al-Ilm, hlm. 47).
Demikianlah, para tabi'in terlatih menghafal hadits dan tidak beralih pada penulisan, kecuali dalam beberapa situasi. Khalid al-Hadza' (141 H) berkata, "Aku tidak menulis sesuatu kecuali sebuah hadits yang panjang. Jika aku telah menghafalnya, aku lalu menghapusnya." (Ar-Ramahurmuzi, Al-Muhaddits al-Fashil baina ar-Rawi wal Wa'i, tahqiq Dr. M. 'Ajjaj al-Khathib, Dar al-Fikr, Dimasyq, cet. pertama, tahun 1391 H/1971 M, hlm. 59). Keterangan senada juga diriwayatkan dari 'Ashim bin Dhamrah.
Imam Adz-Dzahabi meringkas karakteristik ilmiah geenerasi pertama: "Sesungguhnya ilmu sahabat dan tabi'in itu ada dalam hati mereka (dihafal di luar kepala, pen.). Ini adalah gudang penyimpanan ilmu mereka," ungkap Adz-Dzahabi. (Dinukil dari Dr. Yusuf al-'Isy, dalam Taqyid al-Ilm, hlm. 6).
Abu Thalib al-Makki (381 H) menyebutkan, generasi pertama tabi'in tidak suka mencatat hadits. Mereka berkata, "Hafalkanlah seperti kami menghafal." (Abu Thalib Muhammad bin 'Athiyah al-Haritsi al-Makki (387 H) Qut al-Qulub Mathba'ah al-Anwar al-Muhammadiyah, Kairo, tahun 1405 H-1985 M, juz 1, hlm. 351).
Inilah sikap mereka dalam menjaga sunnah. Seperti digambarkan Ibnu Hajar, "Sekelompok sahabat dan tabi'in tidak suka penulisan hadits dan lebih suka bila orang meriwayatkan dari mereka dengan cara menghafal, seperti cara yang dulu mereka gunakan. Namun, ketika perhatian berkurang dan para ulama khawatir hilangnya hadits, mereka lalu menulisnya." (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 1, hlm. 208).
Kalangan yang mengamati bangsa Arab masa jahiliah dan permulaan Islam tahu pasti bahwa mereka memiliki ingatan kuat. Mereka biasa pergi ke suuq al-adab (pasar sastra) dan membacakan syair dalam bentuk qashidah (kumpulan bait syair). Dengan sekali mendengar, mereka langsung menghafalnya.
Dengan kondisi ini, wajar jika Rasulullah saw. menjelaskan karakter umat ini lewat sanadnya, "Injil mereka ada dalam hati mereka. Mereka membacanya dengan lancar." (Abu Nu'aim Ahmad bin Abdillah al-Ashbahani [430 H] Dalail an-Nubuwah, Maktabah an-Nahdhah, Baghdad, tahun 1983 M, hlm. 30-31). Maksudnya, "Seolah-olah lembaran-lembaran buku itu ada dalam hati mereka." (Dr. Abdul al-Muhdi bin 'Abdil Qadir bin 'Abdul Hadi, As-Sunnah an-Nabawiyah: Makanatuha, 'Awamil Baqa'iha, wa Tadwinuha, Daru al-I'tisham, Kairo, cet. pertama, tahun 1409 H, hlm. 73).
Qatadah berkata, "Ketika telingaku mendengar sesuatu, aku langsung menghafalnya." Ibnu Syihab az-Zuhri berkata, "Bila melintas di kawasan Baqi', aku terpaksa menutup telinga. Aku khawatir mendengar kata-kata tidak sopan. Demi Allah, aku tidak pernah melupakan apa yang kudengar." (Ibnu 'Abdil Barr, Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlihi, juz 1, hlm. 83). Di tempat lain Az-Zuhri berkata, "Aku tidak mengulang satu hadits pun. Aku tidak pernah ragu terhadap sebuah hadits kecuali satu hadits saja. Aku lalu bertanya kepada seorang sahabatku dan ia menyebutkan seperti yang kuhafalkan." (Az-Zahabi, Tadzkirah al-Huffazh, juz 1, hlm. 111). Jumlah hadits yang dihafal Az-Zuhri, seperti disebutkan Abu Daud mencapai 2.200 hadits, setengahnya dalam bentuk musnad. Tadzkirah al-Huffazh, juz 1, hlm. 109).
Berbagai keterangan ini menjelaskan bahwa menghafal adalah cara utama dalam menjaga sunnah, baik pada periode sahabat maupun tabi'in. Cara lainnya adalah menulis, seperti yang juga diawali pada masa Nabi saw.
Bukti Perhatian Para Sahabat terhadap Sunnah
Berbagai bukti perhatian para sahabat terhadap sunnah dapat dirinci sebagai berikut.
1. Semangat yang tinggi dalam mendengar hadits. Para sahabat sangat bersemangat menghadiri majelis Rasulullah saw. untuk mendengarkan sabda dan menyaksikan seluruh perbuatannya. Jika sibuk dengan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan hingga tidak bisa hadir, mereka datang bergantian. Targetnya, agar orang yang hadir bisa menyampaikan kepada yang tidak hadir.
2. Mereka tidak pernah jenuh mendengar hadits dari Rasulullah saw. lebih dari satu kali. Bahkan, sebagian sahabat berpendapat bahwa seseorang tidak boleh meriwayatkan hadits kecuali telah mendengarnya lebih dari tiga kali.
Amir bin Abasah berkata, "Seandainya aku tidak mendengarnya dari Rasulullah saw. kecuali satu, dua, atau tiga kali, hingga tujuh kali, selamanya aku tidak akan menceritakannya. Namun, aku mendengarnya lebih dari jumlah itu." (Shahih Muslim, juz 1, hlm. 571. Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Islam 'Amru bin 'Absah, no. hadits 294). Senada dengan itu, Abu Umamah juga berkata, "Kalau aku tidak mendengar dari Nabi saw. kecuali hanya tujuh--Abu Said berkata, 'kecuali tujuh kali'--aku tidak meriwayatkannya." (Musnad Ahmad, juz 5, hlm. 264).
3. Mereka sangat berhati-hati dalam mendengar dan menghafal hadits. Hal ini dalam rangka menjaga kemurnian dan orisinalitas riwayatnya, tanpa distorsi dan penyimpangan sekecil apa pun. Seolah-olah mereka selalu menaruh di depan mata peringatan Rasulullah saw., "Siapa yang berdusta atas namaku, hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka." (Al-Haitsami, Majma' az-Zawa'id, juz 1, hlm. 143 dan rawi-rawinya shahih). Ini adalah hadits mutawatir yang diriwayatkan lebih dari 70 sahabat, seperti disebutkan Imam Suyuthi. (Jalal al-Din 'Abd. al-Rahman bin Abi Bakr al-Suyuthi (849-911 H), Tahdzir al-Khawash min Akadzib al-Qushshos, Tahqiq Muhammad ash-Shabbagh, Al-Maktab al-Islami, Dimasyq, cet. 1, tahun 1392 H, hlm. 8-57).
Khawatir jatuh dalam berbuat dusta terhadap Rasulullah saw., membuat sahabat bersikap ekstra hati-hati dalam mendengar dan menerima hadits. Utsman bin Affan berkata, "Tidak ada yang menghalangiku untuk meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw. kecuali keinginanku untuk menjadi sahabat yang paling berhati-hati meriwayatkan dari beliau. Aku bersaksi bahwa aku mendengar beliau bersabda, 'Siapa yang mengatakan dariku apa yang tidak aku katakan, hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api neraka'." (Musnad Ahmad, juz 1, hlm. 65).
Ali r.a. juga mengungkapkan kekhawatirannya jika mendengar hadits secara tidaka semestinya, atau menghafalnya secara keliru sehingga salah dalam menyampaikan dan mengucapkan berita yang bersumber dari Rasulullah saw., "Soal berita dari Rasulullah, lebih baik aku dilemparkan dari langit daripada mengatakan apa yang tidak beliau katakan," papar Ali bin Abi Thalib r.a. (Shahih Bukhari, juz 2 hlm. 531, Kitab Al-Manaqib, Bab 'Alamat an-Nubuwwah, no. hadits 3611; Kitab Al-Istitabah, Bab Qatl al-Khawarij wa al-Mulhidin Bakda Iqamah al-Hujjah 'alaihim, no. hadits 6930).
Kenyataannya, tidak semua sahabat mendengar sabda dan melihat perbuatan Nabi saw. karena sebagian mereka sibuk dengan urusan pribadi dan kemaslahatan umat, hingga tidak sempat menghadiri majelis Rasulullah saw. Akibatnya, mereka terpaksa mendengar melalui rekannya. Walau demikian, dalam kondisi ini, mereka tetap bersikap ketat bahkan terhadap rekan mereka sendiri. Fakta ini dijelaskan Al-Bara' bin Azib, "Tidak semua hadits kami dengar dari Rasulullah saw. Orang yang menceritakan adalah para sahabat kami sementara kami sibuk memelihara unta. Sementara itu, para sahabat Nabi saw. meminta apa yang tidak langsung mereka dengar dari Rasulullah saw. lalu mereka dengar dari rekannya dan dari orang yang lebih hafal dari mereka. Mereka dikenal ketat terhadap orang yang mereka dengar." (Al-Hakim, Ma'rifah 'Ulum al-Hadits, hlm. 14; Jalal al-Din as-Suyuthi, Miftah al-Jannah fi al-Ihtijaj bi as-Sunnah, Tahqiq Muhibbudin al-Khatib, Al-Maktabah al-Salafiyah, Kairo, cet. pertama, tahun 141, hlm. 21).
Dalam beberapa kondisi, sikap hati-hati ini mengakibatkan para sahabat menyuruh rekannya sendiri bersumpah di hadapan mereka Ali bin Abi Thalib r.a. melakukan hal ini jika ia mendengarkan nya lewat perantara orang lain dan tidak langsung dari Rasulullah saw. (Al-Hakim, Ma'rifah 'Ulum al-Hadits, hlm. 15; Ar-Rahamurmuzi, Al-Muhaddits al-Fashil, hlm. 518).
Ini tidak berarti para sahabat mendustakan orang yang menyampaikan hadits pada mereka. Sama sekali tidak. Tidak ada satu pun bukti bahwa salah seorang sahabat r.a. meragukan kejujuran saudaranya, apalagi menuduhnya berdusta. Yang mereka khawatirkan adalah kesalahan perawi dalam meriwayatkan hadits, sehingga menyampaikan hadits dengan tidak semestinya.
Jika kita memahami sikap hati-hati dan perhatian para sahabat dalam menjaga sunnah, baik dalam hafalan dan periwayatan, kita dapat memahami beberapa sikap yang mereka ambil pada rekan dan saudara mereka sendiri. Misalnya, menyuruh bersumpah, meminta saksi, tawaqquf (berhenti dan tidak mengambil sikap) terhadap sebuah hadits, dan berbagai sikap keras lainnya dalam menerima riwayat. Hal ini didasari oleh beberapa hal sebagai berikut.
1. Rasa bertanggung jawab terhadap sunnah, agar diwariskan generasi berikutnya dengan benar. Hal ini tidak menunjukkan bahwa para sahabat meragukan kejujuran rekan-rekannya, apalagi menuduh mereka berdusta. Pasalnya, mereka adalah sebaik-baik umat yang diperuntukkan bagi manusia. Allah SWT sendiri telah memuji mereka di banyak tempat di dalam Al-Qur'an.
2. Perbedaan pendapat terjadi dalam memahami beberapa hadits dan simpulannya. Hal ini bisa terjadi jika makna sebuah hadits pernah dipraktikkan pada suatu masa dan setelah itu dihapus (naskh). Padahal, perawi hadits ini belum mendengar berita tentang penghapusan, sehingga ia masih terus mengamalkannya. Situasi lain adalah sifat tawaqquf (abstain) sebagian sahabat terhadap hadits yang belum mereka dengar, sampai mereka yakin bahwa hadits itu berasal dari Rasulullah saw. Setelah y akin, mereka tidak ragu menerima dan mengamalkannya, bahkan menyesal karena tidak mendengarnya secara langsung. (Rir'af Fauzi, Al-Madkhal ila Tautsiq as-Sunnah, hlm. 36).
Dalam masalah ini, tidak sedikit peneliti kontemporer yang salah membuat konklusi. Mereka mengira sikap kritis sebagian sahabat dalam menerima beberapa hadits dilatari oleh keraguan mereka terhadap kejujuran dan integritas pembawa berita (perawi). Tampaknya, Harun Nasution berada dalam kelompok ini.
Bersambung ...!

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah