Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Tampilkan postingan dengan label JELAJAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JELAJAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2011

Geliat Islam di Negeri Beruang Merah


Setelah mengalami masa kelam di era Imperium Rusia dan komunis, kini sendi-sendi Islam menggeliat kembali.
Saat ini terdapat sekitar 28 juta pemeluk agama Islam di negara Federasi Rusia. Angka ini mencakup 15 persen dari jumlah penduduk yang mencapai 140 juta jiwa. Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan warga Muslim di sejumlah negara Eropa lain, komunitas Muslim Rusia bukanlah berasal dari kaum pendatang (imigran).
Mereka merupakan penduduk asli negara yang sebelumnya bernama Uni Soviet dan keberadaannya telah bermula sejak lama. Oleh sebab itulah, umat Islam tidak bisa lagi dilepaskan dari denyut nadi kehidupan masyarakat serta negara.
Mayoritas komunitas Muslim Rusia tinggal di kawasan Volga-Ural dan Kaukasus Utara. Beberapa kawasan lain, termasuk kota-kota besarnya, seperti Moskow dan Saint-Petersburg, juga menjadi tempat tinggal umat Islam dalam jumlah cukup signifikan. Adapun dominasi kaum Muslim sejatinya berada di tujuh negara bagian Federasi Rusia. Antara lain, Republik Bashkortostan dan Tatarstan di wilayah Volga-Ural, Republik Chechnya (yang kini mencoba memerdekakan diri dari Rusia), Ingushetia, Dagestan, Kabardino-Balkaria, dan Karachay-Cherkessia di Kaukasus.
Awal Persentuhan
Menelusuri jejak sejarah, jauh ke belakang, agama Islam pertama kali masuk ke Rusia, yakni di Dagestan, pada pertengahan abad ke-7 lalu berkembang hingga ke Kaukasus Utara, terutama lewat jalur perdagangan dengan negara-negara Muslim sekitar.
Ketika itu, pasukan Muslim di bawah kepemimpinan Abdurrahman ibn Rabiah, mencapai Kaukasus Selatan setelah mengambil alih kendali di Persia dan al-Quds (Yerusalem). Tahun 737 M, saat Bani Umayyah berkuasa, pasukan tersebut berhasil menaklukkan Kerajaan Kazar yang berkuasa di wilayah ini. Tak butuh waktu panjang, Kerajaan Kazar pun tunduk kepada penguasa Bani Umayyah. Wilayah ini lantas dijadikan pusat administrasi sekaligus penyebaran Islam kepada penduduk asli Kaukasus.
Hingga selanjutnya, terbentuklah negeri Muslim yang pertama, Volga Bulgaria pada tahun 922 M. Dari sinilah akhirnya Islam dapat lebih melebarkan sayap pengaruhnya sampai ke wilayah utara dan timur Rusia, khususnya Siberia. Oleh penduduk lokal, agama Islam dapat diterima dengan terbuka. Ini karena ide-ide universal yang dibawa seperti keadilan, persaudaraan, anti-kezaliman, dan mencintai ilmu, mampu merebut hati warga.
Gelombang kedua masa penyebaran Islam di Rusia berlangsung pada periode kekuasaan bangsa Mongol di bawah pimpinan Jusi Ulusi atau Altan Ordon, yang mendiami kawasan utara Mongolia pada tahun 1242 M. Mereka memang sempat mengendalikan wilayah Kaukasus dan Dagestan, akan tetapi tidak memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan sosial warga.
Jadilah, segala yang ada di masyarakat tidak berubah, misalnya budaya, agama, bahasa, dan lainnya. Maka itu, di awal abad 15 M, muncul kerajaan-kerajaan Islam di setiap kawasan, kecuali wilayah antara kota Moskow dan Kiev yang memang dihuni etnis Slav. Hingga akhirnya, kerajaan-kerajaan kecil Islam ini ditaklukkan oleh Kekaisaran Rusia pada abad ke-16 M. Yang pertama kali tunduk adalah kerajaan Islam di Volga-Ural, mengingat Rusia memang mengincar kawasan itu karena dinilai amat strategis untuk jalur transportasi.
Kemunduran Kerajaan Islam
Pada 15 Oktober 1552 M, seusai mengalahkan Kerajaan Kazan, kerajaan terkuat di kawasan tadi, peluang Imperium Rusia untuk kian mengukuhkan kontrol atas daerah Volga dan Laut Kaspia, semakin terbuka lebar. Inilah awal kemunduran itu.
Pada pertengahan abad ke-18 M, Muslim Rusia tidak dibolehkan melakukan aktivitas keagamaan, membangun masjid, dan sekolah. Intinya, apa pun yang bernafaskan keagamaan, coba diredam oleh penguasa Rusia.
Situasi kelam terus berlangsung selama berpuluh-puluh tahun. Pun, ketika meletusnya revolusi komunis pada 1917 M, semakin memunculkan situasi yang sangat buruk bagi semua pemeluk agama, terutama Muslim. Puncaknya adalah saat terjadi pemberantasan agama sejak 1927 M.
Sinyal Kebangkitan
Akan tetapi, geliat Islam tak lantas pudar. Kendati tertindas semasa rezim komunis berkuasa, akar budaya ataupun sejarah Islam yang panjang, tak pernah tercerabut. Sampai terjadilah momentum reformasi ekonomi, sosial, dan politik di penghujung dekade 80-an, dengan runtuhnya negara adidaya Uni Soviet. Hal itu lantas dimanfaatkan oleh elemen Muslim Rusia untuk berbenah serta menata kembali kehidupan sosial dan keagamaannya.
Kini, komunitas Muslim Rusia boleh berbangga. Mereka tercatat merupakan komunitas Muslim terbesar di Eropa. Jumlahnya mencakup sekitar 15-20 persen populasi penduduk dan terus bertambah dari waktu ke waktu. Di samping berasal dari Muslim keturunan, banyak di antara mereka merupakan Muslim Rusia yang mualaf. Bahkan, bisa dikatakan, 60 persen pemeluk baru adalah etnis Rusia yang sebelumnya tidak beragama (ateis).
Faktor imigrasi dari wilayah Utara Kaukasus dan Asia Tengah, juga memengaruhi pertambahan populasi Muslim. Tapi, ada satu hal yang menjadi perhatian serius kalangan Kristen Ortodoks Rusia, yakni adanya krisis kependudukan di kalangan etnis Rusia yang menyebabkan penurunan populasi 700 ribu orang per tahun. Inilah yang menimbulkan kekhawatiran, lantaran mereka bisa saja menjadi minoritas dan kehilangan identitas Rusia-nya.
Konon, diantara komunitas agama lain di Rusia, pemeluk Islam dalam merencanakan keluarga tidak memikirkan betapa sulitnya biaya hidup di Rusia. Bagi komunitas muslim, melahirkan generasi baru yang islami merupakan misi yang jauh lebih berharga ketimbang memikirkan kesulitan hidup di Rusia. Apabila tren semacam ini terus berlanjut, diperkirakan populasi Muslim dalam 30 tahun mendatang bisa melebihi etnis Rusia.
Masjid pun Bertambah
Seiring perkembangan agama Islam di masa lampau, bertumbuh pula jumlah masjid yang tersebar di basis kantong-kantong Muslim. Akan tetapi, sejak masa Imperium Rusia, jumlahnya terus menyusut, dari sekitar 12 ribu menjadi hanya 343 masjid akibat tekanan berat terhadap aliran keagamaan. Barulah di akhir abad ke-20 M dan awal abad ke-21 M, kehidupan agama kembali normal, termasuk Islam. Hal tersebut ditandai dengan banyak dibukanya masjid baru ataupun yang lama, dan menjadi pusat peribadatan serta sosial keagamaan.
Tercatat, saat ini di wilayah Federasi Rusia yang luasnya hanya separuh dari luas negara Uni Soviet serta Imperium Rusia, masjid yang ada jumlahnya hampir separuh dari jumlah sebelum revolusi. Secara resmi, telah terdaftar sebanyak 4.750 masjid. Kawasan paling banyak terdapat masjid adalah di Dagestan dengan jumlah 3.000 masjid. Begitu pula, di Tatarstan yang dalam 10 tahun terakhir telah mencapai seribu masjid. Sementara di ibukota Moskow, yang populasi Muslimnya sekitar satu juta jiwa, terdapat 20 komunitas serta lima masjid.
Selain masjid yang bertambah, begitu juga organisasi dan lembaga keagamaan di tingkat lokal. Dari data register negara di kawasan Volga saja, ada sebanyak 1.945 organisasi Muslim, diikuti Kaukasus Utara sekitar 980 lembaga, serta Ural dengan 316 lembaga. Di beberapa kawasan lain pun bermunculan organisasi serupa meski jumlahnya lebih kecil. Tapi, secara umum ada tiga organisasi Muslim yang cukup berpengaruh.
Pertama, Dewan Mufti Rusia, berkedudukan di Moskow serta membawahi sekitar 1.686 komunitas. Pemimpinnya bernama Mufti Ravil Gainutdin, seorang imam yang cukup karismatik.
Kedua, Administrasi Keagamaan Pusat dari Muslim Rusia berbasis di Ufa. Dipimpin oleh Mufti Talgat Tadzhuddin dan menjadi wadah bagi bernaungnya 522 komunitas muslim.
Ketiga, Pusat Koordinasi Muslim di Kaukasus Utara yang dipimpin oleh Ismail Berdiyev, Mufti Karachai-Cherkassia, dan wilayah Stavropol. Lembaga ini mengkoordinasi 830 komunitas.

Mayoritas Muslim pada 2050 M
Pakar Asia Tengah, Muhammad Salamah, dalam sebuah seminar tentang Islam di Rusia mengatakan, puluhan pengkaji akademisi di Rusia telah menyimpulkan, berdasarkan perkembangan yang terlihat dari negara-negara Muslim pecahan Uni Soviet ini, maka pada tahun 2050 M nanti negara Rusia diprediksikan akan menjadi negeri berpenduduk mayoritas muslim.
Salamah kemudian menambahkan, sejak 20 tahun lalu dirinya terus mengamati perkembangan Islam di Rusia. Semenjak Muslim di sana berada di bawah pemerintahan yang komunis dan mengalami masa-masa pengekangan, seperti dilarangnya membawa mushaf Al-Quran, masjid-masjid di tutup, hingga akhirnya sekarang, Muslim Rusia telah mendapatkan hak-hak mereka dengan baik.
Salamah juga mengatakan penyebaraan Islam di Rusia berjalan lancar. Bahkan dirinya telah mendirikan sebuah Universitas Islam di Moskow, dan mengajarkan tentang apa itu agama Islam, termasuk kepada para politisi senior negeri itu, di antaranya adalah Vladimar Putin, Perdana Menteri Rusia.
Kehidupan Muslim di Rusia saat ini juga kian membaik dibanding masa Komunis dulu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia, Vladimir Putin memasukkan menteri Muslim dalam kabinetnya dan mengakui eksistensi Muslim Rusia. Semoga, islam kembali bersinar di Rusia.*( berbagai sumber)

Bo-Kaap Melayu di Afrika Selatan


Islam berkembang dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali, ke ujung selatan benua hitam, Afrika. Di negara asal Nelson Mandela ini, terdapat sebuah kawasan dengan panorama indah dan berpenduduk mayoritas muslim. Uniknya lagi, mayoritas mereka ialah keturunan melayu. Bo-Kaap nama kawasan ini.
Bo-Kaap adalah sebuah kawasan berpanorama indah di Cape Town, Afrika Selatan. Dulu kawasan ini disebut sebagai Kawasan Melayu karena banyaknya orang Melayu yang menetap di sini. Bo-Kaap memegang peranan yang cukup signifikan dalam sejarah Melayu Muslim di Cape Town.
Cape Town merupakan rumah bagi hampir setengah juta Muslim yang berasal dari beragam negara di Asia. Sementara di Bo-Kaap sendiri terdapat kurang lebih 6.000 jiwa penduduk yang sembilan puluh persennya ialah muslim. Populasi Muslim di Afrika Selatan mencapai 1,5% dari total 44 juta orang yang mendiami negara Afrika Selatan. Islam masuk ke wilayah yang diberi nama Tanjung Harapan ini di tahun 1652, seiring dengan adanya pengiriman budak dan orang-orang yang diasingkan karena alasan politik pada masa kompeni Belanda (Dutch East Indies Company), yang saat itu melakukan aktivitasnya antara Cape Town, Belanda, dan Indonesia (serta daerah sekitarnya).
Kampung Melayu di semenanjung Afrika
Di Cape Town, di mana kawasan Bo-Kaap terletak, rumah-rumah penduduk bercorak khas, paduan antara gaya Timur dan neoklasik. Jalan-jalannya masih buatan batu asli dari abad ke-17. Ada pula rumah penyembelihan hewan, restoran, dan klinik yang hanya meladeni warga beragama Islam. Permukiman yang unik itu dikenal sebagai Kampung Melayu atau The Malay Quarter. Penduduknya kebanyakan keturunan pendatang dari Indonesia, yang tiba di Benua Afrika 300 tahun silam.
Sepintas, orang tak akan yakin mereka keturunan Melayu. Nama panggilannya memang nama-nama islami khas Melayu, tapi nama keluarganya Barat, akibat peraturan dua abad lalu yang mengharuskan mereka memiliki nama yang mudah diucapkan penjajah Belanda. Lagi pula, mereka tidak berbahasa Melayu, tetapi Inggris dan Afrikaans, sejenis bahasa Belanda. Hanya beberapa kata Melayu saja yang masih terselip dalam bahasa mereka.
Menurut ahli-ahli sejarah, orang Indonesia pertama yang tiba di Afrika Selatan terdiri atas budak-budak atau pekerja paksa yang diangkut ke sana oleh pemerintah Hindia Belanda. Menurut arsip museum di Bo-Kaap, selama periode 1652 sampai 1808 tercatat 4.890 budak yang tiba di Cape Town, di antaranya 1.033 berasal dari Indonesia.
Warga muslim, yang terhitung minoritas di Afrika Selatan, ini memiliki semangat yang tinggi dalam berdakwah. Masjid-masjidnya bagus-bagus. Tempat wudhunya di lengkapi dengan tempat duduk, keran air panas dan air dingin, kemudian juga  jamaah diberi fasilitas handuk khusus untuk muka, handuk untuk tangan dan kertas tissue untuk mengelap kaki setelah berwudhu. Bukan hanya itu, mereka juga selalu menaruh tatakan sabun di sebelah keran air sehingga mempermudah jamaah yang hendak cuci tangan dan kaki. Hampir mayoritas di mana-mana standar masjidnya seperti itu.
Terdapat sebelas masjid di Bo-Kaap. Yang tertua ialah Masjid Auwal yang dibangun pada tahun 1798. Masjid ini sekaligus sebagai simbol pengakuan Islam serta eksistensi muslim di Afrika Selatan. Dari masjid ini pula ajaran madzhab Syafiiyah mulai disebarkan. Seperti halnya mayoritas muslim Indonesia, di Afrika Selatan pun mayoritas warga muslim mempraktikkan Islam sesuai madzhab imam Syafii.
Hal yang menonjol lagi adalah bahwa di tempat ini, walaupun bukan negara muslim, namun kebebasan beragama begitu tinggi. Kaum laki-laki muslim mayoritas mengenakan baju gamis dan memelihara jenggot. Sementara kaum perempuannya, mengenakan abaya dan ada juga yang memakai hijab atau burqa sebagai penutup wajah. Mereka dengan leluasa bekerja dengan pakaian dan atribut seperti itu.
Walau minoritas namun masyarakat muslimnya bisa mengontrol dan memaksa produsen makanan besar untuk memastikan bahwa produk mereka mencantukan label halal yang di keluarkan oleh majelis ulama setempat.
Peran Ulama Indonesia
Berbicara soal Islam Afrika Selatan, tak lepas dari sosok seorang ulama Islam asal Makassar, Syaikh Yusuf Al-Makassari. Pada tahun 1693, beliau  diasingkan oleh Belanda ke Tanjung Harapan (Cape Town). Harapan Belanda untuk menjauhkan pengaruhnya terhadap pejuang-pejuang muslim Nusantara memang terwujud. Namun, keberadaannya di kota pelabuhan itu menjadi jalan bersinarnya Islam di sana.  Kampung tempat pengasingannya dinamai Kampung Makassar.
Nelson Mandela, Bapak Bangsa Afrika Selatan, termasuk orang yang menaruh respek kepada tokoh ini. Ia menyebut Syeikh Yusuf sebagai salah satu pemberi inspirasi dalam perjuangan melawan sistem apartheid di negerinya.
Selain Syaikh Yusuf ada nama ulama Indonesia lain yang juga berpengaruh di Afrika Selatan, yaitu Syaikh Abdullah Kadi Abdussalam. Beliau adalah seorang pangeran kerajaan Tidore, Maluku, yang menjadi tahanan politik VOC. Tahun 1780, beliau diasingkan ke Cape Town.
Di Cape Town, beliau dikenal dengan sebutan Tuan Guru. Gelar ini tak berlebihan. Sebab, selain beliau banyak menulis buku-buku keislaman yang sampai abad-19 menjadi referensi utama bagi muslim Afrika Selatan. Beliau juga pendiri madrasah Islam pertama di kota itu.
Semoga semangat muslim Bo-Kaap dan adanya keterikatan psikologis dengan peran ulama Indonesia di sana, bisa menginspirasi geliat aktivis dakwah di negeri ini.*( berbagai sumber)

Sejarah Edirne dan Rumah Sakit Bayezid II

Turki adalah salah satu negeri muslim dengan jumlah penduduk muslim terbesar. Negara ini merupakan pusat pemerintahan kerajaan atau Dinasti Turki Utsmani (Utsmaniyah). Dahulu, ibukota Dinasti Utsmani berada di kota Edirne. Edirne atau sering disebut Adrianopel (Adrianople) adalah sebuah kota di seberang utara Selat Bosporus yang secara geografis menjadi bagian dari benua Eropa. Edirne merupakan pintu sebelah barat yang dilalui oleh Sultan Muhammad Al-Fatih untuk masuk Konstantinopel. Bagi Romawi, saat itu, kota Edirne merupakan kota terbesar kedua setelah Konstantinopel.
Kota Edirne berhasil berhasil dikuasai oleh orang-orang Turki di bawah pemerintahan Murad I (1360-1389 M), penguasa Kerajaan Turki Utsmani (Utsmaniyah). Pada 1362, Murad I berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke kawasan Eropa, dengan merebut, antara lain, Kota Edirne dari tangan Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Sejak saat itu, kekuasaan Utsmaniyah menjadikan kota Edirne sebagai pusat pemerintahannya. Sebab, kawasan ini terletak di tempat yang sangat strategis dalam jalur utama yang menghubungkan Eropa-Turki.
Sebelum dijadikan ibukota pemerintahan Utsmaniyah, Edirne sudah ramai sebagai pusat perdagangan dan juga budaya Muslim. Hampir 100 tahun (satu abad) Edirne menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Turki Utsmani. Selanjutnya, kota ini tidak lagi berfungsi sebagai ibukota. Meskipun demikian, dalam sejarah kekuasaan Utsmaniyah, sebagaimana ditulis oleh Andrew Petersen dalam bukunya, A Dictionary of Islamic Architecture, Edirne tetap menjadi kota penting bagi kekhalifahan Islam tersebut di mana para sultan Utsmaniyah bermukim.

Rumah Sakit Bayezid II
Selama pemerintahan Dinasti Turki Utsmani, negara ini berkembang pesat dalam berbagai bidang, termasuk arsitektur. Sejumlah bangunan bersejarah terdapat di negeri ini. Mulai dari bangunan Aya Sophia, Istana Topkapi, hingga Masjid Biru. Satu hal yang sering kali luput dari perhatian adalah rumah sakit. Sebagai pusat kesehatan, Pemerintah Turki Utsmani menaruh perhatian besar dalam bidang ini. Sejumlah rumah sakit dibangun untuk membantu rakyat dalam menjaga kesehatan. Salah satu rumah sakit yang berdiri megah dan kokoh adalah Rumah Sakit Bayezid II yang berdiri di dalam kompleks (kulliye) Bayezid II, di kota Edirne.
RS Bayezid II dibangun atas perintah Sultan Bayezid II. Proses pembangunan Kulliye Bayezid II berikut bangunan rumah sakitnya memakan waktu empat tahun, dari 1484 M hingga 1488 M. Hingga abad ke-19 M, para dokter dididik di rumah sakit yang sekaligus menjadi sekolah kedokteran itu.
Yulianto Sumalyo dalam bukunya yang bertajuk  Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim  mengungkapkan, setibanya di Edirne dalam perjalanan ke Balkan bersama pasukannya pada akhir musim semi 1484 M, Sultan Bayezid II memerintahkan membangun banyak proyek, yaitu masjid baru dan pusat kesehatan (medical centre) termasuk di dalamnya rumah sakit, sanatorium, rumah sakit jiwa dan sekolah kedokteran di tepian Sungai Tunca.
Seperti halnya di sejumlah kota lain yang berada dalam wilayah kekuasaan Utsmaniyah, bangunan-bangunan tersebut didirikan dalam sebuah kompleks (kulliye). Untuk perencanaan pembangunannya, Sultan Bayezid II menunjuk arsitek kerajaan pada waktu itu, Mimar Hayrettin, untuk mendesain keseluruhan bangunan dalam Kulliye Bayezid II ini.
Bangunan rumah sakit (darusysyifa) dan rumah sakit jiwa (timarhane) Bayezid II terletak di sisi barat daya bangunan masjid dalam Kompleks Bayezid II. Tata letak rumah sakit tersebut terbilang cukup unik, pada ujung selatan terdapat unit berdenah segi delapan, pada masing-masing sisinya terdapat ruang-ruang untuk perawatan.
Setiap ruang dalam unit ini beratap kubah, termasuk sebuah ruangan yang menyerupai hall. Namun berbeda dengan kubah pada ruang perawatan, kubah di atas hall jauh lebih besar dan dilengkapi dengan sebuah lantern yang terdapat pada bagian puncak kubah tepat di atas bak air besar yang terdapat di tengah-tengah hall. Lantern tersebut juga beratap kubah, namun dalam ukuran yang lebih kecil.
Bagian penampang kubah hall berbentuk segi dua belas. Di sekeliling dinding kubah berbentuk silindris ini terdapat jendela-jendela yang berfungsi sebagai celah sirkulasi udara. Sinar matahari dan udara alami masuk melalui jendela-jendela tersebut hingga ke dalam ruangan yang berada tepat di bawah kubah.  

Istimewa
Rumah sakit Sultan Bayezid II ini beroperasi selama empat ratus tahun sejak diresmikan tahun 1488 M hingga berkecamuknya Perang Rusia-Turki (1877-1878 M). Hingga abad ke-19 M, rumah sakit ini menjadi salah satu rumah sakit rujukan bagi pasien-pasien yang hendak menjalani perawatan bedah dan mereka yang mengidap penyakit mental.
Sejarah mencatat, RS Bayezid II terutama terkenal karena memiliki tenaga-tenaga ahli bedah yang terampil. Di samping juga terkenal karena metode pengobatan untuk penyakit mental yang diberikan kepada para pasien di timarhane (rumah sakit jiwa). Metode pengobatan penyakit mental yang dilakukan oleh para dokter di rumah sakit ini menggunakan terapi bermacam-macam; suara air, dan penggunaan wewangian atau yang dikenal dengan aromatherapy.
Selain terkenal karena para ahli bedah serta terapi mental yang dimilikinya, RS Bayezid II juga terkenal berkat pusat pengobatan matanya. Karenanya pada masa lalu, rumah sakit ini menjadi satu-satunya rumah sakit rujukan bagi penderita penyakit mata.

Health Museum
Kini bangunan rumah sakit bersejarah tersebut menjadi bagian dari kompleks Universitas Trakya yang juga berada di kota Edirne. Dan, sejak tahun 1997, bangunan rumah sakit tersebut dialihfungsikan menjadi sebuah museum kesehatan bernama Bayezid II Kulliye Health Museum. Museum tersebut didedikasikan untuk mengenang peran dan kontribusi penguasa Utsmaniyah dalam mengembangkan khazanah ilmu pengobatan dan kedokteran.
Hingga saat ini, Bayezid II Kulliye Health Museum menjadi satu-satunya museum kesehatan yang terdapat di Turki. Museum ini memberikan berbagai informasi penting seputar sejarah dan perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan, khususnya pada masa pemerintahan Utsmaniyah, kepada para pengunjung.
Museum ini tercatat sebagai tempat bersejarah kedua di Edirne yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan setelah Masjid Selimiye (Sultan Salim). Karenanya, pada tahun 2004, Bayezid II Kulliye Health Museum dianuegrahi  Museum Award oleh Dewan Kebudayaan Eropa.*(hafizh/republika dan beberapa sumber)

Ketika Tunisia Negeri Syariah yang Hilang Terjajah


Negara Tunisia, atau yang kini dikenal dengan nama Republik Tunisia (dalam bahasa Arab: Al-Jumhuriyah At-Tunisiyah) adalah sebuah negara Arab Muslim di Afrika Utara, tepatnya di pesisir Laut Tengah. Tunisia berbatasan dengan Al-Jazair di sebelah barat dan Libya di sisi timur serta selatannya. Sementara itu, seluruh bagian utara dan sebagian garis batas timur negara ini dibatasi oleh pantai Laut Tengah sepanjang 1.148 kilometer. Di antara negara-negara Afrika bagian utara yang dilalui pegunungan Atlas, wilayah Tunisia merupakan yang terkecil dan paling timur. Seluas 40 persen wilayah Tunisia merupakan padang pasir Sahara, sementara sisanya termasuk lahan subur.
Tunisia Sebelum Islam
Sejarah Tunisia dapat ditelusuri dari berdirinya Kerajaan Carthage (Kartago) sekitar tahun 814 SM. Pada abad ke-2 SM, Kerajaan Kartago mengalami kehancuran hingga mengakibatkan saling bergantinya kekuasaan asing di Tunisia.
Tunisia, yang saat itu lebih dikenal dengan nama Afrika, pada perkembangan selanjutnya menjadi pusat Kerajaan Romawi di Selatan Mediterania. Kedaulatannya meliputi sebagian wilayah kekuasaan Kerajaan Carthage. Antara tahun 439-533 M, Tunisia dikuasai oleh pasukan Vandal, sebelum ditaklukkan kembali oleh Kerajaan Roma Byzantium (533-647 M).
Posisi kekuasaan Kerajaan Carthage dan Kerajaan Roma (Italia) sebelum Perang Punic II (218 SM). Setelah perang itu, Sardenia dan Sicilia dapat dikuasai kembali oleh Carthage. Sicilia berhasil direbut kembali oleh Roma setelah kemenangan mereka di perang Punic III (146 SM), yang mengawali kedaulatan Roma atas wilayah Tunisia.
Fajar Islam
Pada pertengahan abad ke-7 M, Uqbah bin Nafi r.a., seorang sahabat Rasulullah SAW, memasuki Tunisia bersama pasukannya. Tahun 647 M pasukan Uqbah r.a. berhasil menaklukkan Sbeitla (Sufetula) yang menandai bermulanya era Arab-Islam di Tunisia. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 670 M, Uqbah r.a. berhasil menaklukkan kota Kairouan. Kota ini terletak sekitar 156 kilometer arah selatan kota Tunis, ibukota Tunisia modern. Kemudian Uqbah memilih Kairouan sebagai ibukota pemerintahan dan pusat penyebaran Islam di wilayah Afrika Utara.
Seiring perubahan kondisi politik masa itu, Kairouan juga menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Dinasti Umawiyah. Pada 698 M, pasukan Islam di bawah pimpinan Hassan bin an-Nu’man dan Musa bin Nushair berhasil menaklukkan Carthage. Kemenangan atas Carthage ini membawa dampak positif bagi perkembangan Islam di wilayah Tunisia. Bahkan, pada tahun 711 M, yaitu pada masa keemasan Dinasti Umawiyah, agama Islam telah tersebar ke daratan Eropa. Hal ini ditandai dengan berhasil ditaklukkannya Andalusia (Spanyol dan kawasan Iberia di sekitarnya) oleh pasukan Thariq bin Ziyad.
Pada tahun 748 M, Dinasti Umawiyah digantikan oleh Dinasti Abbasiah. Peristiwa ini menyebabkan Tunisia terlepas dari pengawasan pusat kekhalifahan. Namun, dalam kurun waktu yang tak begitu panjang, kemudian dapat dikuasai lagi oleh Dinasti Abbasiah, yaitu pada tahun 767 M. Pada tahun 800 M, Ibrahim Ibn Aghlab ditunjuk sebagai Gubernur Afrika Utara yang berkedudukan di Kairouan. Pada masa ini, Masjid Agung Ezzitouna didirikan di kotaTunis.
Masa-masa selanjutnya adalah era kejayaan peradaban Islam di Tunisia dan kawasan Arab Maghribi. Dinasti Aghlabiah (767-910), Fatimiah (910-973), Ziridiah (973-1062), Almohad (1159-1228) dan Hafsiah (1230-1574) silih berganti memegang tampuk kekuasaan di Tunisia, hingga masuknya Tunisia dalam wilayah Khilafah Turki Utsmaniah (1574-1591). Di masa Khilafah Utsmaniah ini, Tunisia menjadi wilayah otonom di bawah pemerintahan Dinasti Dey (1591-1659), Mouradi (1659-1705) dan Huseini (1705 –1957).
Karena itulah, Kairouan dan Mahdia kini menjadi kota tujuan wisata sejarah Islam terpenting di Tunisia, selain Masjid Ezzitouna di kota Tunis. Di Kairouan dan Mahdia, kita bisa mengunjungi masjid-masjid tua, benteng, serta istana sisa peninggalan peradaban Islam.
Umat Islam Tunisia hidup secara damai. Nilai-nilai keagamaan dijunjung tinggi dalam kehidupan keseharian. Masjid Agung Ezzitouna di kota Tunis dan Masjid Uqbah di Kairouan, kerap menjadi pusat kegiatan keagamaan dalam skala nasional maupun internasional.
Sebagai imbas penjajahan Perancis selama rentang abad 19 dan 20 Masehi, arus modernisasi dan kebudayaan Eropa merasuki pola hidup rakyat Tunisia, termasuk dalam kehidupan beragama. Sehingga, kini, model Islam “modern “dan “moderat” menjamur dan menjadi semacam tren di tengah-tengah umat Islam Tunisia. Sebagai salah satu imbas dari modernisasi ini, gerakan tarekat sufi yang dulu cukup berkembang dan banyak diminati oleh kaum muslim Tunisia, kini tampak tersisih.
Di kota Mahdia, terdapat komunitas muslim Syiah. Kota ini dahulu adalah pusat Dinasti Fatimiyah setelah menaklukkan Kairouan yang berpaham Sunni Maliki. Dinasti Fatimiyah berjaya di Tunisia selama rentang tahun 910-970 M, kemudian melebarkan kekuasaan mereka ke Mesir, di mana mereka membangun Kairo sebagai ibukota pemerintahan yang baru dan mendirikan Masjid Al-Azhar yang merupakan cikal bakal Universitas Al-Azhar.
Mayoritas rakyat Tunisia adalah penganut agama Islam (99,5%). Islam dinyatakan sebagai agama resmi negara. Selain Islam, juga terdapat masyarakat yang beragama Yahudi dan Kristen. Dalam hal beribadah, mayoritas rakyat muslim Tunisia bermadzhab Maliki, sama halnya dengan kebanyakan umat Islam di kawasan Afrika Utara lainnya. Meski demikian, umumnya mereka cukup toleran serta tidak fanatik dalam menganut madzhab fikih tertentu.
Sebagaimana telah jamak diketahui, kekuatan penjajahan Perancis di masa-masa abad 19-20 cukup mendominasi kawasan Afrika Utara. Meski telah lepas dari penjajahan Perancis sejak 1956 M, namun dampak negatif yang ditinggalkan sungguh besar. Tidak hanya merubah kebudayaan dan gaya hidup rakyat muslim di sana, namun yang lebih fatal lagi ialah terlepasnya ikatan hukum syariat Islam yang telah sekian lama menjadi bagian tak terpisahkan dalam tata-sosial masyarakat Tunisia. Terbukti, kini demokrasi menjadi satu unsur penting yang mewarnai kehidupan kenegaraan masyarakat Tunisia. Meskipun, beberapa kalangan menilai, pelaksanaannya masih setengah-setengah (semi-demokrasi) karena pengaruh Islam tidak serta merta dapat dihapuskan begitu saja.
Walaupun publik dunia menilai Tunisia sebagai negara di Afrika Utara yang relatif stabil kondisi politiknya, namun fakta adanya konflik antara pemerintah dengan para pejuang Islam tidak pula dapat diabaikan. Pada dekade 1980-an, ketika berbagai gerakan Islam yang menuntut diberlakukannya syariat Islam menguat di Tunisia, rezim penguasa cukup represif menghadapi mereka. Sehingga, kini, kelompok-kelompok pergerakan Islam itu lebih memilih untuk menggalang kekuatan secara klandestin (bergerak di bawah tanah).
Dalam upaya melanggengkan kekuasaan di tengah sistem sekuler, pihak penguasa banyak menahan lawan-lawan politiknya. Mereka berasal dari kalangan aktivis HAM, para penentang kebijakan, kritikus, dan terutama sekali lawan dari kalangan pergerakan Islam. Menurunt laporan Human Rights Watch (Juli 2004), Tunisia diperkirakan masih memenjarakan sekitar 500-an orang narapidana politik. Selain itu, penguasa juga melakukan kontrol dan sensor ketat terhadap lalu lintas informasi di  media-massa.

ISLAMBUL Tetapi Bukan ISTANBUL



Kota Istanbul di Turki, memiliki sejarah yang panjang. Ketika mendengar nama kota ini disebut segera yang terbayang dibenak kita ialah gambaran kebesaran imperium Utsmani. Dan memang, di kota ini banyak terdapat situs peninggalan kekaisaran Turki Utsmani. Situs-situs bersejarah itu menginformasikan betapa besar dan kuatnya Turki Utsmani di bawah para khalifahnya untuk menembus wilayah-wilayah Eropa membawa agama Islam.
Kota ini didirikan pada abad ke-7 SM. Pada tahun 330 M, kota itu dijadikan sebagai ibu kota Romawi oleh Konstantin di tempat koloni Yunani kuno bernama Bizantium, dan dinamakan Konstantinopel untuk sang kaisar. Kota ini menjadi ibukota timur bagi Kekaisaran Romawi dan kemudian menjadi ibukota Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 395 M. Pada tahun 1453 M, Konstantinopel berhasil direbut oleh Kesultanan Utsmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad II.
Peristiwa bersejarah ini merupakan salah satu bukti kebenaran nubuwat Rasulullah saw. Sebab, beliau pernah bersabda bahwa Konstantinopel akan dikuasai oleh umat Islam. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Abdullah bin Amru bin Ash ditanya, “Yang manakah di antara kedua kota ini yang ditaklukkan terlebih dahulu? Konstantinopel ataukah Roma?” Maka beliau memerintahkan seseorang untuk mengambil sebuah kotak yang ada padanya. Lalu, kotak itu diberikan kepadanya. Dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya secarik kertas. Lantas beliau berkata, “Ketika kami sedang menulis bersama Rasulullah saw, beliau ditanya: yang mana di antara kedua kota ini yang ditaklukkan terlebih dahulu. Konstantinopel ataukah Roma. Beliau menjawab, “Kota Heraklius terlebih dahulu, yakni Konstantinopel.”
Rasulullah telah mengucapkan kata-kata itu sejak 850 tahun sebelum pembebasan Konstantinopel terjadi. Dan Konstantinopel memang benar-benar ditaklukkan. Rasulullah juga memberi kabar gembira bahwa pasukan yang menaklukannya adalah sebaik-baik pasukan, sedangkan panglimanya adalah sebaik-baik panglima.

Menembus Eropa
Setiap pahlawan Islam selalu bercita-cita untuk menjadi orang yang dimaksud Rasulullah SAW dalam haditsnya sebagai panglima yang terbaik dan tentaranya tentara yang terbaik yang mampu membebaskan Kontantinopel.
Sejak Rasulullah SAW masih hidup, beliau sudah berupaya mengajak penguasa Konstatinopel agar mau memeluk Islam. Selembar surat ajakan masuk Islam dari nabi SAW telah diterima Kaisar Heraklius di kota ini.

Dari Muhammad utusan Allah kepada Heraklius Raja Romawi.
Bismillahirrahmanirrahim, salamun ‘ala manittaba’al-huda. Amma ba’du,
“Sesungguhnya Aku mengajak anda untuk memeluk agama Islam. Masuk Islam-lah, maka Anda akan selamat dan Allah akan memberikan Anda dua pahala. Namun jika Anda menolak, Anda harus menanggung dosa orang-orang Aritsiyyin.”

Dikabarkan bahwa saat menerima surat, Kaisar Heraklius cukup menghormati dan membalas dengan mengirim hadiah penghormatan. Namun dia mengaku bahwa dirinya belum siap memeluk Islam.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar ra, Khalid bin Walid dikirim sebagai panglima perang menghadapi pasukan Romawi. Khalid memang mampu membebaskan sebagian wilayah Romawi dan menguasai Damaskus serta Palestina (Al-Quds). Tapi tetap saja ibukota Romawi Timur saat itu, Konstantinopel, masih belum tersentuh.
Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan Islam yang merebut Al-Quds kembali dari tangan Romawi sekalipun, masih belum mampu membebaskan Konstantinopel. Padahal beliau pernah mengalahkan serangan tentara gabungan dari Eropa pimpinan Richard yang berjuluk The Lion Heart  dalam perang Salib.
Dan sejarah memperlihatkan, ternyata sosok yang disebut oleh Rasulullah dalam hadits itu ialah Sultan Muhammad Al-Fatih. Tidak mudah memang untuk membebaskan Konstantinopel. Kotanya cukup unik, karena berada di dua benua, Asia dan Eropa. Di tengah kota ada selat Bosporus yang membentang, ditambah benteng-benteng yang cukup merata.
Tetapi Sultan Muhammad Al-Fatih tidak pernah menyerah. Sejarah mencatat beliau telah memerintahkan para pakar dan insinyurnya untuk membuat sebuah sebuah meriam raksasa. Dengan peluru logam baja, suaranya mampu menggentarkan nyali musuh. Meriam ini mampu menembak dari jarak jauh serta meluluh-lantakkan benteng Bosporus. Ini adalah senjata tercanggih kala itu.
Konstantinopel berhasil ditaklukkan dengan kerja keras luar biasa. Konstantin sendiri pun terbunuh dalam perang itu. Meski Konstantin adalah seorang Kristen, tapi sikap satrianya di medan perang patut dicontoh. Ia terbunuh sebagai perwira. Ia terbunuh saat bertempur di atas kudanya di jalan raya Konstantinopel. Mampukah kepala negara di setiap negeri muslim hari ini berbuat hal yang sama seperti Konstantin yang Nasrani itu?!

Sang Pembebas
Muhammad Al-Fatih, dari sisi keshalihannya, disebutkan bahwa beliau tidak pernah meninggalkan tahajud dan shalat rawatib sejak baligh hingga saat wafat. Dan kedekatannya kepada Allah SWT ditularkan kepada tentaranya.
Itulah barangkali kunci utama keberhasilan beliau dan tentaranya dalam menaklukkan kota yang dijanjikan nabi SAW. Rupanya kekuatan beliau bukan terletak pada kekuatan fisik semata. Tapi dari sisi hubungan kepada Allah, nyata bahwa beliau dan tentaranya sangat menjaga kedekatan lewat shalat fardhu, shalat malam (qiyamul lail) dan ibadah sunnah lainnya.
Karena prestasinya menaklukkan Konstantinopel, Muhammad kemudian mendapat gelar Al-Fatih, Sang Pembebas. Namun orang Barat menyebutkan The Conqueror, Sang Penakluk. Ada kesan bila menggunakan kata “Sang Penakluk” bahwa beliau seolah-olah penguasa yang keras dan kejam. Padahal gelar yang sebenarnya dalam bahasa Arab adalah Al-Fatih. Artinya ‘pembuka’ atau ‘pembebas’. Kata ini terkesan santun dan beradab. Karena pada hakikatnya, yang beliau lakukan bukan penaklukan atau penindasan, melainkan pembebasan menuju kepada iman dan Islam.
Yang lebih menarik, meski beliau punya kedudukan tertinggi dalam struktur pemerintahan, namun karena keahlian beliau dalam ilmu strategi perang, hampir seluruh perjalanan jihad tentaranya beliau pimpin secara langsung. Bahkan beliau tetap berangkat berjihad kendati sedang menderita sakit.

Islambul
Dalam Fie Zhilali Surati at-Taubah (Di Bawah Naungan Surat At-Taubah), Dr. Abdullah Yusuf Azzam menulis bahwa setelah membebaskan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih mengubah nama kota ini menjadi Islambul yang berarti Kota Islam.
Jadi, sebetulnya bukan Istanbul seperti kita kenal sekarang. Penyebutan Istanbul muncul dari orang Barat. Karena merasa berat dan risih mendengar kata Islam, maka mereka menyebutnya sebagai Istanbul. Dalam buku itu, Dr. Abdullah Azzam juga mengajak, “Kalau kita ingin menghilangkan nama Konstantinopel, maka sebut kota ini sebagai Islambul, bukan Istanbul.”
Hingga kini Islambul terus menjadi kota terbesar (dan mungkin juga kota terpenting) bagi Turki, sekalipun yang menjadi ibukota Turki adalah Ankara.

Damaskus Adalah Kota Ribath Dunia Islam



Damaskus, bagi kaum muslimin, terutama yang peduli terhadap sejarah Islam, tentu tak asing lagi. Sejak Khalid bin Walid, Abu Ubaidah bin Jarrah dan sahabat lainnya masuk kawasan Syam, maka berubahlah tanah kelahiran para nabi itu menjadi negeri Islam.
Bahkan, tidak lama sepeninggalan Nabi Muhammad, yakni di zaman Khilafah Bani Umayyah pusat pemerintahan Islam pindah ke sana dari yang sebelumnya di Madinah. Berabad-abad lamanya Damaskus menjadi pusat peradaban dan pemerintahan khilafah Bani Umayyah.
Masjid-masjid dibangun megah. Perpustakaan-perpustakaan sebagai pusat studi dan riset ilmiah didirikan pula. Dari kota ini pula ulama-ulama Islam lahir sebagai pengiring perjalan umat dan mengarahkan perjuangan agama.
Yang membuat kota ini berbeda dengan kota-kota lainnya adalah karena keberadaannya yang di Syam, negeri para rasul dan nabi. Syam yang merupakan nama lama untuk beberapa negara, yaitu Palestina, Yodania, Libanon dan Suriah (Syria) telah tersirat dan tersurat di dalam Quran dan Hadits Nabawi.
Mengenal Negeri Para Nabi
Damaskus dikenal sebagai kota para nabi. Keramahan dan kemurahan penduduk kota Damaskus menambah keberkahan bagi kota ini. Kota empat musim ini selalu membawa keindahan dan kekayaan alam buah-buahan yang silih berganti.
Ulamanya terkenal dengan keilmuan dan ketakwaannya. Mereka mengajar tanpa meminta imbalan, bahkan sebaliknya memberi hadiah bagi yang menghadiri pengajiaan mereka.
Tradisi baik seperti ini masih terjaga sejak zaman keemasan Damaskus lebih dari seribu tahun lalu, saat ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari, Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan beribu-ribu ulama besar lainnya yang pernah menjadikan Damaskus sebagai tempat menimba dan mengajarkan ilmu kepada generasi Islam dari berbagai penjuru dunia. Semua keilmuan Islam diajarkan di kota tertua ini. Sungguh mengagumkan.
Tidak dipungkiri bahwa Damaskus adalah negeri yang bersejarah. Masih nampak dengan jelas berbagai peninggalan sejarah masa lalu. Di antaranya adalah Al-Jami’ Al-Umawi (Masjid Agung Umawi). Terletak di tengah kota Damaskus dan dikelilingi oleh pasar tua, namun bersih dan rapi. Penduduk Damaskus menamakannya Suq Al-Hamidiyyah. Masjid Umawi dijadikan universitas gratis sebagai sarana kaderisasi pemuda Islam.
Al-jami’ Al-Umawi dibangun sejak Abu Ubaidah Ibnul Jarrah menguasai Damaskus dan sekitarnya dengan cara damai. Kemudian masjid ini dipugar dan dibangun kembali dengan megah oleh Khalifah Umayyah, Al-Walid Bin Abdul Malik pada tahun 95 H, atau bertepatan dengan 705 M. Setelah dipugar, masjid ini menjadi masjid termegah dan terbesar pertama dalam sejarah Islam.
Perhatian masyarakat Damaskus terhadap masjid amat besar. Biasanya, masjid dibangun besar-besar, jarak antara satu dengan yang lain tidak terlalu berjauhan, kondisinya bersih, nyaman dan selalu saja ada yang belajar ilmu syar’i di dalamnya, mulai dari metode salaf (talaqqi), sampai dengan konsep belajar modern.
Rasulullah Berbicara Soal Syam
Ibnu Umar berkata, Rasulullah bersabda, “Ya Allah, berkahilah kami dalam negeri Syam dan negeri Yaman.” Sebagian sahabat berkata, “Dan negeri Najd (dalam riwayat lain: Iraq)?” Beliau berkata, “Ya Allah, berkahilah kami dalam negeri Syam dan negeri Yaman.” Sebagian sahabat berkata, “Dan negeri Najd?” Beliau menjawab, “Di sana terdapat gempa, fitnah dan keluarnya tanduk syaitan.” (HR. Bukhari)
Abdullah bin Hawalah Azdy berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kalian akan menjadi pasukan-pasukan perang, satu pasukan di Syam, satu pasukan di Iraq dan satu pasukan di Yaman.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, pilihkan untukku!” Rasulullah menjawab, “Pilihlah Syam, dan barangsiapa yang enggan maka hendaklah ia bergabung dengan dengan Yaman dan meminum dari kolam-kolam air Yaman. Sesungguhnya Allah telah menaungi Syam dan penduduknya.” (HR. Shahih Ibnu Hibban no. 7306)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Muadz bin Jabal dan Hudzaifah bin Yaman tatkala mereka berdua meminta petunjuk kepada Rasul untuk tempat tinggal mereka sesudah wafat Rasulullah. Rasul menyarankan mereka untuk tinggal di Syam karena orang-orang pilihan Allah tinggal di negeri ini. (Lihat Mu'jamul Kabir no. 137)
Markas Tentara Allah
Abu Darda berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sesunguhnya kekuatan Muslimin pada waktu itu di Ghuthah, di samping kota yang bernama Damaskus yang paling terbaik di negeri Syam.” (HR Abu Daud)
Dalam konteks peradaban, dunia Islam—yang terbentang luas dari Maroko hingga Merauke—memiliki pusat di Jazirah Arab. Pusat “hidayah” ada di Najd: sekitar Makkah dan Madinah. Sedangkan, kawasan tsughur dan ribath (tapal batas) berada di Syam. Letaknya yang secara geografis berhimpitan dengan benua Eropa, dengan  otomatis menjadikan kawasan ini sebagai benteng dunia Islam secara keseluruhan dan ancaman bangsa Romawi yang ulet hingga kini.
Maka tidak heran pula jika dalam berbagai hadits, Rasulullah menyatakan, kualitas penduduk Syam melebihi kualitas orang-orang di belahan dunia Islam lainnya, secara umum. Sebab, mereka menjadi tumpuan untuk menahan musuh di kawasan pintu akses yang paling strategis itu.
Memuliakan Muhajir
Kiranya, kelebihan-kelebihan penduduk Syam, tercermin dalam kemurahan hati masyarakat Damaskus pula. Salah satu contohnya, perlakuan mereka terhadap para pengungsi (Muhajirin) Palestina akibat pengusiran Yahudi 1948 M. Di pinggiran kota Damaskus terdapat sebuah kawasan khusus penampungan Muhajirin Palestina yang berjumlah sekitar 600 ribu orang. Namanya Mukhayyam Yarmuk.
Barangkali terbayang, saat mendengar kata Mukhayyam (tempat berkemah) itu adalah kemah-kemah besar yang dijadikan tempat tinggal Muhajirin Palestina tersebut. Namun, tak ada satupun kemah di sana. Yang terlihat adalah komplek pertokoan bertingkat (ruko) besar dengan bangunan modern. Di situlah Muhajirin Palestina tinggal sejak tahun 1948, 1967 dan terus saja mengalir sampai saat ini. Bahkan beberapa tokoh besar Hamas pun diberikan kemudahan dan perlindungan tinggal di sana, seperti Khalid Misy’al.
Demikianlah Damaskus, sebagai bagian dari Syam. Semoga benteng dunia Islam ini semoga tetap tegak dan semakin kokoh seperti dahulu di masa keemasan Bani Umayyah

Sekilas Nigeria

Nigeria adalah sebuah negara yang terletak di belahan Afrika Barat. Negara ini berbatasan dengan Niger, Benin, Chad dan Kamerun. Dengan wilayah seluas 923.768 km2, negara beriklim tropik dan kering ini dihuni oleh sekitar 133.881.703 orang penduduk.
Negara ini mempunyai keunikan luar biasa, antara lain didiami oleh kurang lebih 250 suku, dengan beragam agama, kepercayaan, dan budaya. Suku Hausa sebanyak 20% menguasai politik dan militer, suku Yaruba 20% mengontrol pers dan keuangan, suku Ibo 17% menguasi tanah dan minyak, suku Fulani 9% cenderung mengurusi diri sendiri.
Nigeria menjadi sorotan dunia, karena terjadi silih bergantinya kekuasaan dengan cara kudeta, dan ini bermula karena adanya pertentangan yang begitu tajam antara penganut Islam dan Kristen. Penyebab utamanya adalah jumlah penganut Islam dan Kristen yang berimbang, dan kekuasaan militer yang begitu dominan, serta kebijakan dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial Inggris dianggap tidak adil bagi kalangan Islam.
Perimbangan kekuatan Islam dan Kristen dimanfaatkan oleh Inggirs ketika menjajah Nigeria pada abad 19. Umat Islam tidak dibenarkan membangun masjid atau pindah ke tempat  lain tanpa seizin pemerintah kolonial. Sebaliknya, bagi penganut Kristen bebas. Hal ini berlanjut sampai Jendral Gowon (seorang Kristen) berkuasa di Nigeria, dan berhasil mengkristenkan sebagian umat Islam di Nigeria Utara. Ketidakadilan memang menjadi penyebab terjadinya perang agama dan perang saudara di Nigeria.

Sejarah Pemerintahan
Republik Federal Nigeria semula beribukota Lagos, setelah memperoleh kemerdekaan dari Inggris. Namun pada tanggal 12 Desember 1991 pindah ke Abuja (Nigeria bagian tengah). Wilayah Nigeria terbagi ke dalam 36 negara bagian dan 1 teritorial.
Sejarah perjuangan Nigeria memperoleh kemerdekaan dari Inggris sangat panjang, dimulai dari pemerintahan lokal pada abad 10 yang dipelopori Kekaisaran Kanem Borno. Pada abad 11 sampai dengan abad 14, orang Islam Hausa mengontrol jalur perdagangan Trans Saharan. Lalu pada abad 15 muncul Kekaisaran Benin dan Yoruba. Pemerintah kolonial Portugal pada abad 15 mulai mengontrol perdagangan budak.  Pada abad 17, Kerajaan Yoruba berdiri, lalu disusul dengan berdirinya sistem politik Igbo (Ibo).
Pada tahun 1914, Nigeria menjadi Negara Protektorat Inggris, dan gerakan kemerdekaan dimulai pada tahun 1920. Lalu pada tanggal 1 Oktober 1960, Nigeria memperoleh kemerdekaannya dari Inggris, sekaligus menjadi anggota Commonwealth. Pada tanggal 1 Oktober 1963, Nigeria menjadi Republik, dan presiden pertama yang diangkat adalah Dr. Mnamdi Azikiwe, sedangkan Perdana Menterinya adalah Alhaji Abubakar Tafawa Balewa.
Pada tanggal 29 Juli 1966, Letnan Kolonel Yacubus Gowon mengadakan kudeta. Sejak saat itu, keberadaan umat Islam di utara semakin tidak nyaman dan terjepit. Kediktatorannya menimbulkan ketidakpuasan, dan pada akhirnya terjadi kudeta kedua yang dipimpin oleh Jendral Murtala Muhammad pada tanggal 20 Juli 1975. Jendral Murtala Muhammad terbunuh pada tanggal 13 Pebruari 1976, dan digantikan oleh Jendral Olusegun Obasanjo.
Pada tanggal 1 Oktober 1979, diadakan pemilihan presiden, dan akhirnya terpilih Alhaji Shehu Shagari dari Partai Nasional Nigeria. Presiden Shehu Shagari terpilih kembali pada tahun 1983, namun pada tanggal 31 Desember 1983, Shehu Shagari dikudeta oleh Mayor Jendral Muhammadu Buhari. Nasib Muhammadu Buhari juga tak lebih baik, karena pada tanggal 27 Agustus 1985, ia dikudeta oleh Mayor Jendral Ibrahim Babangida.
Pemerintahan Babangida berakhir pada tanggal 26 Agustus 1993 dan digantikan oleh Ernest Shonekan. Pada tanggal 17 Nopember 1993, Jendral Sani Abacha terpilih sebagai Presiden Nigeria. Namun, pada tahun 1993 itu juga diadakan pemilihan umum, dan terpilih Moshood Abiola. Namun kemenangan Moshood Abiola tak pernah diakui, malah ia ditangkap dan dipenjara. Tindakan ini mendapat kecaman internasional. Pada bulan Juni 1998, sebelum pemerintahan Sani Abacha berakhir, ia meninggal mendadak, dan jabatannya digantikan oleh anggota junta militer, Jendral Abdulsalam Abubakar.
Kekuasaan militer mutlak selama 10 tahun di Nigeria diakhiri oleh Jendral Abdulsalam Abubakar dengan mengadakan pemilihan umum. Dan Olusegun Obasanjo terpilih menjadi presiden. Namun demikian kaum muslim di bagian utara Nigeria tak serta merta hidup tenang. Mereka terus menuntut hak dan berjuang hingga syariat Islam bisa diberlakukan di tanah mereka.

Perkembangan Islam di Nigeria
Islam dianut oleh 50% dari total penduduk Nigeria. Islam mempunyai sejarah yang panjang di negri ini, dan hampir menguasai seluruh Nigeria pada abad 11 sampai abad 19, sebelum kolonial Inggris menguasai Nigeria, khususnya Nigeria Utara. Penyebaran Islam di Nigeria terbagi dalam tiga periode, yaitu periode Trans Sahara dan Afrika Utara, periode Atlantik dan periode kemerdekaan.
Pada masa Trans Sahara dan Afrika Utara, bermula ketika Uqbah ibn-Nafi’ pada tahun 667 M datang ke Sahara Tengah, dan membuka rute perdagangan ke Kanem-Borno, Nigeria Utara. Rute perdagangan ini dilanjutkan oleh putra Uqbah, yaitu Ubaidillah sampai ke Kerajaan Ghana karena adanya perdagangan emas, dan berlanjut sampai dengan abad 11. Di samping melakukan perdagangan, para pedagang Muslim juga memperkenalkan Islam. Akhirnya Islam dapat berbaur dengan masyarakat setempat.
Islam berkembang sangat pesat di seluruh Afrika Barat, tidak hanya di Nigeria, sehingga bahasa Arab dijadikan sebagai media komunikasi di kawasan itu. Ketika Portugis memasuki Afrika Barat pada abad 15, dalam rangka perdagangan budak, maka penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi mulai berkurang. Hal ini berlanjut sampai datangnya Perancis dan Inggris pada abad 19. Dua negara terakhir inilah yang akhirnya menguasai sebagian besar wilayah Afrika Barat.
Di masa orientasi Atlantik, pada abad 16, muncul kerajaan baru di Benin, Oyo, Dahomey dan Ashante, disusul kemudian kerajaan Bambara yang masih dikuasai oleh animisme. Komunitas Muslim di wilayah tersebut mulai mengadakan jihad. Jihad pertama dilakukan oleh Utsman Don Fodio pada tahun 1804 di Sokoto, yang meminta kepada pemerintah Sokoto, yang dikuasai oleh suku Hausa, agar memberlakukan ajaran Islam. Peradagangan budak semakin menipis, dan Eropa menghentikan kebutuhan akan budak, dan akhirnya kerajaan Oyo jatuh.
Namun ketika kolonial Inggris mulai masuk di Nigeria, kehidupan komunitas Islam di sana mulai terjepit. Dimulai ketika diberlakukan Pax Brittanica yang mengatur agar setiap muslim yang akan bepergian atau membangun masjid harus mendapatkan izin dari pemerintah kolonial. Namun sebaliknya, bagi pemeluk Kristen tidak dikenakan aturan serupa. Kerajaan Sokoto dan Borno mulai melemah, namun komunitas Muslim menyebar ke Selatan, yaitu ke Etsako, Niger-Benue dan kota-kota wilayah Yoruba, semisal Ogbomoso, Oyo, Ibadan, Sagamu, Ijebu-Ode dan Abeokua. Budak-budak muslim yang berasal dari suku Hausa menyatu secara sosial-politik di kota-kota tersebut dan menjadikan Islam sebagai simbol Yoruba untuk menolak penetrasi kebudayaan Inggris.
Pada masa kemerdekaan, seorang tokoh Muslim dari Kerajaan Islam Sokoto mendapatkan kesempatan menjadi Perdana Menteri Pertama Nigeria, yaitu Alhaji Tafawa Balewa. Namun sebenarnya tokoh kunci yang sangat berperan di balik kesuksesan Tafawa Balewa adalah Ahmadu Bello. Tokoh ini mempunyai kedekatan dengan Rabithah Alam Islami (Muslim World League) dan pemerintah Saudi Arabia, sehingga ia sangat mudah mendapatkan bantuan untuk kemajuan Islam di Nigeria.
Namun kesuksesan Ahmadu Bello membuat berang penganut Kristen di Selatan, sehingga mereka melakukan kudeta berdarah pada tahun 1966 yang dipimpin oleh Jendral Jacubus Gowon, yang mengusung  moto “tenggelamkan al-Quran ke laut”. Ketika Gowon berkuasa inilah, timbul kesulitan luar biasa di kalangan Muslim, khususnya Muslim bagian Utara, sehingga banyak di antara mereka yang menjadi murtad. Jendral Gowon-lah sebenarnya orang pertama di Nigeria yang melakukan dan membudayakan kudeta, dan akhirnya membuat Nigeria terpecah belah sampai saat ini.

Berlakunya Syari’ah di Nigeria Utara
Jihad untuk memberlakukan Syari’ah di Nigeria, khususnya di Nigeria Utara terus menggema. Di Nigeria, ada 36 Negara Bagian, dan 12 diantaranya (di sebelah utara) menginginkan diberlakukannya Syariat Islam. Keduabelas negara bagian tersebut adalah: Sokoto, Zamfara, Katsina, Kano, Jigawa, Yobe, Borno, Kebbi, Niger, Kaduna, Bauchi dan Gombe.
Isa Ibdulsalam, seorang ilmuwan muslim yang menjadi penasehat pemerintah negara bagian Kano, mengatakan bahwa diberlakukannya hukum Islam (Syariah) yang diadopsi dari berbagai teks hukum Islam (al-Qur’an dan Hadits), merupakan suatu anugerah. Islam memang telah berkembang di Nigeria Utara sejak lama. Pada sekitar abad 10 saja, para penguasa yang dimotori oleh suku Hausa dan Fulani tercatat telah memberlakukan hukum Syariah dalam pemerintahannya. Pada masa penjajahan Inggris, hukum Syariah juga masih diberlakukan. Namun setelah kemerdekaan, hukum Syariah hanya diberlakukan pada kasus-kasus sipil.
Sebagian besar penduduk Muslim Nigeria Utara menyatakan bahwa sebelum diberlakukan Hukum Syariah di Zamfara, Kano, Sokoto dan negara bagian lainnya di utara Nigeria, keadilan tak pernah ada, penjahat bebas, polisi tak berdaya, namun dengan hukum Syariah intensitas aksi-aksi kejahatan menurun signifikan.
Walaupun pemerintah negara bagian utara Nigeria, khususnya Gubernur Negara Bagian Zamfara, Alhaji Ahmad Sani dan sebagian besar masyarakatnya setuju dengan diberlakukannya hukum Syariah, tak urung tetap menimbulkan tantangan yang hebat dari penganut Kristen dan Barat, sehingga tantangan tersebut menimbulkan tewasnya ratusan penduduk, baik dari kalangan Kristen maupun Islam di Zamfara, Kano dan Sokoto. Dan pada gilirannya, pertikaian merembet pada pembakaran masjid maupun gereja. Inilah yang diinginkan mereka (baca: yang tidak menyukai hukum Syariah), karena bila sering terjadi chaos, hukum Syariah tak patut diterapkan di Nigeria, bahkan di Nigeria Utara sekalipun.
Perjuangan 12 negara bagian Nigeria Utara untuk memberlakukan hukum Syariah memang terlalu berat, dan pasti akan menghadapi tantangan dari dunia internasional, khususnya Barat dan sekutunya (baca: Kristen). Namun kelihatannya, keduabelas negara bagian Nigeria Utara tetap pada pendiriannya.*