Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Sabtu, 14 Januari 2012

Seperti Apakah Menjadi Da’iyah ?

Pembaca muslimah, Tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa tugas memperbaiki masyarakat umum di antaranya ada pada pundak wanita, hal ini karena dua sebab :
Sebab pertama: Bahwa jumlah wanita seperti laki-laki, bahkan lebih banyak, sebagaimana ditunjukkan oleh Sunnah Nabawiyah. Walaupun berbeda antara satu negeri dengan yang lain, dan berbeda juga satu zaman ke zaman yang lain. Kadang wanita di suatu negeri lebih banyak dari negeri lain sebagaimana pula kadang di suatu zaman wanita lebih banyak daripada laki-laki. Atas dasar itulah wanita memiliki peran yang besar dalam perbaikan masyarakat.
Sebab kedua: Bahwa pertama kali tumbuhnya generasi berada di bawah asuhan wanita. Dengan demikian, jelaslah pentingnya kewajiban wanita dalam perbaikan masyarakat.
Nah, Untuk mendukung hal tersebut agar berjalan dengan baik, maka anda harus memiliki keahlian atau faktor pendukung dalam melancarkan peranan itu. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
Pertama, Hendaknya anda muslimah yang hendak berperan dalam memperbaiki masyarakat adalah wanita yang shalihah, agar dapat menjadi contoh dan teladan bagi wanita lain. supaya anda dapat mencapai derajat shalihah, maka anda harus memiliki ilmu, yaitu ilmu syar’i yang dapat di pelajari melalui buku-buku atau melalui apa yang didengar dari lisan para ulama.  dapat pula mendengarkan rekaman ceramah-ceramah mereka, dan media kaset ini cukup berperan juga dalam mengarahkan masyarakat menuju perbaikan dan keshalehan.
Kedua, Hendaknya anda mampu berbicara dengan lancar dan mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran anda dengan baik dan benar. Sehingga dapat menyingkap semua makna yang ada dalam hati dan jiwa. Apalagi makna tersebut kadang juga ditemukan dalam diri orang lain, namun kita tidak mampu untuk mengungkapkannya dengan kata-kata atau mungkin mampu mengungkapkannya, akan tetapi kurang jelas dan kurang tepat sehingga perbaikan yang diharap-kan tidak mencapai hasil yang optimal.
Agar anda dapat berbicara dengan lancar dan fasih serta mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran anda secara benar dan jelas, maka hendaknya anda mempunyai pengetahuan bahasa Arab baik nahwu, sharaf dan balaghah. Demikian pula anda harus menguasai bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang di dakwahi.
Ketiga, Hikmah dan sikap bijaksana merupakan anugerah yang diberikan oleh Alloh kepada hambaNya, sebagaimana firman-Nya di Qur’an Surat Al-Baqarah ayat ke 269, artinya:
“Alloh memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”
Betapa sering tujuan tak tercapai, bahkan kesalahpahamanlah yang timbul karena tidak adanya hikmah dan sikap bijaksana dalam berdakwah. Termasuk dalam kategori hikmah dalam berdakwah adalah memposisikan orang yang didakwahi pada posisi yang semestinya. Jika ia seorang jahil, maka ia diperlakukan sesuai keadaannya. Jika ia seorang yang memiliki ilmu, namun pada dirinya ada sikap menyia-nyiakan, meremehkan dan melalaikan maka hendaknya diperlakukan sesuai kondisinya. Begitu pula, jika seorang yang berilmu namun suka bersikap sombong dan menolak kebenaran, maka ada cara tersendiri dalam memperlakukannya.
Di antara contoh penerapan hikmah di dalam dakwah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yakni:
Kasus Orang Badui Kencing di Pojok Masjid
Para sahabat ketika itu meneriakinya dan berkeinginan untuk mencegahnya, namun Rosululloh dengan penuh bijaksana bersabda, ”Jangan kalian putuskan kencingnya!” Maka tatkala orang tersebut selesai dari kencingnya, Nabi menyuruh agar tempat yang terkena air kencing tersebut disiram dengan seember air, lalu memanggil orang Badui tadi dan bersabda kepadanya, “Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk membuang kotoran di dalamnya, namun ia dipersiapkan untuk shalat, membaca Al-Qur’an dan dzikrullah.”
Nabi membiarkan orang Badui tersebut meneruskan kencingnya, sebab jika ia berdiri untuk menghentikan kencingnya maka akan terjadi dua kemungkinan:
Pertama, ia akan berdiri dalam keadaan aurat terbuka untuk menghindari terkenanya air kencing pada pakaiannya dan saat ia berdiri maka air kencing akan meluas. Di samping itu ia akan dilihat oleh orang banyak dalam keadaan auratnya terbuka. Maka pada saat itu akan terjadi dua keburukan baru yaitu melebarnya air kencing dan terbukanya aurat di hadapan orang.
Kedua, ia akan berdiri dengan menutup auratnya, sehingga pakaiannya akan kotor terkena air kencing. Maka untuk menghindari efek tambahan ini, Nabi membiarkannya meneruskan kencing untuk meminimalisir mafsadah.
Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa suatu kemungkaran hendaknya dibiarkan saja sesuai kondisi dan keadaan jika mencegahnya ternyata akan menimbulkan kemungkaran baru yang lebih besar. Inilah salah satu ibrah atau pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini.
Anda hendaknya bisa mendidik anak-anak dengan baik, karena anak-anak adalah harapan di masa depan. sebab Pada awal pertumbuhannya, anak-anak lebih banyak bergaul dengan ibu mereka. Jika sang ibu memiliki akhlak dan perilaku yang baik, maka kelak anak-anak tersebut akan mempunyai andil yang sangat besar di dalam memperbaiki masyarakat.
Oleh karenanya, anda yang memiliki anak-anak harus memperhatikan pendidikan mereka. Seandainya anda sendiri tidak mampu untuk memperbaiki dan mendidik mereka maka hendaknya anda meminta bantuan dari ayah anak-anak tersebut. Jika anak-anak sudah tidak punya ayah, maka bisa meminta bantuan kepada wali mereka, seperti: Saudara, paman, keponakan dan selainnya.
Anda juga tidak boleh menyerah dengan keadaan dan berdiam diri sebab jika demikian maka perubahan dan perbaikan tak akan bisa terlaksana dengan baik.
Ke empat: Giat di dalam Berdakwah
Hendaknya anda giat di dalam meningkatkan  keilmuan kaum muslimin dilingkungan tempat tinggal anda. Hal itu dapat dilakukan di tengah-tengah masyarakat, baik sekolah, universitas ataupun jenjang yang lebih tinggi lagi. Hal itu juga dapat dilakukan disela-sela ziarah atau kunjungan antara sesama wanita dengan menyampaikan beberapa kalimat yang mungkin bermanfaat bagi mereka.
Pendengar muslimah, itulah keempat faktor yang harus dipenuhi ketika muslimah hendak ambil bagian dalam upaya memperbaiki masyarakat yang jauh dari tuntunan agamanya.
Tidak diragukan lagi bahwa peran aktif anda di dalam berdakwah, mengadakan kajian-kajian ilmu syar’i, pengajaran Bahasa Arab khusus bagi wanita merupakan amalan yang bagus dan layak mendapat acungan jempol. Pahala dari ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir, sekalipun anda telah meninggal dunia, sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rosululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam. Kita  memohon kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala , semoga Dia berkenan menjadikan kita semua sebagai da’i yang mendapatkan petunjuk. Da’i yang baik dan senantiasa berusaha memperbaiki orang lain. Dan semoga Dia juga memberikan rahmat-Nya, sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Memberi. Wallohu’alam…..
fajri fm

0 komentar:

Poskan Komentar

Jazakallah