Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Selasa, 09 Agustus 2011

Ganjilnya Gatra 'Mempertautkan' Al-Muttaqien Jepara


(Klarifikasi Pesantren Al-Muttaqin Jepara untuk Mujib Rahman, Wakil Kepala Pusat Liputan Gatra)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, segala pujian hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wasallam.
Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah, tanggapan dan nasihat kami kepada Redaksi Majalah Gatra dan Saudara Mujib Rahman selaku penulis artikel Gatra edisi 27 Juli 2011 halaman 79 berjudul “Pertautan di Jepara,” telah mendapat tanggapan balik dari Saudara Mujib Rahman.
Nasihat dan koreksi kami kepada Gatra telah dimuat voa-islam.com dalam “Koreksi untuk Majalah Gatra: Al-Muttaqin Jepara Bukan Pesantren Radikal & Teroris,” (http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/08/02/15700/koreksi-untuk-majalah-gatra-almuttaqin-jepara-bukan-pesantren-radikal-teroris) ditanggapi oleh Saudara Mujib Rahman dalam “Jawaban Gatra untuk Al-Muttaqien” (http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/08/02/15706/jawaban-gatra-untuk-almuttaqien) yang juga dimuat voa-islam.com di rubrik yang sama, Citizen Journalism.
Saudara Mujib Rahman, Wakil Kepala Pusat Liputan Gatra  itu menyampaikan beberapa poin terkait keberatan kami terhadap artikelnya yang insinuatif dan menggiring pencitraan buruk bagi Al-Muttaqien tersebut:
1. Tentang tidak tercantumnya komentar dari pihak Pesantren Al-Muttaqien, hal itu bukan karena Gatra tidak berupaya mengakomodir kedua pihak (cover both sides) dalam hal ini. Bisa kami informasikan bahwa saya sendiri datang ke Al-Muttaqien pada tanggal 24 Juli 2011 (bukan 23 Juli sebagaimana terpublikasi sebelumnya), sekitar pukul 11.00 untuk bertemu dengan pengasuh pesantren atau siapapun yang bisa mewakilinya.
2. Akan tetapi, setelah dipersilakan menunggu kira-kira 40 menit, ternyata saya tidak bisa dipertemukan dengan siapapun. Sebelumnya saya meminta bertemu dengan Ustadz Sartono atau Ustadz Hasyim atau orang lain yang bisa memberi keterangan. Setelah keluar dari kompleks pesantren saya berhasil mendapat nomor ponsel Ustadz Hasyim, adik kandung ustadz Sartono Munadi, pendiri pesantren Al-Muttaqien. Tetapi kontak saya melalui ponsel tidak mendapat respon.
3. Bagaimanapun juga kami bersikap sangat terbuka dengan input yang diberikan oleh Al-Muttaqien. Bahkan seyogianya masukan ini disampaikan kepada kantor redaksi kami dan Gatra akan dengan senang hati memuat bantahannya karena itu menjadi hak jawab bagi obyek pemberitaan. Sebagaimana Pesantren Al-Muttaqien, Gatra juga menghormati dan menerapkan profesionalisme dalam liputan sehingga sangat terbuka dengan fakta-fakta baru yang ditemukan.  Atas perhatiannya saya sampaikan terima kasih.
Berikut klarifikasi kami terhadap tanggapan Saudara Mujib Rahman di atas:
1. Dari penelusuran kami terhadap para santri dan ustadz Pesantren Al-Muttaqien, pada tanggal tersebut tidak ada tamu yang mengaku sebagai wartawan Gatra.  Yang ada adalah seorang tamu yang ingin bertemu dengan Ustadz Sartono.
2. Setelah dipersilakan menunggu beberapa saat, karena saat itu para ustadz tengah sibuk mengatur penempatan santri baru, barulah seorang ustadz pondok, yakni Ustadz Irham Muzaki menemui tamu tersebut. Setelah ditanya, tamu tersebut mengaku berasal dari Kalinyamatan –kecamatan sebelah pesantren yang terletak di Kecamatan Kedung– namun tak mengaku sebagai wartawan dari Gatra. Demikian pula ketika ditanya keperluannya, ia hanya menjawab “ada hal penting.”
3. Karena Ustadz Sartono pada saat itu tengah ke luar kota, keinginan tamu tersebut tak dapat dipenuhi. Kemudian ia meminta bertemu dengan Ustadz Hasyim. Ustadz Irham kemudian bertanya, “Apakah sudah ada janji?” Dijawab oleh tamu itu, “Sudah, melalui teman saya.” Ustadz Irham kemudian datang ke rumah Ustadz Hasyim, sekitar 300 meter dari pondok, namun ternyata Ustadz Hasyim juga sedang pergi ke luar rumah.
4. Setelah disampaikan pada tamu tersebut bahwa Ustadz Hasyim, yang katanya sudah janjian, tidak ada di rumah, ia kemudian meminta nomor HP Ustadz Hasyim. Ini agak janggal, mengaku sudah janjian tapi kok belum punya nomor HP-nya, Ustadz Irham memberikan nomor dimaksud. Jadi, nomor HP Ustadz Hasyim DIBERIKAN OLEH USTADZ IRHAM kepada sang tamu.
5. Ternyata, Ustadz Hasyim tidak pernah menerima kontak telepon atau SMS yang mengaku dari wartawan Gatra. Demikian juga pesan dari orang lain yang menjanjikan pertemuan dengan wartawan Gatra.
....tak memperkenalkan diri sebagai wartawan Gatra ataupun menerangkan maksudnya hendak wawancara atau konfirmasi. Suatu hal yang kurang mengindahkan kode etik jurnalistik...
6. Berdasarkan uraian di atas, bukan kami yang tidak merespon upaya wartawan Gatra melainkan Saudara Mujib (kalau betul ia tamu yang sempat ditemui Ustadz Irham) tak memperkenalkan diri sebagai wartawan Gatra ataupun menerangkan maksudnya hendak wawancara atau konfirmasi. Suatu hal yang kurang mengindahkan kode etik jurnalistik. (Pasal 2, Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Penafsirannya antara lain: menunjukkan identitas diri kepada narasumber dan menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya).
7. Tidak berhasilnya Saudara Mujib Rahman menemui salah satu penanggung jawab Pesantren Al-Muttaqien tak menjadi alasan bolehnya ia menulis secara semena-mena tentang kami. Apalagi Saudara Mujib dalam tulisannya sama sekali tak menceritakan upayanya melakukan cover both side, semisal “Gatra sudah mencoba melakukan konfirmasi kepada Al-Muttaqien namun tidak ada yang bersedia memberikan konfirmasi.” Padahal beberapa media elektronik nasional, antara lain Metro TV, SCTV dan detik.com, serta media cetak seperti Jawa Pos dan Suara Merdeka,  pernah mewawancarai kami dan kami terima dengan baik kedatangan mereka untuk meliput.
....Tidak berhasilnya Mujib Rahman menemui salah satu penanggung jawab Pesantren Al-Muttaqien tak menjadi alasan bolehnya ia menulis secara semena-mena tentang kami...
8. Tanggapan atau hak jawab telah kami layangkan melalui e-mail kepada Majalah Gatra (bukti screen shoot terlampir). Mengingat beratnya tuduhan-tuduhan yang ditulis Saudara Mujib dalam artikelnya dan dibacanya hal itu oleh ribuan pembaca, terpaksa kami meluruskan hal itu dengan mengirimkan rilis konfirmasi kepada beberapa media lain. Namun agaknya komunikasi internal Redaksi Gatra tak selancar yang kami kira sehingga Saudara Mujib malah lebih dahulu membaca rilis kami di beberapa media lain daripada hak jawab kami melalui e-mail redaksinya. Sampai saat ini kami masih menunggu dimuatnya hak jawab kami oleh Gatra. Mudah-mudahan saja hak jawab kami layak dimuat di media nasional terkemuka itu.
Demikian tanggapan ini kami sampaikan sebagai klarifikasi atas balasan Saudara Mujib Rahman. Tiada maksud lain kecuali sebagai tadzkirah dan bentuk kasih sayang kami kepada sesama saudara Muslim. Mohon maaf bila ada kesalahan dan kekhilafan dalam tutur kata kami.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah