Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Kamis, 27 Oktober 2011

Inilah Kebaikan Madinah, Semoga Kita Bisa Mengunjunginya

 

Banyak peninggalan-peninggalan bersejarah dengan nilai-nilai keimanan tinggi terkumpul di Madinah. Keutamaan dan kemuliaan kota Madinah menghiasi pendengaran dan penglihatan.
Allah 'Azza wa Jalla menjadikan kota Madinah sebaik-baik tempat setelah Makkah Al Mukarramah. Tempat diturunkannya wahyu dan tempat bertemunya antara Muhajirin dan Anshor, dan di dalamnya ditegakkan bendera jihad fi sabilillah dan tersebarnya Al Islam keseluruh penjuru alam. Banyak hadist Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan sisi-sisi keutamaan kota Madinah. Diantaranya adalah:
1. Madinah Sebagai Kota Suci
Madinah oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dijadikan sebagai kota suci. Di sinilah Islam tumbuh, berkembang, dan menyebar luas, sehingga semesta yang pada waktu itu tertutup oleh kegelapan jahiliyah menjadi terang benderang oleh cahaya Islam.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin `Ashim Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ
"Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Makkah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,  
إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ حَرَّمَ مَكَّةَ. وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِيْنَةَ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا. لاَ يُقْطَعُ عِضَاهُهَا وَلاَ  يُصَادُ صَيْدُها
"Sesungguhnya Ibrahim menjadikan Makkah Tanah Suci dan aku menjadikan Madinah Tanah Suci di antara tepinya. Tidak boleh ditebang kayu berdurinya dan tidak boleh diburu binatang buruannya." (HR. Al-Bukhari)
Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menjelaskan batasan-batasan tanah haram di Madinah. Wilayah haram membentang dari Gunung Tsaur (yang merupakan perbatasan sebelah utara) hingga Gunung I'er (yang merupakan perbatasan sebelah selatan). Dan dari Harroh Waqim (yang merupakan perbatasan sebelah timur) hingga Harroh Wabroh (yang merupakan perbatasan sebelah barat).
2. Jaminan Syafaat Bagi Orang yang Menanggung Kesusahan di Madinah dan Meninggal di Dalamnya
Ini merupakan sebuah kehormatan bagi penduduk Madinah atau yang menziarahinya apabila meninggal di dalamnya. Rasullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan umatnya agar menutup usia di Kota tersebut. Beliau bersabda,
Siapa yang mampu menutup usia di Madinah, maka hendaklah dia meninggal di sana, karena aku memberi Safa`at pada orang yang meninggal di sana.”( HR. Tirmizi dan Ahmad)
Diriwayatkan dari Sa'id bin Abu Sa'id dari Abu Sa'id maula Al-Mahri, dia datang kepada Abu Sa'id Al Khudri Radhiyallahu 'Anhu di malam peristiwa Al-Harrah meminta nasehatnya untuk keluar dari Madinah, seraya mengeluhkan harga barang-barang yang tinggi dan ia mempunyai banyak tanggungan. Dia menyampaikan, sudah tidak mampu lagi menanggung cobaan dan kesulitan hidup Madinah. Lalu Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu menjawab, “Celakalah engkau! Aku tidak merestuimu untuk melakukan hal itu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا
"Tidaklah seseorang yang tetap tinggal (di Madinah), bersabar dengan cobaan dan kesukarannya lalu meninggal di sana, melainkan aku akan memberi Safa'at dan menjadi saksinya pada hari kiamat, jika ia seorang muslim.”(HR. Muslim)
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma, ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ صَبَرَ عَلَى لَأْوَائِهَا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Siapa bersabar dengan  kesukaran di Madinah, maka aku akan memberi syafa'at atau menjadi saksi untuknya pada hari Kiamat." (HR. Muslim)
Dalam sabdanya yang lain,
مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْهَدُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا
Siapa di antara kalian yang bisa meninggal di Madinah, hendaklah dia berusaha ke arah itu. Karena sesungguhnya Aku menjadi saksi bagi siapa yang meninggal di sana." (HR. Muslim dari Ibnu Umar)
Amirul Mukminin, Umar bin Khathab Radhiyallahu 'Anhu pernah berkeinginan meninggal di kota Madinah, beliau berdoa,
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Ya Allah, karuniakanlah aku syahid di jalan-Mu dan jadikan kematianku di negeri Rasul-Mu Shallallahu 'Alaihi Wasallam (Madinah)." (HR. Bukhari)
3. Tempat Kembalinya Keimanan
Tidak diragukan lagi, Madinah adalah ibukota pertama umat Islam dan darinya tersebar Islam keseluruh penjuru alam. Dan setiap muslim menyimpan rasa rindu untuk menziarahinya dan karena kecintaannya kepada Rasulullah Shalallahu A'laihi Wasallam.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا
Sesungguhnya keimanan akan kembali ke Madinah seperti kembalinya seekor ular ke dalam lubangnya.”( HR. Bukhari dan Muslim)
4. Bebas dari Thaun dan Dajjal
Salah satu keutamaan kota Madinah lainnya adalah ia dijaga oleh para Malaikat sehingga tha’un—yaitu wabah penyakit menular yang bisa memusnahkan semua penduduk suatu negeri— dan Dajjal tidak bisa memasukinya. Banyak hadits-hadits shahih yang menjelaskan tentangnya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Di pintu-pintu masuk Madinah terdapat para malaikat sehingga wabah tha’un dan Dajjal tidak bisa memasukinya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:  “Tidaklah setiap negri melainkan Dajjal akan menginjakkan kakinya di sana kecuali Makkah dan Madinah. Dan tidaklah setiap pintu masuk kota tersebut melainkan ada para malaikat yang berbaris menjaganya. Lalu Dajjal singgah di Sapha, kemudian Madinah berguncang tiga kali dan melemparkan setiap orang kafir dan munafik dari dalamnya menuju ke tempat Dajjal." (HR. Bukhari  dan Muslim, redaksinya berasal dari Muslim)
5. Madinah Adalah Tempat Yang Penuh Barakah Dan Kebaikan
Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda tentang kota Madinah,
إِنَّهَا طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ وَإِنَّهَا تَنْفِي الْخَبَثَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْفِضَّةِ
"Ia Thaibah, yaiut Madinah. Ia menghilangkan segala keburukan sebagaimana api yang menghilangkan kotoran pada perak." (HR. Muslim)
Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata, "Kami tiba di Madinah ketika kota tersebut dilanda wabah penyakit sehingga Abu Bakar dan Bilal mengeluhkan keadaan itu. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyaksikan keluhan para sahabatnya, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ وَصَحِّحْهَا وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا وَحَوِّلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ
" Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada Madinah sebagaimana Engkau membuat kami mencintai Makkah bahkan lebih besar lagi, bersihkanlah lingkungannya, berkatilah untuk kami dalam setiap sha` serta mudnya (sukatan) dan alihkanlah wabah penyakit (Madinah) ke daerah Juhfah." (HR. Muslim)
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ
"Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Makkah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
6. Memiliki Beberapa Nama yang Mulia
Madinah memiliki nama banyak yang menunjukkan akan kedudukannya yang tinggi. Tetapi hanya ada enam nama yang tersebutkan dalam hadits-hadits shahih, yaitu:
a. Yatsrib, ini adalah nama Madinah di zaman jahiliah. Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menggantinya karena maknanya yang buruk dan melarang menggunakan nama ini setelah Islam.
b. Al-Madinah, merupakan nama yang terkenal setelah hijrah. Telah datang banyak penyebutannya dalam Al Quran dan As Sunnah shahihah.
c. Thobah & Thoibah, kedua nama ini diberikan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
d. Ad Daar wal Iman,  datang penyebutan kedua nama ini dalam Al-Quran Al-Karim pada firman Allah 'Azza wa Jalla,
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ
Dan orang-orang yang telah menempati kota Ad Daar wal Iman(yaitu kota Madinah) sebelum mereka." (QS. 59:9)
Masih banyak hadits-hadits lain yang menjelaskan keutamaan kota Madinah. Semoga ada niat besar dalam diri kita untuk menziarahinya, karena Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إلَّا إلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ ، وَمَسْجِدِي هَذَا ، وَالْمَسْجِدُ الْأَقْصَى
"Janganlah memaksakan bersafar (ke tempat tertentu karena keutamaan tempat tersebut) kecuali untuk pergi ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha." (Muttafaq 'Alaih). Wallahu a’lam bishowaab. Semoga bermanfaat

Ketika Kau Merasa Allah Sangat Dekat Denganmu

 

Sejenak, berdialoglah dengan diri sendiri, batin kita sediri dengan jujur. Jika memang jawabnya adalah "ya, aku sudah terlalu jauh melangkah, dan terlalu berat menyakiti diri sendiri dengan kesalahan yang justru aku menikmatinya". Maka berhentilah, sebelum hatimu semakin mengeras, dan dekatilah sang Maha menyembuhkan dirimu dari luka masa lalu dan sang maha Menghapus semua kesalahanmu.Saat kau merasa Allah sangat dekat dengan hatimu, maka jiwamu pun menghangat. Tidak akan ada lagi celah untuk kebencian, kemarahan atau bahkan hanya sekedar sifat tidak ramah.
Yang tersisa, adalah senyum penuh ketulusan serta sikap yang mendamaikan, bahkan untuk dirimu sendiri. Rasakanlah betapa godaan pahala itu akan selalu mengusikmu untuk selalu meraihnya dan tanpa meluangkan sedetikpun untuk melewatkannya.

Saat kau merasa Allah sangat dekat denganmu, maka tak perlu kau umbar kata untuk sekedar mendapat penilaian benar dari manusia disekelilingmu.Jika kau memang bersalah, keluasan hatimu akan berkata jujur karena kau tahu dengan itu kau akan dicintai Allah. ketika kau telah berlaku baik, namun manusia masih membencimu, maka kau akan merasa tidak perlu lah membalas orang yang memakimu, melainkan batinmu hanya akan sibuk mengkoreksi diri dan memperbaiki kesalahanmu, hanya karena Allah.

Dan sebaliknya, Saat kau merasa Allah sangat dekat denganmu,tidak penting untukmu ketika mereka memuji, melainkan kesadaranmu berkata, bahwa kesemuanya hanya karena rahmat Allah.
Saat kau merasa Allah dekat denganmu, kau tak akan pernah merasa sendiri, walaupun sebuah mata melihat kau sedang sendiri. Lihatlah betapa dirimu begitu akan asyik dengan berdua- duaanmu denganNya, sehingga ketika kau berada dalam keadaan yang Allah tidak ridho kepadamu, dan seketika itu kau akan merasa asing berada didalamnya. Kakimu pun melangkah dan tubuhmu mengikuti kehendak sang raja yaitu hati untuk pergi dan menjauhi wilayah maksiat tersebut.

Saat kau merasa Allah ada bersamamu dan begitu dekat denganmu, entah dari mana, namun ketenangan ajaib merasuki sendi tubuhmu. Sungguh hanya akan dirasakan oleh diri dan hatimu sendiri. Bukan hanya sebagai fantasi dan rasa yan hanya kau rasa, namun sungguh kedamaian itu benar- benar nyata.

Saat kau merasa sangat dekat dengan Allah, seakan semua yang kau butuhkan benar- benar sangat tercukupi. Apakah ada kekurangan yang lebih kurang melainkan sebuah hati yang selalu berteriak tanpa syukur?

Beruntunglah bagi saudara- saudaraku yang merasa sangat dekat dengan Allah. Hati mereka yang tunduk akan dengan selalu mengindahkan hidup dan jalan kehidupan mereka. Allah sang maha pengasih, telah menjadikan batin- batin yang mengakrabinya bagai sebuah pabrik kebahagiaan dan kedamaian yang siap untuk dipersembahkan kepada siapapun yang berada didekat mereka.

Apa kau heran? apa ada yang sedang berkomentar dalam batinmu, dengan kalimat "bagaimana bisa?". Atau bahkan mungkin ada dari bagian dari dirimu yang sedang tertawa, karena membayangkannya pun  akan sangat sulit untukmu?.

Ketahuilah bahkan kau bisa dengan mudah berubah menjadi dirimu yang lain saat kau mengenalNya. Hati yang keras dan beku itu akan dengan seketika merunduk dan melunak, derai tawa lalaimu akan sontak berubah menjadi hujan tangis karena menyadari betapa menggunung catatan dosamu.

Saat kau masih berpikir atau bahkan tertawa, atau tidak perduli sekarang ini, maka kau adalah orang yang paling pantas dikasihani di dunia ini. Lihatlah, bahkan untuk melihat sebuah kedamaian dan keindahanpun kau tak sanggup lagi. Betapa hatimu sudah benar- benar terbolak balik, namun kau tidak merasa.

Ini bukan hanya sekedar cerita sambil lalu saja. Bukan juga sekedar picisan pembunuh waktu yang sesaat bisa menghibur. Kau tak akan pernah tahu sebelum kau sendiri mencobanya, begitu nikmat saudaraku, yaitu saat batinmu begitu sibuk berada dan berdua dengan Allah...
Kau tak akan pernah bisa tahu dan mengerti sebelum kau sendiri mencoba dan merasakanNya...

Hikmah Pengikut Sang Ustadz Lebay

 



Suatu kali, aku akhirnya menyaksikan seorang ustadz di televisi. Seorang ustadz yang begitu berwibawa menurutku, dan jelas lah bagiku yang masih minim ilmu, panggilan seorang ustadz yang disematkan kepadanya adalah dengan kata lain dia telah lulus dalam ketinggian ilmunya tentang agama.Ya, dialah yang aku cari. Muda, sholeh, sukses, berwibawa dan berpengaruh.Hari demi hari aku rajin mencarinya dalam berbagai forum, berharap aku akan bisa mendapatkan ilmu yang lebih dalam darinya.
Tapi...
Entah mengapa, semakin kami mencari, semakin aku terheran kepadanya. Mengapa sang ustadz panutanku ini tidak sering tampak dalam forum pengajian dan malah rajin eksyen di saluran infotaiment.
Sebentar aku buka catatan ingatanku tentang infotainment. Tayangan ghibah yang miris memang, karena menjadi langganan orang- orang untuk melihatnya setiap hari. Lah cilakanya, kok si ustadz ternyata juga menjadi bahan gosip disana? wuh rasanya tidak terima, saat sang ustadz dibicarakan ini dan itu. Keterlaluan.

Tapi...

mengapa sang ustadz justru tertawa- tawa, sedang menikmatikah dia dengan pemberitaan itu, karena akan berimbas pada naiknya pamor beliau sebagai seorang ustadz?. Jiaaah, kenapa ustadz jadi lebay bgono sih? Alisku naik turun dan galau mengisi pikiranku sebagai seorang pengagum dan pengikut sang ustadz.

Hari berikutnya,

Materi pengajian di masjid kecil dekat rumahku seakan susah untuk pergi dari ingatanku. Isinya adalah tentang pergaulan laki- laki dan wanita dalam aturan islam. Ustadz di desaku tersebut menyatakan bahwa dalam islam tidak ada istilah pacaran. Namun, beliau juga menekankan bahwa tidak mungkin seseorang menikah dengan orang yang tidak pernah dia kenal sama sekali.
Maka dari itu dalam islam ada acara ta'aruf. Disana nanti dua orang yang akan menikah diajarkan untuk saling mengetahui tentang kepribadian masing- masing, tapi masih harus ada pihak ketiga diantara mereka.
Ini jelas berbeda dengan yang namanya pacaran. Kalau pacaran, dua orang laki- laki dan perempuan tidak memiliki batas lagi sehingga mudahlah bagi setan untuk menjadi pihak ketiga dalam hubungan mereka. Maka zina adalah hal seterusnya yang tidak akan mungkin bisa dihindari, kecuali dengan pertolongan Allah.

Dan, masih menurut pak ustadz, proses ta'aruf ini lebih baik tidak disiarkan, karena jika akhirnya ternyata Allah menghendaki keduanya belum berjodoh, maka akan terjagalah kehormatan laki- laki dan perempuan yang melakukan proses ta'aruf tersebut, karena dalam perkenalan itu, segala kekurangan dan kelebihan masing masing telah di ungkapkan secara jujur.

Aku pelajari dan ingat baik- baik segala keterangan yang telah disampaikan itu.

Namun, ...
Ketika aku menyaksikan apa yang aku lihat hari ini, hal itu sungguh galau part 2 buat aku. Semua karena yang aku saksikan justru berbanding terbalik dengan yang dilakukan sang ustadz panutanku. Kebetulan beliaunya sekarang adalah juga sedang menghadapi proses taaruf juga.

Trus, mana ini yang benar?. Yah jangan salahkan aku jika bertanya begitu, aku hanya remaja yan masih minim ilmu dan butuh figur. Lalu yang mana yang harus aku contoh?

Hari selanjutnya...

Di sekolah, lagi ramai temen- temen ngomongin soal ustadz idolaku. Tapi kali ini ada hal yang nggak enak yang mampir ditelingaku. Seseorang teman mengatakan " ustadz saja boleh pacaran, yah apalah namanya, ta'aruf atau apa, tapi kan udah berdua-duaan, foto- foto bareng, deket- deketan, malah nonton konser bareng. trus kenapa kita yang jelas- jelas jujur bilang kita pacaran malah di kritik?"

Fiuhh.. aku menyeka keringatku...

Ditempat lain, masih di TKP yang sama, sekolahku, seorang teman lagi mengatakan " Jaman sekarang gaya narsis tuh dah kudu, alias wajib. Nggak narsis nggak gaya dunk. Noh kan ada ustadz yang sering nongol di infotainment. Buat apa coba, buat populer donk.Ya nggak?"

Aku diam dan cuma mikir. Entar dulu, ini yang salah temenku yang asal nerocos nggak pake mikir ato sang ustadz yang emang agak gimana gituh, atau malah aku yang salah ngidolain seseorang.

Walau bagaimanapun bingungnya aku dengan tingkah polah semuanya yang pada aneh, termasuk diri aku sendiri ini, namun aku tidak mau bergabung bersama- sama mereka yang justru menjelekkan islam, hanya berdasarkan seseorang figur yang tengah "lupa".

Yah sudahlah, siapalah aku ini, cuma seorang remaja yang kurang ilmu yang masih mencari jati diri dan panutan yang baek. Aku tidak mau ikut menghakimi kecuali hanya sekedar melihat dan kemudian mengambil ilmu dari kejadian yang terjadi.

Tapi jujur, dalam hati aku berkata, aku punya cita- cita, kalau nih ya, suatu hari Allah mengamanahkan aku buat bisa jadi seorang panutan, ustadz ato apapun lah namanya, aku akan mohon pada Allah supaya tidak dilalaikan dengan sebutan itu dan dikuatkan untuk tetap istiqomah.

Aku juga turut mendoakan semoga sang ustadz idolaku tersebut segera ngerti dan berbenah diri, maklum naluri belajar kami, para remaja sangatlah besar, apalagi dalam hal mencari jati diri.Remaja- remaja seperti aku ini banyak jumlahnya dan memang bener- bener membutuhkan seorang figur yang bener yang bisa menuntun kami, untuk bertindak sesuai dengan aturan Islam yang bener. Semoga...

Jumat, 14 Oktober 2011

Jangan Sembunyikan Ilmu ??



Jama'ah shalat jum'ah yang dimulyakan Allah Ta'ala
Ilmu agama ibarat cahaya yang memancar di malam hingga menerangi alam sekitarnya. Gelapnya malam yang tidak bisa melihat segala sesuatu di sekitarnya akan sirna dengan datangnya cahaya walaupun hanya setitik. Demikianlah kebenaran ketika telah datang, maka yang batil akan sirna. Allah Ta'ala berfirman :
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Dan Katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. [ Qs. Al Isra' : 81 ].
Jama'ah shalat jum'ah yang dimulyakan Allah Ta'ala
Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah adanya para ustadz dan ulama' yang menyembunyikan ilmu agama saat ummat membutuhkan. Saat ummat membutuhkan penjelasan tentang siapa musuh kita dan siapa saudara kita, apa makar musuh terhadap ummat, hakekat tauhid yang diajarkan oleh para nabi dan perkara-perkara penting lainnya, banyak para da'I yang pura-pura tidak tahu atau bahkan bungkam. Banyak diantara mereka yang takut jika menyampaikan kebenaran maka penguasa akan marah kepadanya, banyak orang yang tidak senang kepadanya, dan akhirnya akan membahayakan pekerjaannya sehingga ia takut untuk menyuarakan kebenaran ditengah-tengah ummat.
Kita juga sering mendengar sebuah ungkapan "Sampaikan kebenaran meski itu pahit. Ungkapan ini rasanya sudah teramat sering diungkap para dai di tengah umat ini. Namun praktiknya amat jauh dari “teori”-nya. Betapa banyak dai yang tak berani menyuarakan al-haq karena khawatir kedudukannya di tengah masyarakat terancam, khawatir kehilangan simpatisan, khawatir distop suplai dananya, khawatir “ukhuwah” rusak dan umat lari dari dakwah (partai)-nya, dan dalih lainnya yang dibuat-buat.
Terhadap da'i-da'I yang seperti ini Allah Ta'ala telah mengancam dalam ayat-Nya ;
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, [ QS. Al baqarah : 159 ].
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu hendaklah memberikan ilmunya kepada penuntut ilmu selainnya dan tidak menyembunyikan suatu ilmu pun karena ada larangan keras dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan tersebut.”
Jama'ah shalat jum'ah yang dimulyakan Allah Ta'ala
Allah Ta'ala juga menyebutkan dalam ayat yang lain :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يَشْتَرُونَ الضَّلاَلَةَ وَيُرِيدُونَ أَنْ تَضِلُّوا السَّبِيلَ. وَاللهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ وَكَفَى بِاللهِ وَلِيًّا وَكَفَى بِاللهِ نَصِيرًا

“Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari Al-Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar). Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu).” (An-Nisa`: 44-45)

Peringatan demi peringatan kita lalui di dalam Al-Qur`an agar jangan sekali-kali kita mengikuti langkah dan akhlak mereka. Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Janganlah kalian menyembunyikan pengetahuan yang ada pada kalian tentang Rasul-Ku dan apa yang dibawanya, sementara kalian mengetahui hal itu tertulis di dalam kitab-kitab yang ada di tangan kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/109).
Inilah ancaman yang keras terhadap orang-orang yang menyembunyikan al haq takut akan gaji mereka dan kenikmatan dunia mereka hilang. Takut jika para taghut dan orang-orang yang tidak senang dengan mereka akan mengancamnya dengan penjara dan penyiksaan. Tidak tahukah mereka bahwa jalan untuk dakwah ini dari masa kemasa tidak pernah sepi dari onak dan duri serta hal-hal yang tidak menyenangkan. Tidak tahukah mereka bahwa jalan tersebut adalah jalan para nabi dan ulama' yang lurus sejak dulu ?
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga mengancam dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi sallallahu alaihiwasallam bersabda :
مَا مِنْ رَجُلٍ يَحْفَظُ عِلْماً فَيَكْتُمُهُ إِلاَّ أُتِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامِ مِنَ النَّارِ
Tidaklah seorang muslim mendapatkan ilmu kemudian ia sembunyikannya, kecuali akan diberikan dengannya pada hari kiamat kendali dari kendali api neraka. [ HR. Shahin sunan Ibnu Majah : 210 ].
Ilmu itu memiliki nilai yang harus ia bayar. Dan bayarannya adalah mengamalkan serta menyampaikannya pada manusia tanpa ada pengurangan, sebagaimana dalam sebuah hadist :

مَثَلُ الَذِي يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ ثُمَّ لاَ يُحَدَّثُ بِهِ، كَمَثَلِ الَّذِي يَكْنِزُ الْكَنْزَ ثُمَّ لاَ يُنْفِقُ مِنْهُ
Permisalan seseorang yang mencari ilmu kemudian tidak menyampaikannya seperti seseorang yang mengumpulkan perbendaharaan [ harta ] kemudian tidak diinfaqkan dengannya. [ HR. Tobrini, shohih targhib : 118 ].
Jama'ah shalat jum'ah yang dimulyakan Allah Ta'ala
Walau demikian, seorang da'I juga harus tahu kepada siapa ia berbicara. Jika memang mereka orang-orang yang belum layak menerimanya maka ilmu itu ditahannya sampai pada satu waktu yang tepat sehingga ilmu itu sampai pada mereka.
Demikian khutbah yang kami sampaikan. Semoga kita terjaga dari sifat yang jelek ini dan dibimbing Allah Ta'ala untuk menjadi ulama' robbani yang tetap menyampaikan kebenaran saat jalan kebenaran sepi dari para penyerunya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوً الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khotbah kedua
الحَمْدُ لِلَّهِ الصَلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ , وَ عَلَى أَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَمَنْ وَالَهُ وَ بَعْدُ
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menggambarkan kondisi akhir zaman yang hari ini telah terjadi. Kondisi tersebut membutuhkan peran para ulama' yang lurus untuk membimbing ummat agar selamat dari fitnah tersebut. Beliau bersabda ;
((إِنَّ بَيْنَ يَدَي السَّاعَةِ سِنِيْنَ خَدَّاعَةٌ، يُتَّهَمُ فِيْهَا اْلأَمِيْنُ وَيُؤْتَمَنُ الْخَائِنُ وَيُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ، وَيَتَكَلَّمُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ))، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ‏ وَمَا الرُّوَيْبِضَة‏ُُ؟‏ قَالَ: ((السَّفِيْهُ يَنْطِقُ فِيْ أَمْرِ الْعَامَّةِ))
“Sesungguhnya menjelang hari kiamat akan ada tahun-tahun penuh rekayasa, orang yang terpercaya dicela, sementara pengkhianat justru dipercaya, kala itu, pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, dan akan berbicara para ‘Ruwaibidloh’. Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah Ruwaibidloh itu?” beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan orang banyak.” [ HR. Ahmad ].
man ini adalah zaman yang penuh rekayasa (penipuan) yang digunakan para musuh islam dan ulama' su' untuk menyesatkan ummat islam. Dan bahaya yang besar adalah ketika dusta dan tipuan itu muncul dari para imam agama yang mereka tidak bertakwa kepada Alloh ta'ala, mereka memberikan kesaksian palsu tiap pagi dan sore menyesatkan umat
Yang lebih menambah kedustaan ini adanya lembaga-lembaga yang targetnya adalah membuat kesamaran ummat. Orang terkadang masih menganggap asing ketika kita berbicara mengenai sebagian lembaga yang menisbatkan diri kepada syari’at, fikih dan ilmu telah melakukan peran ini baik mereka sadar atau tidak. Munculnya para ulama su' pada layar-layar televisi dan stasiun-stasium radio untuk memberikan fatwa kepada manusia, sebenarnya target utamanya bukan sekedar penayangan saja. Kalau hanya itu tujuannya, tentu akan tampil juga ulam-ulama yang jujur dalam layar stasiun-stasiun lokal maupun non lokal, juga dalam stasiun-stasiun siaran lokal. Namun target dari lembaga-lembaga ini adalah bahwa mereka memiliki kepentingan di saat-saat kondisi susah dan saat-saat ummat sedang jauh dari Islam.
Dari sinilah kita mengharapkan para ulama' dan da'I yang siap menyampaikan kebenaran lewat ceramah-ceramah, tulisan dan media lainnya. Kita akan lawan berbagai penyesatan yang dilakukan oleh para ulama' su' tersebut dengan segala kemampuan kita. Dan kita yakin bahwa Allah Ta'ala akan memenangkan orang-orang yang beriman.
Semoga kita dibimbing Allah Ta'ala menempuh jalan kebenaran, diistiqamahkan pada jalan tersebut dan diwafatkan di atas jalan kebenaran tersebut. [ Amru ]

Membendung Banjir Syubuhat



 
Para pemikir liberal-sekuler pada level global maupun lokal begitu khawatir terhadap kemungkinan dimasa depan kelompok Islam fundamentalis-radikal menguasai ruang publik, sehingga menjadi rujukan masyarakat. Yang dipersepsi sebagai Islam fundamentalis-radikal, adalah semua kelompok umat Islam yang pro penegakan syari'at, baik yang menggunakan pendekatan kekerasan maupun yang menempuh jalur legal-formal (masih menurut versi mereka).

Perubahan Taktik Serangan

Kelompok itu, kini mereka merubah strategi pergerakannya. Sebelumnya mereka lebih banyak melakukan serangan terhadap struktur pemikiran umat Islam yang telah mapan. Cara ini setelah dievaluasi ternyata kontra produktif karena dianggap memicu reaksi balik umat Islam, menjadikan lebih banyak umat Islam yang ingin tahu, akhirnya justru membuka pintu kesadaran umat terhadap agamanya. Sekarang mereka berganti haluan memasuki birokrasi, mendekat ke lingkar kekuasaan dan menampilkan karya nyata. Dengan itu mereka bermaksud menarik simpati publik untuk kemudian mempengaruhi kebijakan. Diantara mereka ada yang masuk di lingkar kepemimpinan partai yang berkuasa, ada yang menampilkan citra penjaga moral sebagai bapak bangsa anti korupsi, dll.
Perubahan strategi ini lebih membahayakan, sebab gerakannya lebih soft, menarik simpati masyarakat, tidak mengundang kontroversi dan penentangan . Produk kebijakan yang mereka pengaruhi juga lebih efektif merubah keadaan masyarakat.

Serangan Pemikiran Tetap Berlanjut

Di luar itu, mereka masih tetap produktif melansir produk pemikiran yang dipublikasikan melalui dunia maya, journal, maupun buku-buku akademik bernuansa sekuler-liberal yang karena kapasitas intelektual penulisnya menjadi referensi bagi lembaga-lembaga pendidikan tinggi khususnya institusi universitas Islam milik pemerintah.
Apa yang dilakukan oleh komunitas sekuler-liberal ini sama sekali tidak mengubah paradigma dasar pemikiran mereka yang sekuler dan anti syari'at Islam. Yang berubah adalah strategi dan taktik gerakan mereka untuk mengefektifkan serangan supaya lebih efisien memenangi pertarungan, tentu saja pertarungan menghadapi gelombang penegakan syari'at Islam.
Kadang para abna' ash-shohwah al-Islamiyah merasa sesak dada menghadapi para penentang itu. Wajar, karena dhahir-nya mereka orang-orang muslim, tetapi pikiran, sikap dan tingkah lakunya berseberangan dengan Islam dan perjuangan menegakkan Islam. Jika pada masa Nabi hal itu dilakukan oleh orang-orang musyrik Makkah dan Yahudi di Madinah yang jelas-jelas kafir, yang dihadapi oleh para abna' ash-shohwah al-Islamiyah hari ini dilakukan oleh agen-agen pemikiran dari kalangan intelektual muslim yang telah berubah tashowwur ke-Islamannya. Syaik Abu Bashir at-Tartusyi menyebutnya pengikut tashowwur munhazimin (pemahaman 'Islam' kaum pecundang). Gangguannya menjadi terasa lebih berat dan lebih sulit dihadapi karena kabut kepalsuan menyelimuti hakekat mereka, terutama bagi umat awam. Terlebih para abna' ash-shohwah al-Islamiyah hari ini tidak sekualitas beliau shallalLahu 'alayhi wa sallam yang dibimbing langsung oleh Allah.

Tidak Hanya Anti Jihad, Tetapi Anti Syari'at Islam

Anak panah permusuhan kelompok sekuler-liberal hari ini, tak hanya membidik kelompok yang berjuang mengembalikan harga diri umat Islam terhadap kezhaliman orang-orang kafir asli, menentang perampasan kekayaan dunia Islam, mencegah penghancuran warisan tempat-tempat ibadah dan menegakkan syari'at Allah dengan jihad fi sabililLah. Anak panah itu juga diarahkan kepada setiap usaha menegakkan syari'at Allah yang tidak menggunakan pendekatan kekuatan bersenjata. Bahkan kelompok umat Islam penempuh jalur demokrasi, yang masuk ke dalam pola sistem mereka, tetap dikategorikan sebagai musuh. Mereka menerimanya karena memenuhi semua syarat yang dipersyaratkan untuk masuk sistem mereka, tetapi gagasan Islam kaffah-nya itu tetap dianggap musuh. Bahkan menurut mereka lebih berbahaya karena dapat bergerak secara legal sesuai dengan persyaratan yang mereka tetapkan (lihat dalam Ilusi Negara Islam). Sebenarnya substansi permusuhan itu jelas,... sangat jelas, bagi mereka yang relatif cermat dan tidak kehilangan fokus dan menghadapi serangan pemikiran dari pihak manapun, dengan balutan redaksi apapun.
Penyebaran pemikiran sekuler-liberal ini, sejatinya tidak menyentuh kelompok masyarakat Islam grass root, sifatnya elitis. Masalahnya, para pengusungnya berasal dari kelompok intelektual yang memiliki popularitas, memegang posisi-posisi penting birokrasi, pemimpin orpol, ormas maupun non goverment organization (NGO/LSM), juga dosen di berbagai universitas.  Selain itu, pemikiran dan aktivitas mereka di-blow up gencar media massa, mereka mempengaruhi kebijakan pemerintah dan arah birokrasi, bekerjasama dengan lembaga anti syari'at Islam yang mensponsori, mengkoordinir dan memberi inspirasi gagasan kepada mereka, apa yang mesti dilakukan untuk mencegah pengaruh dakwah Islamiyah yang murni. Substansi gagasan mereka memisahkan kehidupan dari campur tangan agama, memisahkan urusan negara dan pemerintahan dari moral agama sesungguhnya asing dan tertolak, bahkan bagi masyarakat Islam awam sekalipun, karena kuatnya doktrin Al-Islamu ya'lu wa la yu'la 'alayh. Hanya saja, ketika hadir dalam bentuk kebijakan, disalurkan melalui jalur kekuasaan politik, dikawal dengan struktur kekuasaan, masyarakat mau tidak mau harus ikut dan taat.
Kepala BNPT, dalam paparannya di hadapan para 'ulama' dan du'at pada 6 Nopember 2010 dalam acara bertajuk Halaqah Nasional Penanggulangan Terorisme menjelaskan bahwa tujuan terorisme aktual adalah: pertama, penegakan khilafah Islamiyah/Daulah Islamiyah (JI) dan kedua, syari'at Islam. Ada yang menarik dalam paparan tersebut. Dikatakan bahwa tidak ada konsensus global (kesepakatan secara internasional) mengenai definisi terorisme, tetapi kepala BNPT dapat menyimpulkan dengan tegas dan berani apa yang menjadi tujuan terorisme.
Kesimpulan ini tidak dapat dimaknai lain, selain menempatkan dua sasaran tersebut, yakni Khilafah Islamiyah dan Syari'at Islam sebagai indikator gerakan terorisme. Kesimpulan ini sungguh berani. Sebab hal itu berarti menempatkan umat Islam yang penduduk mayoritas negeri ini sebagai musuh dan perjuangan untuk menegakkan syari'at Islam sebagai tindakan kriminal. Hal ini juga merupakan suatu bentuk test chase, apakah para pemimpin umat Islam masih memiliki kepekaan terhadap agamanya, kepedulian untuk membela syari'at Islam dan para penganjurnya. Sebab, meskipun para pemimpin umat Islam tidak berani bersuara lantang membela para da'i dan mujahid secara terang-terangan, nurani mereka tidak pernah dapat membenarkan permusuhan terhadap syari'at Islam. Ini disebabkan kecintaan, kesetiaan dan pembelaan terhadap syari'at itu merupakan satu paket tak terpisahkan dari keimanan. Sekalipun secara dhahir belum dapat mengimplementasikan, tetapi menolak, apalagi menempatkan perjuangan penegakan syari'at sebagai tindakan kriminal, pasti tetap dianggap sebagai kekafiran.
Dalam paparan itu Kepala BNPT lebih lanjut menjelaskan bahwa akar masalah terorisme diantaranya adalah kemiskinan ekonomi, keterbelakangan pendidikan, pemerintah yang otoriter, marginalisasi (peminggiran peran umat Islam), dominasi negara super power dan globalisasi. Beberapa akar masalah yang disebutkan di atas barangkali tidak sepenuhnya tepat, seperti kemiskinan ekonomi dan keterbelakangan dalam bidang pendidikan serta globalisasi. Terlalu banyak contoh para tokoh, pendukung dan simpatisan apa yang mereka tuduh teroris justru dari keluarga yang cukup mapan, kaya dan dari kelompok berpendidikan. Adapun jika yang sebagai pemicu pemerintahan yang otoriter (represif), marginalisasi peran umat Islam dan dominasi negara super power terhadap negara dan pemerintahan di negara-negara Islam, maka bukankah hal itu justru merupakan justifikasi pembenaran perjuangan kelompok yang mereka semati julukan teroris itu?
Para abna' ash-shohwah al-Islamiyah harus terus memperkuat tashowwur mereka, agar tidak goyah sedikitpun menghadapi kampanye menyudutkan din dan para ahli ad-din yang terus mereka gencarkan. Jika para abna' ash-shohwah al-Islamiyah lemah, merasa malu memegang persepsi yang benar tentang Islam, berarti mereka berhasil memadamkan cahaya keimanan dari sumbernya. Jika sudah begitu, komitment untuk memperjuangkan syari'at Allah dan berjihad akan padam dari tempat menyalanya, justru itu sasaran yang mereka inginkan ; mereka yang berjihad hendak mereka kendorkan dari melakukan jihad kepada hanya berpikiran jihad, sedang yang berpikiran jihad hendak mereka lucuti pikiran itu menjadi tidak harus menempuh jalan jihad.

Ketahanan Fikrah

Penguatan sisi pemikiran ini, menurut Al-'Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam Zad al-Ma'ad li Hadyi al-Khayri al-'Ibad pada bab V Kitab al-Jihad beliau namakan Jihad asy-Syaythan (jihad menghadapi syetan). Beliau memerincinya menjadi 2 (dua) rincian; Daf'u asy-Syubuhat dan Daf'u asy-Syahawat, yaitu jihad untuk mencegah pengaruh kekacauan pemahaman terhadap din al-Islam dan jihad untuk mencegah pengaruh hawa nafsu yang akan mengotori jalan jihad bahkan mengeluarkan dari jalur jihad.
Begitu pentingnya persoalan ini, sampai-sampai beliau mengatakan bahwa dua tingkatan jihad  yang pertama merupakan jihad menghadapi musuh dari dalam diri sendiri yakni jihad an-nafs dan jihad asy-syaithan. Seorang mujahid tidak akan mampu memerangi musuh dari luar dirinya, apakah itu orang-orang kafir, orang munafiq dan orang zhalim, jika dia sendiri tidak yakin terhadap kebenaran jalan perjuangan yang ditapakinya. Wa alLohu a'lam.
diambil dari An-Najah

Tahukah Anda ISLAMBUL, Bukan ISTANBUL



Kota Istanbul di Turki, memiliki sejarah yang panjang. Ketika mendengar nama kota ini disebut segera yang terbayang dibenak kita ialah gambaran kebesaran imperium Utsmani. Dan memang, di kota ini banyak terdapat situs peninggalan kekaisaran Turki Utsmani. Situs-situs bersejarah itu menginformasikan betapa besar dan kuatnya Turki Utsmani di bawah para khalifahnya untuk menembus wilayah-wilayah Eropa membawa agama Islam.
Kota ini didirikan pada abad ke-7 SM. Pada tahun 330 M, kota itu dijadikan sebagai ibu kota Romawi oleh Konstantin di tempat koloni Yunani kuno bernama Bizantium, dan dinamakan Konstantinopel untuk sang kaisar. Kota ini menjadi ibukota timur bagi Kekaisaran Romawi dan kemudian menjadi ibukota Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 395 M. Pada tahun 1453 M, Konstantinopel berhasil direbut oleh Kesultanan Utsmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad II.
Peristiwa bersejarah ini merupakan salah satu bukti kebenaran nubuwat Rasulullah saw. Sebab, beliau pernah bersabda bahwa Konstantinopel akan dikuasai oleh umat Islam. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Abdullah bin Amru bin Ash ditanya, “Yang manakah di antara kedua kota ini yang ditaklukkan terlebih dahulu? Konstantinopel ataukah Roma?” Maka beliau memerintahkan seseorang untuk mengambil sebuah kotak yang ada padanya. Lalu, kotak itu diberikan kepadanya. Dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya secarik kertas. Lantas beliau berkata, “Ketika kami sedang menulis bersama Rasulullah saw, beliau ditanya: yang mana di antara kedua kota ini yang ditaklukkan terlebih dahulu. Konstantinopel ataukah Roma. Beliau menjawab, “Kota Heraklius terlebih dahulu, yakni Konstantinopel.”
Rasulullah telah mengucapkan kata-kata itu sejak 850 tahun sebelum pembebasan Konstantinopel terjadi. Dan Konstantinopel memang benar-benar ditaklukkan. Rasulullah juga memberi kabar gembira bahwa pasukan yang menaklukannya adalah sebaik-baik pasukan, sedangkan panglimanya adalah sebaik-baik panglima.

Menembus Eropa
Setiap pahlawan Islam selalu bercita-cita untuk menjadi orang yang dimaksud Rasulullah SAW dalam haditsnya sebagai panglima yang terbaik dan tentaranya tentara yang terbaik yang mampu membebaskan Kontantinopel.
Sejak Rasulullah SAW masih hidup, beliau sudah berupaya mengajak penguasa Konstatinopel agar mau memeluk Islam. Selembar surat ajakan masuk Islam dari nabi SAW telah diterima Kaisar Heraklius di kota ini.

Dari Muhammad utusan Allah kepada Heraklius Raja Romawi.
Bismillahirrahmanirrahim, salamun ‘ala manittaba’al-huda. Amma ba’du,
“Sesungguhnya Aku mengajak anda untuk memeluk agama Islam. Masuk Islam-lah, maka Anda akan selamat dan Allah akan memberikan Anda dua pahala. Namun jika Anda menolak, Anda harus menanggung dosa orang-orang Aritsiyyin.”

Dikabarkan bahwa saat menerima surat, Kaisar Heraklius cukup menghormati dan membalas dengan mengirim hadiah penghormatan. Namun dia mengaku bahwa dirinya belum siap memeluk Islam.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar ra, Khalid bin Walid dikirim sebagai panglima perang menghadapi pasukan Romawi. Khalid memang mampu membebaskan sebagian wilayah Romawi dan menguasai Damaskus serta Palestina (Al-Quds). Tapi tetap saja ibukota Romawi Timur saat itu, Konstantinopel, masih belum tersentuh.
Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan Islam yang merebut Al-Quds kembali dari tangan Romawi sekalipun, masih belum mampu membebaskan Konstantinopel. Padahal beliau pernah mengalahkan serangan tentara gabungan dari Eropa pimpinan Richard yang berjuluk The Lion Heart  dalam perang Salib.
Dan sejarah memperlihatkan, ternyata sosok yang disebut oleh Rasulullah dalam hadits itu ialah Sultan Muhammad Al-Fatih. Tidak mudah memang untuk membebaskan Konstantinopel. Kotanya cukup unik, karena berada di dua benua, Asia dan Eropa. Di tengah kota ada selat Bosporus yang membentang, ditambah benteng-benteng yang cukup merata.
Tetapi Sultan Muhammad Al-Fatih tidak pernah menyerah. Sejarah mencatat beliau telah memerintahkan para pakar dan insinyurnya untuk membuat sebuah sebuah meriam raksasa. Dengan peluru logam baja, suaranya mampu menggentarkan nyali musuh. Meriam ini mampu menembak dari jarak jauh serta meluluh-lantakkan benteng Bosporus. Ini adalah senjata tercanggih kala itu.
Konstantinopel berhasil ditaklukkan dengan kerja keras luar biasa. Konstantin sendiri pun terbunuh dalam perang itu. Meski Konstantin adalah seorang Kristen, tapi sikap satrianya di medan perang patut dicontoh. Ia terbunuh sebagai perwira. Ia terbunuh saat bertempur di atas kudanya di jalan raya Konstantinopel. Mampukah kepala negara di setiap negeri muslim hari ini berbuat hal yang sama seperti Konstantin yang Nasrani itu?!

Sang Pembebas
Muhammad Al-Fatih, dari sisi keshalihannya, disebutkan bahwa beliau tidak pernah meninggalkan tahajud dan shalat rawatib sejak baligh hingga saat wafat. Dan kedekatannya kepada Allah SWT ditularkan kepada tentaranya.
Itulah barangkali kunci utama keberhasilan beliau dan tentaranya dalam menaklukkan kota yang dijanjikan nabi SAW. Rupanya kekuatan beliau bukan terletak pada kekuatan fisik semata. Tapi dari sisi hubungan kepada Allah, nyata bahwa beliau dan tentaranya sangat menjaga kedekatan lewat shalat fardhu, shalat malam (qiyamul lail) dan ibadah sunnah lainnya.
Karena prestasinya menaklukkan Konstantinopel, Muhammad kemudian mendapat gelar Al-Fatih, Sang Pembebas. Namun orang Barat menyebutkan The Conqueror, Sang Penakluk. Ada kesan bila menggunakan kata “Sang Penakluk” bahwa beliau seolah-olah penguasa yang keras dan kejam. Padahal gelar yang sebenarnya dalam bahasa Arab adalah Al-Fatih. Artinya ‘pembuka’ atau ‘pembebas’. Kata ini terkesan santun dan beradab. Karena pada hakikatnya, yang beliau lakukan bukan penaklukan atau penindasan, melainkan pembebasan menuju kepada iman dan Islam.
Yang lebih menarik, meski beliau punya kedudukan tertinggi dalam struktur pemerintahan, namun karena keahlian beliau dalam ilmu strategi perang, hampir seluruh perjalanan jihad tentaranya beliau pimpin secara langsung. Bahkan beliau tetap berangkat berjihad kendati sedang menderita sakit.

Islambul
Dalam Fie Zhilali Surati at-Taubah (Di Bawah Naungan Surat At-Taubah), Dr. Abdullah Yusuf Azzam menulis bahwa setelah membebaskan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih mengubah nama kota ini menjadi Islambul yang berarti Kota Islam.
Jadi, sebetulnya bukan Istanbul seperti kita kenal sekarang. Penyebutan Istanbul muncul dari orang Barat. Karena merasa berat dan risih mendengar kata Islam, maka mereka menyebutnya sebagai Istanbul. Dalam buku itu, Dr. Abdullah Azzam juga mengajak, “Kalau kita ingin menghilangkan nama Konstantinopel, maka sebut kota ini sebagai Islambul, bukan Istanbul.”
Hingga kini Islambul terus menjadi kota terbesar (dan mungkin juga kota terpenting) bagi Turki, sekalipun yang menjadi ibukota Turki adalah Ankara.*(hafizh/berbagai sumber)

Susah Payah Beramal Tetapi Sia-Sia

 Di dalam masalah ini ada tiga syarat penting lagi agung yang perlu diketahui oleh setiap hamba yang beramal, jika tidak demikian, maka amal terebut tidak akan diterima.
Pertama, Iman Kepada Allah dengan Men-tauhid-Nya
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّـتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.”(QS. Al- Kahfi:107)
Tempat masuknya orang-orang kafir adalah neraka jahannam, sedangkan surga firdaus bagi mereka orang-orang yang mukmin, namun ada 2 syarat seseorang bisa memasuki surga firdaus tersebut yaitu:
1. Iman
Aqidah Islam dasarnya adalah iman kepada Allah, iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Dasar-dasar ini telah ditunjukkan oleh kitabullah dan sunnah rasul-Nya
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam sunnahnya sebagai jawaban terhadap pertanyaan malaikat Jibril ketika bertanya tentang iman:
“Iman adalah engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari kemudian, dan mengimani takdir yang baik dan yang buruk.” (HR Muslim)
2. Amal Shalih
Yaitu mencakup ikhlas karena Allah dan sesuai dengan yang diperintahkan dalam syariat Allah.
…إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (2) أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agamya yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar: 2-3)
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (All-Mulk : 2)
Al-Fudhail berkata: “Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” (Tafsir al-Baghawi, 8:176)
Kedua, Ikhlas karena Allah
Mungkin kita sudah bosan mendengar kata ini, seringkali kita dengar di ceramah-ceramah, namun kita tidak mengetahui makna dari ikhlas tersebut. Ikhlas adalah membersihkan segala kotoran dan sesembahan-sesembahan selain Allah dalam beribadah kepada-Nya. Yaitu beramal karena Allah tanpa berbuat riya’ dan juga tidak sum’ah.
Orang-orang bertanya: “Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu?”.
Dia menjawab, “Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah.” Kemudian ia membaca ayat:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi :110)
Allah juga berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ
“Artinya : Dan sipakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (An-Nisa’ :125)
Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan sunnah beliau.
Allah juga berfirman.
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (Al-Furqan : 23)
Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau amal yang dimaksudkan untuk selain Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, “Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatau amal untuk mencari wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajat dan ketinggian karenanya.”
Ketiga, Sesuai dengan Ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dasar dari setiap amal adalah ikhlas dalam beramal dan jujur dalam batinnya sehingga tidak terbesit di dalam pikirannya hal-hal yang merusak amal tersebut, karena segala saesuatu hal yang kita kerjakan harus dilandasi perkara ikhlas ini. Namun, apakah hanya dengan ikhlas saja, amal kita sudah diterima oleh Allah?
Adapun pilar yang ketiga ini yaitu harus sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salla. Mayoritas di kalangan masyarakat kita, sanak saudara kita, bahkan orang tua kita melakukan amalan-amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan parahnya lagi bisa terjerumus dalam keyirikan. Adapun hadits yang termahsyur yang menjelaskan hal ini:
Dari Ummul Mu’minin, Ummu Abdillah, Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.”
Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil yang syar’i yaitu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As Sunnah maka tertolaklah amalannya. Oleh karena itu amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam merupakan amalan yang sangat buruk dan merupakan salah satu dosa besar.
Wahai saudariku, agama Islam adalah agama yang berdasarkan ittiba’ (mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida’ (mengada-ada suatu amal tanpa dalil) dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berusaha menjaganya dari sikap yang berlebih-lebihan dan mengada-ada. Dan Agama islam merupakan agama yang sempurna tidak ada kurangnya. Oleh karena itu, jangan ditambah-ditambahi ataupun dikurang-kurangi.
Itulah sekelumit tentang 3 syarat diterimanya suatu amalan. Apabila salah satunya tidak dilaksanakan, maka amalannya tertolak. Walaupun hati kita sudah ikhlas dalam mengerjakan suatu amalan, namun tidak ada dalil yang menjelaskan amalan tersebut atau tidak dicontohkan oleh Rasulullah maka amalannya menjadi tertolak. Begitupula sebaliknya, apabila kita sudah bersesuaian dengan tuntunan Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam , namun hati kita tidak ikhlas karena Allah ta’ala malah ditujukan kepada selain-Nya maka amalannya pun juga tertolak.
Wallahu a’lam

Indahnya Menuntut Ilmu (3)



Diantara sekian banyak nikmat Allah yang telah kita rasakan, ada satu nikmat yang melandasi datangnya nikmat-nikmat yang lain, yaitu ilmu. Sebab dengan ilmu, seseorang akan dapat memahami berbagai hal dan karena ilmu juga, seseorang akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah, juga di kalangan manusia. Terutama jika disertai dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baik dia seorang budak atau orang merdeka; seorang bawahan atau atasan; seorang rakyat jelata ataupun para raja. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
يَـأَيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوا إِذَاقِيْـلَ لَكُمْ تَفَـسَّحُوْافِيْ الْمَجَلِسِ فَافْـسَحُوا يَفْـسَحِ اللهُ لَكُمْۖ وَإِذَا قِيْـلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَتٍۗ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبْيْرٌ ۝
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.” (Qs. Al-Mujadilah: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَـذَا الْكِـتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ .
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 817) dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu’anhu]
Dalil di atas dengan menegaskan bahwa orang yang berilmu dan mengamalkannya maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di dunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat.
Allah ‘Azza wa Jalla menolak persamaan antara orang-orang yang memiliki ilmu dengan orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Sebagaimana Dia menolak persamaan antara para penghuni Surga dengan para penghuni Neraka. Allah berfirman,
قُـلْ هَـلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُونَۗ … ۝
Artinya: “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az-Zumar: 9)
Ayat di atas berbentuk kalimat tanya, akan tetapi pada hakikatnya mengandung arti pengingkaran. Karena orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu tidak akan pernah setara kedudukannya. Yang dapat memahami maksud tersebut hanyalah orang yang cerdas, sehingga dia dapat mengetahui nilai ilmu, kedudukan dan keutamannya. [Lihat Bahjatun Nazhirin (II/462) dan Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah (IV/284)]
Sementara itu, dalam firman-Nya yang lain, Allah Ta’ala menyatakan,
لاَيَسْتَوِى أَصْحَبُ النَّارِ وَأَصْحَبُ الْجَنَّةِۗ … ۝
Artinya: “Tidak sama (antara) para penghuni Neraka dengan para penghuni Surga…” (Qs. Al-Hasyr: 20)
Ini menunjukkan tentang puncak dari keutamaan dan kemuliaan orang yang berilmu. Bahkan, karena kemuliaan ilmu, Allah membolehkan kita untuk memakan hasil buruan anjing yang terlatih (untuk berburu) dan mengharamkan memakan buruan anjing yang tidak terlatih. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,
يَسْـئَلُوْنَكَ مَاذَآ أُحِـلَّ لَهُمْۗ قُلْ أَحِـلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَتُ وَمَاعَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِيْنَ تُعَـلِّمُوْنَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللهُ فَـكُلُوْا مِمَّآ أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوااسْمَ اللهِ عَلَيْهِۖ وَاتَّقُوااللهَۗ إِنَّ اللهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۝
Artinya: “Mereka menanyakan kepadamu: ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah: ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.’”(Qs. Al-Ma’idah: 4)
Ayat di atas menunjukkan bahwa binatang menjadi mulia karena ilmu dan diberi kedudukan yang berbeda dengan binatang yang tidak berilmu. Seandainya bukan karena keutamaan ilmu, niscaya hasil buruan anjing yang terlatih dan tidak terlatih statusnya sama, yakni haram hukumnya untuk dikonsumsi. Akan tetapi, hewan yang ditangkap anjing pemburu statusnya halal, tidak sebagaimana hasil buruan anjing liar.
Jika kedudukan binatang saja bisa mengalami kenaikan karena ilmu, bagaimana halnya dengan kedudukan seorang manusia yang jelas-jelas kedudukannya lebih tinggi dan lebih mulia dari pada binatang?
Pada kesempatan kali ini, dengan memohon taufik kepada Allah Jalla Dzikruhu,penulis akan menghadirkan pembahasan mengenai nikmat dan keutamaan para pemilik ilmu beserta dengan hukum dan macam-macam ilmu dalam tinjauan syari’at.
DEFINISI ILMU DAN TINGKATANNYA
Ilmu adalah mengetahui sesuatu dengan yakin sesuai dengan pengetahuan yang sebenarnya. [Lihat Syarah Tsalatsatil Ushul (hal. 18), Syarh Ushul min ‘Ilmil Ushul (hal. 75), Ushul Fiqh Terjemah (hal. 24), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 16)]
Ilmu pada hakikatnya terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Ilmu dharuri, adalah pengetahuan tentang suatu hal tanpa memerlukan penelitian dan pembuktian dengan menggunakan dalil (keterangan). Contohnya: pengetahuan bahwa api itu panas.
2. Ilmu nazhari, adalah pengetahuan tentang suatu hal yang didahului oleh penelitian dan pembuktian dengan menggunakan dalil. Contohnya: pengetahuan tentang tata cara wudhu dan shalat.
Adapun tingkatan ilmu yang dimiliki oleh seseorang terbagi dalam enam tingkatan, yaitu:
1. Al-‘Ilmu, maksudnya adalah mengetahui sesuatu dengan yakin sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
2. Al-Jahlul Basith, maksudnya adalah tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu hal tertentu, sama sekali.
3. Al-Jahlul Murakkab, maksudnya tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu hal tertentu, namun dia mengaku memiliki pengetahuan tentang itu, padahal keliru dan tidak sesuai dengan realita. Disebut murakkab yang artinya bertingkat, karena terdapat dua kebodohan sekaligus pada orang tersebut, yaitu bodoh karena dia tidak mengetahui yang sebenarnya dan bodoh karena dia beranggapan bahwa dia mengetahui yang sebenarnya, padahal dia tidak mengetahui.
4. Azh-Zhann, maksudnya adalah mengetahui sesuatu yang kemungkinan benarnya lebih besar dari pada salahnya. Kata yang mirip dalam bahasa kita adalah dugaan kuat.
5. Al-Wahm, maksudnya adalah mengetahui sesuatu yang kemungkinan salahnya lebih besar dari pada benarnya. Atau mirip dengan dugaan lemah atau salah paham.
6. Asy-Syakk, maksudnya adalah mengetahui sesuatu yang kemungkinan benar dan salahnya seimbang.
[Lihat Syarah Tsalatsatil Ushul (hal. 18-19), Syarh Ushul min ‘Ilmil Ushul (hal. 71-72), Ushul Fiqh Terjemah (hal. 25), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 16-17)]
KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU
Ilmu adalah sayyidul ‘amal (penghulunya amal), sehingga tidak ada satu amalan pun yang dilakukan tanpa didasari dengan ilmu. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah kaidah yang telah disepakati ummat,
اَلْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ .
Ilmu dahulu sebelum berkata dan berbuat.”
[Lihat Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Ilmu, Bab Al-‘Ilmu Qablal Qaul wal ‘Amal (I/119)]
Ilmu juga merupakan makanan pokok bagi jiwa, yang karenanya jiwa akan menjadi hidup dan jasad akan memiliki adab. Oleh karena itu, Islam mewajibkan ummatnya, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu. Dan hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ .
Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.”
[Hadits shahih li ghairihi, diriwayatkan Ibnu Majah (no. 224), dari jalur Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Hadits ini diriwayatkan pula oleh sekelompok para shahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudriy, Al-Husain bin ‘Ali, dan Jabir radhiyallahu’anhum. Para ulama ahli hadits telah menerangkan jalur-jalur hadits ini dalam kitab-kitab mereka, seperti: Imam As-Suyuthi dalam kitab Juz Thuruqi Hadits Tholabil Ilmi Faridhotun ’Ala Kulli Muslimin, Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Wahiyat (I/67-71), Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/69-97), dan Syaikh Al-Albani dalam kitab Takhrij Musykilah Al-Faqr (hal. 48-62)]
Tidak diragukan lagi bahwa kebutuhan seseorang terhadap ilmu lebih besar dari kebutuhannya terhadap makan dan minum, seperti pernah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah,
الناس إلي العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب لأنهم يحتاجون إليها في اليوم مرة أو مرتين وحاجتهم إلي العلم بعدد اأنفاسهم
Manusia sangat membutuhkan ilmu dari pada (mereka) membutuhkan makanan dan minuman, karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan sehari sekali atau dua kali, sementara ilmu dibutuhkan sepanjang nafasnya.” [Lihat Thabaqat Al-Hanabilah (I/146), Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 91), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 55-56)]
Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendakwahkan Islam kepada para Shahabat atas dasar ilmu. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman,
قُلْ هَـذِهِ سَبِيْلِى أَدْعُواإِلَى اللهِۚ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِىۖ … ۝
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku yang lurus, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu.’” (Qs. Yusuf: 108)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia kepada agama Allah atas dasar ilmu (بصيرة ), keyakinan (يقين ), dalil syar’i (برهان شرعي ), dan dalil aqli (عقلي ). [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (IV/422)]
ILMU YANG WAJIB DICARI
Tidak setiap ilmu boleh untuk dicari dan dipelajari, sebab ada ilmu yang dilarang untuk dipelajari. Hanya ilmu yang bermanfaat sajalah yang boleh untuk dicari dan dipelajari. Karena ilmu yang bermanfaat menempati kedudukan yang terpuji, seperti kisah Nabi Adam ‘alaihis salam yang diajarkan oleh Allah Ta’ala tentang nama-nama segala sesuatu, kemudian Nabi Adam memberitahukannya kepada para Malaikat dan para Malaikat pun berkata,
قَالُوا سُبْحَـنَكَ لاَ عِلْمَ لَنَآ إِلاَّ مَاعَلَّمْتَنَآۖ إِنَكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ ۝
Artinya: “Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’” (Qs. Al-Baqarah: 32)
Demikian juga disebutkan dalam kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dengan Nabi Khidhir ‘alaihis salam, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Ta’ala berikut,
فَوَجَدَا عَبْـدًا مِّنْ عِبَـادِنَـآاَتَيْنَـهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْـدِنَـا وَعَلَّمْنَـهُ مِنْ لَّـدُنَّا عِلْمًا ۝ قَالَ لَهُ مُوسَى هَـلْ أَتَّبِعُـكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْـدًا ۝
Artinya: “Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya. ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?’” (Qs. Al-Kahfi: 65-66)
Semua ayat di atas berbicara tentang ilmu yang bermanfaat.
Hanya saja, tidak semua orang bisa mendapatkan manfaat dari ilmu yang bermanfaat ini. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan tentang keadaan suatu kaum yang diberikan ilmu, tetapi ilmu yang ada pada mereka tidak memberi manfaat sama sekali bagi mereka. Padahal, ilmu yang mereka miliki adalah ilmu yang bermanfaat, namun demikian mereka tidak dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Jalla Dzikruhu,
مَثَـلُ الَّذِيْنَ حُـمِّلُوا التَّوْرَىةَ ثُـمَّ لَـمْ يَحْـمِلُوهَاكَمَـثَـلِ الْحِـمَارِ يَحْمِـلُ أَسْفَـارَاۚ بِئْـسَ مَثَـلُ الْقَـوْمِ الَّذِيْنَ كَـذَّ بُوْا بِـئَا يَتِ اللهِۚ وَاللهُ لاَ يَهْـدِى الْقَـوْمَ الظَّـلِمِيْنَ ۝
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Qs. Al-Jumu’ah: 5)
Sedangkan ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang menjadi penyakit dalam agama dan memiliki kecenderungan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan, seperti ilmu kalam (logika), ilmu filsafat, dan semisalnya. Selain itu, ada juga ilmu yang tercela, seperti ilmu sihir dan perdukunan. Ilmu tersebut merupakan ilmu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia apalagi di akhirat. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
وَيَتَعَـلَّمُونَ مَـا يَضُـرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْۚ وَلَقَـدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَىهُ مَالَهُ فَى الْأَخِـرَةِ مِنْ خَلَقِۚ وَلَبِئْسَ مَاشَـرَوْا بِهِ أَنْفُـسَـهُمْۚ لَوْكَـانُوْا يَعْـلَمُونَ ۝
وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (١٠٢)
Artinya: “Dan mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (Kitabullah) dengan sihir itu, niscaya tidak mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh sangat buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 102)
Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 28-29)]
Demikianlah perbedaan antara ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat.
Adapun pengertian dari ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa keterangan dan petunjuk, dimana mempelajari ilmu ini berhak mendapatkan pujian dan sanjungan. [Lihat Kitabul ‘Ilmi (hal. 13), Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 15), Bahjatun Nazhirin (II/461), dan Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah (IV/281)]
Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata, “Ilmu (yang bermanfaat) adalah apa yang berasal dari para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan apa saja yang datang bukan dari salah seorang dikalangan mereka maka itu bukanlah ilmu (yang bermanfaat).” [Lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/500, no. 1067 dan I/617, no. 1421), Fadhlu ‘Ilmi Salaf (hal. 42), Bahjatun Nazhirin (II/461), Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah (IV/283), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 16 dan 22)]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pun pernah berkata, “Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung (matematika), ilmu pertanian, dan ilmu perdagangan.” [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (VI/388 dan XIII/136), Madarijus Salikin (II/488), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 20-21)]
Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah pernah berkata, “Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan perkataan para Shahabat.” [Lihat I’lamul Muwaqqi’in (II/149) dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 22)]
Adapun ilmu yang bersifat keduniawian, seperti ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu ekonomi, dan yang lainnya, ada yang sangat dibutuhkan ummat Muslim. Namun, ilmu-ilmu tersebut tidak termasuk dalam kategori ilmu syar’i, sebagaimana disebutkan dalam dalil yang tercantum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, hukum menuntut ilmu duniawi tergantung kepada tujuan dan kebutuhannya, apabila tujuannya adalah untuk ketaatan kepada Allah maka hal itu akan menjadi baik dan apabila dengan mempelajarinya dapat memenuhi kebutuhan kaum muslimin maka hal itu dapat menjadi wajib. [Lihat Kitabul ‘Ilmi (hal. 13-14)]
Dengan demikian, kita dapat membagi hukum menuntut ilmu menjadi tiga, yaitu:
1. Fardhu ‘ain, dimana hukumnya adalah wajib untuk diketahui oleh setiap individu. Ilmu yang tercakup dalam hukum ini adalah semua ilmu syar’i yang yang menjadi pengetahuan dasar tentang agama, baik permasalahan ushul (asas) seperti akidah, tauhid dan manhaj, sampai permasalahan furu’ (cabang) seperti shalat, zakat, sedekah, haji, dan semisalnya.
2. Fardhu kifayah, dimana hukumnya tidak wajib atas setiap individu, sebab tidak mungkin semua orang dapat mempelajarinya. Kalaupun diwajibkan atas setiap individu, tidak semua orang dapat melakukannya, bahkan mungkin saja dapat menghambat jalan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya sebagian orang saja yang diberi kemudahan oleh Allah untuk mempelajarinya dengan rahmat dan hikmah-Nya.
Apabila sebagian orang telah mengetahui dan mempelajarinya maka gugurlah kewajiban lainnya. Namun, jika tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengetahui dan mempelajarinya, padahal mereka amat membutuhkan ilmu tersebut maka mereka semua berdosa karenanya.
Contohnya adalah ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu waris, ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu fiqih, ilmu pemerintahan, dan lain sebagainya. [Lihat Tafsir Al-Qurthubi (VIII/187), Thariq ilal ‘Ilmi As-Subulun Naji’ah li Thalabil ‘Ulumin Nafi’ah (hal. 18-19), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 6-7 dan 17)]
3. Haram, dimana hukumnya terlarang untuk dicari dan dipelajari, karena akan membawa pelakunya kepada kesesatan, kemaksiatan, bahkan kesyirikan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Diantara ilmu yang termasuk dalam hukum ini adalah ilmu sihir. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,
وَ يَتَعَـلَّمُونَ مَـا يَضُـرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْۚ وَلَقَـدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَىهُ مَالَهُ فَى الْأَخِـرَةِ مِنْ خَلَقِۚ وَلَبِئْسَ مَاشَـرَوْا بِهِ أَنْفُـسَـهُمْۚ لَوْكَـانُوْا يَعْـلَمُونَ ۝
Artinya: “Dan mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (Kitabullah) dengan sihir itu, niscaya tidak mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh sangat buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 102)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda,
إِجْتَنِـبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَـاتِ، قَالُوا: يَـا رَسُولَ اللهِ وَمَـاهُنَّ؟ قَـالَ: الشَّرْكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَـتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهَ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَـا، وَأَكْلُ مَـالِ الْيَتِيْـمِ، وَالتَّوَ لَّيْ يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَـذْفُ الْمُحْصَنَـاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ .
Artinya: “Hindarilah (oleh kalian) tujuh perkara yang membinasakan.’ Mereka bertanya, ‘Apakah itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan cara yang benar, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan melempar tuduhan zina kepada wanita mukminah yang terjaga kesucian dan kehormatannya dari perbuatan dosa dan mereka tidak mengetahui tentang hal itu.’” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 2615), Muslim (no. 258), Abu Dawud (no. 2874), dan An-Nasa’i (no. 3673), dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Hadits di atas menyebutkan tentang perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjauhi sihir dan menjelaskan bahwa sihir termasuk dalam perbuatan dosa besar yang membinasakan. Ini menunjukkan bahwa sihir dapat membinasakan pelakunya di dunia maupun di akhirat. [Lihat Hukmus Sihri wal Kahanah (hal. 5)]
Tidak ada perbedaan bagi laki-laki maupun perempuan, mulai dari orang tua ataupun anak-anak; pejabat atau karyawan; si kaya atau si miskin, semuanya sama dalam kewajiban menuntut ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena dengan ilmu tersebut, dia akan dapat mengetahui dan mengamalkan berbagai amalan shalih dengan baik, yang amalan-amalan tersebut akan dapat mengantarkannya ke Surga.
Dengan demikian, kita telah mengetahui bahwa ilmu yang wajib untu dicari dan dipelajari oleh setiap Muslim adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang membahas tentang perkara-perkara agama, mulai dari perkara yang berkaitan dengan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya sampai perkara yang berkaitan dengan hubungan seorang hamba dengan makhluk Rabbnya. Sementara untuk ilmu keduniaan, meskipun termasuk ke dalam ilmu yang bermanfaat, namun hukum mempelajarinya tidak sampai kepada wajib dan keutamaannya juga tidak setara dengan keutamaan menuntut ilmu syar’i.