Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Selasa, 14 Juni 2011

Benarkah Tidak Merayakan Maulid Berarti Tidak Mencintai Nabi Muhammad?


Ikhwati fillah, sebagaimana dimaklumi bahwa sebagian besar kaum muslimin sebentar lagi akan merayakan Maulid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Jika memang riwayat shahih menjelaskan bahwa beliau lahir pada tanggal tersebut, menyambutnya dengan berbagai macam persiapan yang seolah hari tersebut hari raya yang wajib dirayakan dengan melandasinya dengan berbagai dalil sehingga terkesan memang  Maulid harus dirayakan.
Terlepas dari itu semua mereka yang merayakannya melontarkan bermacam tuduhan terhadap yang tidak merayakannya, misalnya dengan mengatakan bahwa yang tidak merayakannya tidak mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta tidak bersyukur kepada Allah Ta’alaa atas nikmat ini. Bahkan mereka menuduh bahwa yang tidak merayakannya menganggap perbuatan tersebut kafir atau musyrik keluar dari ajaran islam.Naudzubillah min dzalika.
Para ulama yang melarang Maulid pada dasarnya tidak pernah menganggap perbuatan ini kufur atau syirik yang mengeluarkan dari Islam, namun merupakan bid’ah yang tertolak, walaupun pelakunya tetaplah muslim.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa dan Maqalat Mutanawwi’ah (2/380) : saya beberapa haru yang lalu telah menulis artikel yang berisi jawaban atas pertanyaan tentang hukum merayakan Maulid, dan saya jelaskan bahwa merayakanya termasuk perbuatan bid’ah yang diada-adakan dalam agama. Artikel tersebut telah disiarkan dalam surat kabar local Saudi dan diradio. Kemudian setelah itu saya mengetahui bahwa radio London menukil dari saya dalam siaran paginya bahwa saya mengatakan merayakan Maulid adalah kufur, maka wajib bagi saya menjelaskan hakikat bagi para pembaca maka saya katakana bahwa yang disampaikan media inggris dalam siaran paginya di London beberapa hari lalu dari saya bahwa saya katakana merayakan Maulid adalah Kufur, adalah dusta yang tidak ada dasar kebenarannya dan setiap yang mentelaah artikel saya mengetahui hal itu dan saya sangat menyayangkan bagi radio international yang dihormati kebanyakan manusia…).
Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi hafidhohullah berkata dalam “ Al-Inshof Fiima Qiila Fil Maulid Minal Ghuluw Wal Ijhaf ( 76): sesungguhnya kebid’ahan semacam ini-yalni bid’ah Maulid Nabi- tidak dikafirkan pelakunya dan tidak juga yang mendatanginya, dan mencap seorang muslim dengan kekafiran dan kesyirikan adalah perkara yang tidak mudah).
Adapun tuduhan bahwa mereka yang tidak merayakannya tidak cinta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah tuduhan yang tidak berdasar, karena secara kenyataannya mereka justru orang yang bersungguh-sungguh mencontoh sunah Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam segala hal, termasuk yang paling rajin menjaga kewajiban agama seperti sholat berjama’ah dan lainnya sesempurna mungkin. Hal ini dapat kita lihat bersama-sama. Karena cinta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak berarti kita merayakan hari kelahirannya, bahka mereka yang tidak merayakannya termasuk orang yang sangat mencintai beliau shallallahu alaihi wasallam lebih dari diri mereka sendiri karena tidak mengerjakan apa yang tidak beliau kerjakan.

قال تعالى : ( قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم )( آل عمران : 31(
Artinya: ( Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) (Ali Imran: 31)
Ayat diatas menunjukkan bahwa kecintaan yang sesungguhnya harus dibuktikan dengan ittiba’ dan mencontoh, bukan membuat hal-hal yang baru.
Mudah-mudahan Allah menampakkan kebenaran bagi kita dan Memberikan kita taufik untuk mengikutinya.
Wallahu A’lam bishowab.
[abu roidah/voa-islam.com]

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah