Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Selasa, 14 Juni 2011

Prinsip Islam : Syariat Islam Bukan Khusus untuk Bangsa Arab Saja


Kita bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diutus untuk seluruh alam. Maka siapa yang menyangka bahwa risalah Islam hanya untuk bangsa Arab saja dan bukan untuk bangsa yang lain, seperti dakwaan kelompok Nasrani dahulu dan kelompok Sekular pada zaman sekarang, maka dengan sebab perkataan ini dia telah keluar dari Islam. Alasannya, karena dia menentang nash yang cukup banyak tentang keuniversalan risalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan keberadaannya sebagai utusan Allah untuk alam semesta.
Allah Ta’ala telah menjelaskan keuniversalan risalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk semesta alam dalam firman-Nya,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28)
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)
Allah telah memerintahkan kepada nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam agar memproklamirkan tujuan ini,
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”.” (QS. Al-A’raf: 158)
Siapa yang menyangka bahwa risalah Islam hanya untuk bangsa Arab saja dan bukan untuk bangsa yang lain, seperti dakwaan kelompok Nasrani dahulu dan kelompok Sekular pada zaman sekarang, maka dengan sebab perkataan ini dia telah keluar dari Islam.
Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menguatkan makna ini dalam hadits tentang keistimewaan beliau. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,  
أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْغَنَائِمُ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ
Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada salah seorang nabi sebelumku: Aku ditolong dengan ketakutan (musuh) sebulan perjalanan, bumi dijadikan bagiku sebagai masjid dan suci maka di mana saja seseorang dari umatku mendapatkan waktu shalat hendaknya dia shalat (di situ), dihalalkan ghanimah untukku, nabi sebelumku khusus diutus kepada umatnya saja sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia, dan aku diberi hak syafa’at.” (Muttafaq ‘alaih)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga mengabarkan bahwa tak seorangpun dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang telah mendengar risalahnya lalu dia tidak beriman terhadapnya, kecuali dia menjadi penghuni neraka. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tak seorangpun dari umat ini yang beragama Yahudi dan tidak pula Nasrani yang pernah mendengar tentangku lalu dia mati dan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali dia menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)
  • Ditarjamahkan oleh Badrul Tamam dari kitab Maa Laa Yasa’ al-Muslima Jahluhu, DR. Abdullah Al-Mushlih dan DR. Shalah Shawi.

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah