Blogroll

Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".
"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Pages

Rabu, 03 Agustus 2011

Ramai-ramai Keliru Sebelum Ramadhan

Bulan Ramadhan 1432 H yang penuh berkah akan datang menemui kaum muslimin dalam hitungan beberapa jam lagi. Bulan suci yang penuh dengan limpahan rahmat, ampunan, dan karunia Allah SWt ini merupakan ladang amal shalih yang mampu mengantarkan kaum muslimin kepada derajat ketakwaan. Tentu sangat wajar apabila seluruh kaum muslimin menyambut kedatangan bulan mulia ini dengan sukacita. Persiapan jasmani dan ruhani menjadi bagian penting dalam menyambut kedatangannya.
Oleh: Muhib Al Majdi /Arrahmah.com
Sayangnya, masih banyak umat Islam di tanah air yang salah persepsi dan salah aksi dalam menyambut kedatangan bulan suci ini. Mereka terjebak dalam arus tradisi yang tidak memiliki landasan syar’i yang shahih. Sebagian besar melakukan tradisi-tradisi tersebut atas dasar  warisan budaya orang-orang tua terdahulu, sebagian lainnya melakukannya atas dasar ikut-ikutan biar ramai atau gaul, sebagian lain untuk melampiaskan nafsu syahwat, dan bahkan ada juga yang memanfaatkannya untuk meraup keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Menurut anggapan mereka, amal shalih di bulan Ramadhan kurang afdhal kalau tidak diawali dengan melakukan tradisi-tradisi tersebut.
Di antara contoh tradisi penyambutan bulan Ramadhan yang populer di tengah masyarakat padahal tidak memiliki landasan syar’i yang shahih adalah tradisi-tradisi berikut ini:
Pertama: Padusan dan Balimau
Padusan berasal dari kata dasar adus, yang artinya mandi. Dengan demikian secara sederhana padusan dapat diartikan laku atau tindakan mandi dengan maksud penyucian diri agar dapat menjalani peribadahan di bulan suci Ramadhan dalam kondisi suci. Dengan keadaan suci ini, khususnya suci lahir, diharapkan tujuan peribadahan untuk mencapai ketaqwaan akan lebih terkondisi dengan lebih baik.
Padusan dilakukan dengan adus kramas, mandi besar, untuk menghilangkan hadast besar dan kecil. Pada awalnya, padusan dapat dilakukan dimanapun dengan menggunakan air suci dan yang menyucikan. Dengan demikian tidaklah perlu untuk melakukan padusan harus di suatu belik atau sumber air tertentu, harus memakai air tujuh rupa, air tujuh sumber dll.
Adapun sebagian besar masyarakat padang menyambut datangnya ramadhan dengan melakukan acara “BALIMAU”. Balimau yang dalam bahasa Minang berarti mandi dengan disertai keramas merupakan salah satu tradisi yang selalu hadir mewarnai datangnya bulan puasa.
Sebagian besar masyarakat terutama kaum muda-mudi melakukan tradisi ini dengan mandi di pemandian umum, sungai dan danau. Semua berbaur, baik muda maupun mudi, dewasa maupun anak-anak. Salah satu tempat BALIMAU yang paling ramai dikunjungi masyarakat di kota Padang adalah kawasan pemandian Lubuk Minturun
Dalam perkembangannya saat ini, tradisi ini telah dilakukan oleh banyak kaum muslimin secara salah kaprah. Terjadi berbagai kemungkaran serius dalam melakukan tradisi ini, antara lain:
  1. Meyakini padusan sebagai sebuah kewajiban agama yang harus dilakukan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Padahal tidak ada dalil syar’i dari Al-Qur’an, hadits Nabi SAW, dan contoh dari para shahabat yang menyebutkan tradisi padusan sebagai amal ibadah yang mesti dilakukan di akhir bulan Sya’ban. Hal ini bisa berakibat fatal, menganggap tradisi lokal yang notabenenya bukan ajaran syariat Islam sebagai bagian dari ajaran agama Islam.  
  2. Meyakini bahwa tanpa melakukan laku padusan, persiapan lahir dan batin untuk memasuki bulan Ramadhan tidak sempurna sehingga timbul keragu-raguan dan kekhawatiran yang tidak berdasar dalil dalam menjalani amal shalih di bulan Ramadhan.
  3. Banyak orang yang meyakini bahwa padusan harus dilakukan di tempat yang wingit, angker ataupun bertuah. Hal tersebut sebenarnya lebih banyak bersifat gugon tuhon semata. Akhirnya, tradisi lokal ini dirasuki oleh unsur khurafat dan rawan mengarah kepada syirik.
  4. Orientasi materi sangat kuat terasa dalam pelaksanaan tradisi ini, di mana banyak pihak mengembangkannya menjadi obyek wisata dan sumber pendapatan. Banyak pemda, pengusaha dan  masyarakat biasa yang melestarikan dan memolesnya lebih cantik untuk menarik wisatawan sebanyak mungkin. Tarif retribusi, sarana angkutan, hotel/tempat penginapan, tempat pemandian, tempat parkir, toko souvenir, atraksi kesenian, dan lainnya membuat mereka menangguk untung besar. Masyarakat yang melakukan tradisi ini rela menghamburkan rejekinya untuk hal itu. Bahkan, banyak sekali wisatawan yang datang dari jauh (Jakarta, Surabaya, Semarang, dan lain-lain) yang rela melakukan padusan di tempat yang sangat jauh lagi memakan biaya, seperti di pantai-pantai Bantul dan Gunung Kidul. Jelas biaya ini adalah tabdzir yang diharamkan, yaitu membelanjakan harta dalam perbuatan yang tidak diperbolehkan oleh syariat.
  5. Masyarakat berbondong-bondong melakukan padusan massal berbau wisata dan maksiat di tempat-tempat umum seperti umbul, telaga, kolam renang, pantai, dan lokasi-lokasi lain yang bisa digunakan umum untuk mandi bersama. Pemandian Pengging di Boyolali dan Cokrotulung di Klaten, pantai Parangtritis dan lokasi-lokasi pemandian di kawasan Bantul, Gunung Kidul, Magelang, Temanggung, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga dan lain-lain penuh dengan laki-laki dan perempuan, tua dan muda,yang bukan mahram, yang berenang, mandi, telanjang bulat, dan membuka (baca:mempertontonkan aurat) di muka umum. Ini merupakan kemungkaran besar yang melicinkan jalan bagi perzinahan.
Dari Abu Hurairah R.A dari Nabi SAW bersabda: “Telah ditulis bagi manusia bagian dari dosa zina, dan ia tidak bisa menghindarinya. Zina kedua mata adalah dengan melihat (hal yang diharamkan syariat untuk dilihat). Zina kedua telinga adalah mendengarkan (hal yang diharamkan oleh syariat untuk didengar). Zina lisan adalah dengan berbicara (hal yang diharamkan untuk dibicarakan). Zina tangan adalah dengan memegang (hal yang diharamkan untuk dipegang). Zina kaki adalah dengan melangkah (ke arah yang diharamkan). Zina hati adalah dengan berangan-angan dan menginginkan (hal yang diharamkan). Sedangkan kemaluan akan merealisasikannya atau membatalkannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657, dengan lafal Muslim).
Kedua: Meugang atau Megengan
Di beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian Selatan dikenal luas tradisi megengan, yaitu kendurian dengan memotong ayam atau kambing sehari sebelum masuk bulan Ramadhan dengan tujuan bersyukur kepada Allah SWT dan sedekah kepada kaum fakir miskin. Di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) atau yang akrab disebut dengan kota “Serambi Mekah”, warganya menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan menyembelih kambing atau kerbau. Tradisi ini disebut “Meugang”, konon kabarnya tradisi “Meugang” sudah ada sejak tahun 1400 Masehi, atau sejak jaman raja-raja Aceh.
 Tradisi “meugang” merupakan kegiatan kekeluargaan. Pada hari itu, semua keluarga dekat berkumpul di rumah orangtua sambil menikmati masakan daging yang disediakan. Anak cucu menyisihkan waktu untuk pulang ke rumah orangtua atau mertua di hari ‘meugang’ seperti ini.
Tradisi ini dalam praktiknya juga mengandung beberapa kemungkaran, seperti:
  1. Meyakini bahwa tradisi adalah suatu acara selamatan yang harus dikerjakan, sehingga orang yang tidak melakukannya dianggap menentang adat istiadat, meninggalkan tradisi luhur nenek moyang, dan bisa terkena bencana. Tidak jarang orang yang tidak melakukannya dikucilkan oleh masyarakat. Padahal sama sekali syariat Islam tidak menganjurkan apalagi mewajibkan tradisi ini. Bahkan, tradisi ini hanya dikenal di beberapa daerah pesisir selatan Jawa yang kental dengan aliran kejawen dan kebatinannya. Sementara daerah-daerah muslim yang lain tidak mengenalnya. Tidak ada dalil syar’I dari Al-Qur’an, hadits Nabi SAW, atau contoh dari generasi shahabat yang menganjurkan atau mewajibkan tradisi ini.
  2. Bersyukur kepada Allah SWT dan bersedekah kepada kaum fakir miskin diperintahkan oleh Islam kapan pun dan di manapun. Namun Islam tidak memberi persyaratan harus menyembelih ayam, kambing, sapi, atau kerbau pada hari terakhir bulan Sya’ban. Persyaratan-persyaratan yang berasal dari tradisi lokal seperti ini justru mempersempit tatacara syukur dan sedekah yang telah diajarkan oleh Islam secara luas sesuai kemampuan kaum muslimin.
  3. Pada hari pelaksanaan tradisi ini, semua keluarga menyembelih hewan sembelihan dan mengadakan acara kendurian untuk dibagi-bagikan kepada tetangga, kerabat, dan kaum miskin. Tujuan sedekah untuk memberi santunan kepada orang yang membutuhkan justru tidak tercapai, karena semua keluarga telah memiliki makanan dan lauk pauk yang layak, bahkan mendapat makanan dan lauk pauk serupa dari para tetangga. Banyak makanan dan lauk pauk yang akhirnya terbuang dan tidak termakan karena jumlahnya yang berlebihan. Walhasil, yang terjadi adalah tabdzir, pemborosan yang dilarang oleh agama.
  4. Keluarga yang miskin memaksakan diri untuk mengadakan acara kendurian ini, kerabat dan sanak saudara yang miskin dan tinggal di daerah yang jauh juga terpaksa pulang kampung, walau untuk itu harus berhutang kesana-kemari. Ini jelas takalluf, tindakan memaksakan diri di luar kemampuan. Islam melarang umatnya dari melakukan takalluf, terlebih dalam amalan yang tidak ada landasan dalil syar’inya yang shahih.
Allah SWT berfirman:
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan:dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (QS. Al-Isra’ (17): 26-27)
Ketiga: Bermaaf-maafan
Di masyarakat kita berkembang tradisi bermaaf-maafan pada hari terakhir bulan Sya’ban, dengan tujuan memasuki bulan suci Ramadhan dalam keadaan kosong, yaitu bersih dari segala dosa dan kesalahan kepada sesama manusia. “Mohon maaf lahir-batin” atau “sama-sama kosong ya” sudah biasa mereka ucapkan kepada sesama muslim.
Meminta maaf dan memberi maaf kepada sesama muslim adalah hal yang diperintahkan dalam Islam. Namun meyakini tradisi maaf-maafan sebagai ritual yang mesti dilakukan sehari sebelum tiba bulan Ramadhan demi menggapai kesempurnaan ibadah di bulan suci Ramadhan adalah keyakinan yang keliru dan mempersempit keluasan ajaran Islam.
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk meminta ampunan kepada Allah dan meminta maaf  kepada sesama manusia setiap kali melakukan sebuah dosa dan kesalahan. Meminta ampunan Allah adalah dengan istighfar, taubat nashuha, dan shalat taubah. Meminta maaf kepada sesama manusia adalah dengan mengakui kesalahan kita kepadanya, meminta maafnya, dan mengembalikan haknya yang kita ambil secara zalim dan curang.
Meminta ampunan Allah dan maaf manusia selayaknya dilakukan setiap kali kita berbuat dosa, tidak perlu ditunda-tunda. Makin cepat makin baik, sebab boleh jadi kita lupa, sakit, atau mati sebelum sempat meminta ampunan dan maaf. Akibatnya, kita mati dengan  membawa dosa kezaliman. Maka tidak selayaknya kita menabung dosa dan kesalahan selama satu tahun penuh, lalu baru meminta ampunan Allah dan maaf manusia pada hari terakhir bulan Sya’ban atau hari idul fithri!
Allah berfirman,
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” (QS. Ali Imran (3): 135)
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’ (4): 17)
Keempat: Nyadran
Nyadran, tradisi yang biasa dilakukan menjelang bulan puasa. Tradisi berziarah ke makam leluhur ini sudah dilakukan sebagian masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa sejak zaman dahulu hingga sekarang.Nyadran atau sadranan berasal dari bahasa Jawa yang artinya berziarah. Pada mulanya nyadran dilakukan ke makam tokoh masyarakat yang sangat dihormati maupun nenek moyang keturunannya. Namun kini, beberapa masyarakat hanya berziarah ke makam famili atau sanak saudaranya.
Dalam prosesi nyadran biasanya para peziarah membawa tiga jenis bunga. Bunga kantil, kenanga dan mawar. Setiap bunga memiliki makna tersendiri. Kantil agar hati peziarah terkait dengan orang yang sudah meninggal. Kenanga sebagai tanda agar semua kenangan selalu diingat. Dan terakhir mawar sebagai permohonan agar dosa arwah dihapus.
Para peziarah juga membakar kemenyan. Membakar kemenyan dianggap sebuah simbol keagungan. Asap kemenyan yang membumbung ke atas diyakini sebagai sebuah perumpamaan doa peziarah ke atas sehingga menghubungkan diri kepada Tuhan. Itu adalah simbol perjalanan doa peziarah supaya bisa diterima.
Selain tiga bunga tadi, biasanya prosesi nyadran diwarnai beberapa makanan sebagai sesajen yakni apem dan ketan. Kedua makanan ini juga memiliki makna tersendiri.
Ketan adalah simbol untuk merekatkan hubungan persaudaraan (ketan:ikatan). Semua orang datang bersama-sama dan merapatkan garis sosial. Sementara apem supaya mereka diampuni (apem:afwun;ampunan). Setelah diampuni dosanya kemudian merekatkan hubungan saudara maka peziarah akan ingat kepada Tuhan. Acara Nyadran akan berakhir dengan makan bersama, dengan saling menukarkan makanan yang dibawa setiap keluarga.  Budayawan Jawa, Suwardi Endraswara, menambahkan tradisi ini biasa dilakukan oleh orang Jawa yang masih puritan atau asli yang masih menganut paham kejawen.
Tak diragukan lagi bahwa berziarah ke kuburan orang tua dan kerabat termasuk ajaran Islam. Islam menganjurkan umatnya untuk banyak-banyak mengingat kematian, dan ziarah kubur merupakan sarana yang efektif untuk mengingat kehidupan akhirat. Meski demikian, tatacara ziarah kubur dalam tradisi nyadran kental dengan nuansa ajaran kebatinan dan kejawen. Perbedaan mendasar ziarah kubur dalam Islam dengan tradisi nyadran adalah sebagai berikut:
- Nyadran hanya dilakukan pada bulan Sya’ban, terutama sekali di akhir Sya’ban. Adapun ziarah kubur dalam Islam dianjurkan dalam semua bulan dalam satu tahun, tidak ada pengkhususan atau keutamaan khusus pada bulan Sya’ban semata.
  • Nyadran dipersyaratkan membawa bunga Kantil, Kenanga, dan Mawar, sesajen berupa apem dan ketan, serta membakar kemenyan. Simbolisasi seperti ini adalah warisan agama Hindu dan kejawen. Adapun Islam sama sekali tidak memerintahkan umatnya  membawa bunga, sesajen, dan kemenyan dalam ziarah kubur. Menurut Islam, orang yang telah mati tidak membutuhkan bunga, sesajen atau kemenyan. Kebutuhannya adalah doa dari anak yang shalih dan kaum muslimin.
  • Proses nyadran meliputi menabur tiga jenis bunga, memberikan sesajen, membakar kemenyan, doa dan makan bersama. Adapun proses ziarah kubur dalam Islam adalah berdoa ketika masuk areal makam (arti doanya:Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kalian wahai penduduk kuburan, dari kalangan muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat. Insya Allah, kami akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan kepada Allah untuk diri kami dan diri kalian), mendoakan orang yang telah mati, dan mengambil pelajaran agar senantiasa ingat dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Tidak ada makan-makan bersama atau tukar-menukar makanan.
  • Proses nyadran mengaitkan dikabulkannya doa dengan tiga jenis bunga, sesajen, dan kemenyan. Adapun Islam mengaitkan terkabulnya doa dengan waktu-waktu, tempat-tempat, keadaan-keadaan, dan syarat-syarat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-sunnah. Tiga jenis bunga, dua makanan sesajen, kemenyan, dan kuburan bukanlah unsur-unsur yang menyebabkan terkabulnya doa.
  • Proses nyadran rawan menimbulkan bid’ah (meyakini doa di kuburan lebih mustajab) dan syirik (meyakini orang yang mati bisa mengabulkan permohonan orang yang hidup), melalaikan dari kehidupan akhirat (ramai-ramai makan dan tukar-menukar makanan, disertai canda-ria, dan campur baur laki-laki dengan wanita yang bukan mahram), dan tabdzir (mengeluarkan biaya tinggi untuk masakan yang sebenarnya kurang dibutuhkan). Hal-hal mungkar seperti ini tidak terdapat dalam ziarah kubur yang sesuai dengan syariat Islam.
Akhirnya…
Menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan jiwa yang suci, jasmani yang sehat dan bersih, dan perasaan gembira adalah bagian dari keimanan dan keislaman. Sebagaimana firman Allah SWT,
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (QS. A-Hajj (22): 32)
Namun sudah selayaknya tata cara penyambutan Ramadhan dilakukan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW. Bukan hanya dengan mengikuti tradisi, budaya, atau latah mengikuti prilaku kebanyakan manusia yang sebenarnya tidak mengenal ajaran Islam dengan baik. Beberapa waktu yang lalu, situs arrahmah.com telah menurunkan sebuah tulisan tentang langkah-langkah persiapan menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Semoga kita bisa melaksanakannya sehingga tidak terjebak dalam arus tradisi yang populer namun kurang tepat. Wallahu a’lam bish-shawab.
Risalah Ramadhan Arrahmah.com

Bahaya....Konspirasi Imunisasi & Bahaya Vaksinasi


Jika kita merunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionisme Internasional.

Dan kenyataannya, mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya :

The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS).
~ Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine Flu Propaganda”

Dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi modern (atau kita menyebutnya imunisasi) adalah salah satu campur tangan (Baca : konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperbudak seluruh dunia dalam “New World Order” mereka.

Apa Kata Para Ilmuwan Tentang Vaksinasi?

* “Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”
~ Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika
* “Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”
~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University
* “Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”
~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris
* “Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”.
~ dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional
* “Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”
~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962
* “Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus autisme.”
~ Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional
* “Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.”
~ Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika
* “Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.”
~ Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”

Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan yang lainnya.

Dan ternyata faktanya di Jerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat, menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Suspectible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.

Lalu mengapa bisa hal itu terjadi? Apa rahasia di balik vaksin dan imunisasi?

Menurut penelitian saya tentang imunisasi yang telah saya lakukan sejak beberapa tahun lalu. Saya berusaha mengaitkannya dengan metode ilmu genetik dalam Islam yang sedikit telah saya pahami.

Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim ke berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara dunia ketiga, dan negara berkembang), adalah sebuah proyek untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut.

Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tau bahwa vaksin didapat dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang inang dari tempat virus dibiakkan tersebut.

Pernahkah anda berpikir apabila DNA orang asing ini tercampur dengan bayi yang masih dalam keadaan suci?

DNA adalah berisi cetak biru atau rangkuman genetik leluhur-leluhur kita yang akan kita warisi. Termasuk sifat, watak, dan sejarah penyakitnya.

Lalu apa jadinya apabila DNA orang yang tidak kita tau asal usul dan wataknya bila tercampur dengan bayi yang masih suci? Tentunya bayi tersebut akan mewarisi genetik DNA sang inang vaksin tersebut.

Pernahkan anda terpikir apabila sang inang vaksin tersebut dipilih dari orang-orang yang terbuang, kriminal, pembunuh, pemerkosa, peminum alkohol, dan sebagainya?

Dari banyak sumber yang saya dengar selama ini, penelitian tentang virus dilakukan kepada para narapidana untuk menghemat biaya penelitian, atau malah mungkin hal itu disengaja?

Zat-zat kimia berbahaya dalam vaksin.

Vaksin mengandung substansi berbahaya yang diperlukan untuk mencegah infeksi dan meningkatkan performa vaksin. Seperti merkuri, formaldehyde, dan aluminium, yang dapat membawa efek jangka panjang seperti keterbelakangan mental, autisme, hiperaktif. alzheimer, kemandulan, dll. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah anak autis meningkat dari antara 200 – 500 % di setiap negara bagian di Amerika.

Babi dalam Vaksin.

Penggunaan asam amino binatang babi dalam vaksin bukanlah berita yang baru. Bahkan kaum Muslim dan Yahudi banyak yang menentang hal ini karena babi memang diharamkan, seperti tertuang dalam Qur’an ayat berikut :

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Qur’an surah Al-Maidah (5) ayat 3

Bahkan dalam Perjanjian Lama (Taurat) juga disebutkan :

“Jangan makan babi. Binatang itu haram karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tidak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.”
Imamat 11 : 7-8

Lalu mengapa Allah mengharamkan Babi?

1. Asam Amino manusia yang hanya sedikit berbeda dari binatang babi.

Asam amino adalah salah satu penyusun protein pada makhluk hidup. Jika kita melihat insulin pada manusia dan babi, maka hanya akan terpaut satu daripada babi. Berikut penjelasannya :

Insulin manusia : C256H381N65O76S6 MW=5807,7
Insulin babi : C257H383N65O77S6 MW=5777,6
Penjelasan : hanya 1 asam amino berbeda

Insulin manusia : C256H381N65O76S6 MW=5807,7
Insulin sapi : C254H377N65O75S6 MW=5733,6
Penjelasan : ada 3 asam amino berbeda

Para produsen vaksin mengatakan bahwa jika menggunakan asam amino babi, maka mereka tidak memerlukan banyak proses penelitian lagi karena hanya terpaut satu asam amino. Berbeda dengan sapi yang terpaut 3 asam amino.

“Secara chemisty, DNA manusia dan babi hanya beda 3 persen. Aplikasi teknologi transgenetika membuat organ penyusun tubuh babi akan semakin mirip dengan manusia.”
~ Dr. Muladno, ahli genetika molekuler di Fakultas Peternakan ITB

Tapi sayangnya mereka lupa jika asam aminonya hampir identik berarti sama saja kita memakan daging manusia (kanibal), dan telah jelas bahwa kanibal dapat menyebabkan penyakit-penyakit genetik yang tidak bisa disembuhkan, termasuk penyakit syaraf dan lain-lain.

Di China, terdapat sebuah desa yang gemar memakan daging manusia yang melintas di desanya, yang kemudian digunakan untuk sebuah perayaan. Mereka mengatakan bahwa rasa daging manusia mirip dengan rasa daging babi.

2. Sifat babi yang buruk dapat menurun kepada manusia yang memakannya.

Seorang Imam Muslim bersama kawannya orang barat pernah melakuak test kepada 3 ekor babi dan 3 ekor ayam, masing masing adalah 2 jantan dan 1 betina. Dan hasilnya adalah :

Ketika 2 ekor ayam jantan dan 1 ayam betina dilepas, maka 2 ayam jantan tersebut bertarung hingga satu tewas/kalah untuk merebutkan betina. Namun apa yang terjadi ketika 2 ekor babi jantan dan 1 ekor babi betina dilepas ? ternyata babi jantan yang satu membantu yang lain untuk melaksanakan hajat seksualnya pada si betina.

Dan sang Imam berkata, “Inilah ! Daging babi itu membunuh ‘ghirah’ (rasa cemburu) orang yang memakannya dan ini terjadi pada kaum kalian.”

Beberapa penelitian di barat juga banyak yang menyatakan bahwa memakan babi dapat mempengaruhi watak, resiko perselingkuhan, dan hasrat seksual yang melebihi ambang batas kewajaran sebagai manusia.

3. Tubuh babi dapat mengubah virus jinak menjadi ganas.

Babi memiliki berbagai reseptor dalam tubuhnya yang dapat menjadikan virus jinak yang masuk ke dalam tubuh babi kemudian keluar dalam keadaan ganas, diantaranya reseptor yang sangat dikenal para ilmuwan adalah reseptor alfa 2,6 sialic acid untuk mengikat influenza manusia dan 2,3 sialic acid untuk mengikat virus influenza unggas. Virus-virus yang terikat ke dalam reseptor tersebut kemudian dapat berubah menjadi ganas. Selain itu reseptor-reseptor itu juga dapat mengikat dua jenis virus yang memiliki sifat yang berbeda, untuk kemudian di mixing menjadi satu virus ganas yang memiliki 2 sifat.

4. Banyaknya penyakit dalam tubuh Babi

Kita sudah mengetahui sejak Sekolah Dasar dahulu bahwa babi mengandung cacing pita yang sangat berbahaya. Cacing pita bahkan dapat mengganggu sistem syaraf dan dapat masuk hingga otak manusia. Selain cacing pita masih banyak penyakit lainnya yang disebabkan oleh babi melalui bakteri, karena kebiasaannya yang senang memakan kotoran, bahkan kotorannya sendiri.

5. Sifat aneh babi lainnya.

“Babi mempunyai sifat kembar antara binatang buas dan binatang jinak. Sifatnya yang menyerupai binatang buas adalah karena ia bertaring dan suka makan bangkai, sedangkan sifatnya yang menyerupai binatang jinak ialah karena ia berceracak dan makan rumput serta dedaunan lainnya.

Babi memiliki syahwat yang amat kuat, hingga pada saat ia kawin (bersetubuh), pejantan bertengger di atas betinanya yang berjalan bermil-mil jauhnya. Pejantannya mengejar-ngejar betina demikian kasar hingga terjadi perkelahian yang mungkin menewaskan salah satu atau menewaskan kedua-duanya.

Satu kali mengandung, babi betina dapat melahirkan dua puluh ekor anak. Pejantan mulai kawin bila telah berumur 8 bulan, sedangkan betinanya mulai melahirkan bila telah mencapai umur 6 bulan. Di beberapa negeri, babi kawin pada umur 4 bulan, betinanya mulai bunting setelah dikawini dan akan melahirkan setelah bunting selama enam atau tujuh bulan. Babi betina yang telah mencapai umur 15 tahun tidak dapat beranak. Jenis binatang ini adalah yang paling banyak mempunyai keturunan. Babi jantan merupakan binatang jantan yang paling tahan lama bertengger di atas betinanya (kawin).

Yang mengherankan, jika sebelah matanya dicungkil ia segera mati. Babi memiliki kesamaan dengan manusia, yaitu kulitnya tidak dapat dikelupas kecuali jika dipotong lebih dulu daging yang berada di bawahnya.”

~ Kamal al-Din Muhammad ibn Musa al-Damiri, dalam Kitabul-Hayawan Al-Kubra

Bencana akibat vaksin yang tidak pernah dipublikasikan.

* Di Amerika pada tahun 1991 – 1994 sebanyak 38.787 masalah kesehatan dilaporkan kepada Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA. Dari jumlah ini 45% terjadi pada hari vaksinasi, 20% pada hari berikutnya dan 93% dalam waktu 2 mgg setelah vaksinasi. Kematian biasanya terjadi di kalangan anak anak usia 1-3 bulan.
* Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia di mana pertusis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal.
* Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus, di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus.
* Penularan polio dalam skala besar, menyerang anak-anak di Nigeria Utara berpenduduk muslim. Hal itu terjadi setelah diberikan vaksinasi polio, sumbangan AS untuk penduduk muslim. Beberapa pemimpin Islam lokal menuduh Pemerintah Federal Nigeria menjadi bagian dari pelaksanaan rencana Amerika untuk menghabiskan orang-orang Muslim dengan menggunakan vaksin.
* Tahun 1989-1991 vaksin campak ”high titre” buatan Yugoslavia Edmonton-Zagreb diuji coba pada 1500 anak-anak miskin keturunan orang hitam dan latin, di kota Los Angeles, Meksiko, Haiti dan Afrika. Vaksin tersebut sangat direkomendasikan oleh WHO. Program dihentikan setelah di dapati banyak anak-anak meninggal dunia dalam jumlah yang besar.
* Vaksin campak menyebabkan penindasan terhadap sistem kekebalan tubuh anak-anak dalam waktu panjang selama 6 bulan sampai 3 tahun. Akibatnya anak-anak yang diberi vaksin mengalami penurunan kekebalan tubuh dan meninggal dunia dalam jumlah besar dari penyakit-penyakit lainnya WHO kemudian menarik vaksin-vaksin tersebut dari pasar di tahun 1992.
* Setiap program vaksin dari WHO di laksanakan di Afrika dan Negara-negara dunia ketiga lainnya, hampir selalu terdapat penjangkitan penyakit-penyakit berbahaya di lokasi program vaksin dilakukan. Virus HIV penyebab Aids di perkenalkan lewat program WHO melalui komunitas homoseksual melalui vaksin hepatitis dan masuk ke Afrika tengah melalui vaksin cacar.
* Desember 2002, Menteri Kesehatan Amerika, Tommy G. Thompson menyatakan, tidak merencanakan memberi suntikan vaksin cacar. Dia juga merekomendasikan kepada anggota kabinet lainnya untuk tidak meminta pelaksaanaan vaksin itu. Sejak vaksinasi massal diterapkan pada jutaan bayi, banyak dilaporkan berbagai gangguan serius pada otak, jantung, sistem metabolisme, dan gangguan lain mulai mengisi halaman-halaman jurnal kesehatan.
* Kenyataannya vaksin untuk janin telah digunakan untuk memasukan encephalomyelitis, dengan indikasi terjadi pembengkakan otak dan pendarahan di dalam. Bart Classen, seorang dokter dari Maryland, menerbitkan data yang memperlihatkan bahwa tingkat penyakit diabetes berkembang secara signifikan di Selandia Baru, setelah vaksin hepatitis B diberikan secara massal di kalangan anak-anak.
* Melaporkan bahwa, vaksin meningococcal merupakan ”Bom waktu bagi kesehatan penerima vaksin.”
* Anak-anak di Amerika Serikat mendapatkan vaksin yang berpotensi membahayakan dan dapat menyebabkan kerusakan permanen. Berbagai macam imunisasi misalnya, Vaksin-vaksin seperti Hepatitis B, DPT, Polio, MMR, Varicela (Cacar air) terbukti telah banyak memakan korban anak-anak Amerika sendiri, mereka menderita kelainan syaraf, anak-anak cacat, diabetes, autis, autoimun dan lain-lain.
* Vaksin cacar dipercayai bisa memberikan imunisasi kepada masyarakat terhadap cacar. Pada saat vaksin ini diluncurkan, sebenarnya kasus cacar sudah sedang menurun. Jepang mewajibkan suntikan vaksin pada 1872. Pada 1892, ada 165.774 kasus cacar dengan 29.979 berakhir dengan kematian walaupun adanya program vaksin.
* Pemaksaan vaksin cacar, di mana orang yang menolak bisa diperkarakan secara hukum, dilakukan di Inggris tahun 1867. Dalam 4 tahun, 97.5& masyarakat usia 2 sampai 50 tahun telah divaksinasi. Setahun kemudian Inggris merasakan epidemik cacar terburuknya dalam sejarah dengan 44.840 kematian. Antara 1871 – 1880 kasus cacar naik dari 28 menjadi 46 per 100.000 orang. Vaksin cacar tidak berhasil.
* Dan masih banyak lagi.

Mengapa vaksin gagal melindungi terhadap penyakit?

Walene James, pengarang buku Immunization: the Reality Behind The Myth, mengatakan respon inflamatori penuh diperlukan untuk menciptakan kekebalan nyata.

Sebelum introduksi vaksin cacar dan gondok, kasus cacar dan gondok yang menimpa anak-anak adalah kasus tidak berbahaya. Vaksin “mengecoh” tubuh sehingga tubuh kita tidak menghasilkan respon inflamatory terhadap virus yang diinjeksi.

SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) naik dari 0.55 per 1000 orang di 1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di Olmstead County, Minnesota. Puncak kejadian SIDS adalah umur 2 – 4 bulan, waktu di mana vaksin mulai diberikan kepada bayi. 85% kasus SIDS terjadi di 6 bulan pertama bayi. Persentase kasus SIDS telah naik dari 2.5 per 1000 menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai 1992. Naikan kematian akibat SIDS meningkat pada saat hampir semua penyakit anak-anak menurun karena perbaikan sanitasi dan kemajuan medikal kecuali SIDS.

Kasus kematian SIDS meningkat pada saat jumlah vaksin yang diberikan kepada balita naik secara meyakinkan menjadi 36 per anak.

Dr. W. Torch berhasil mendokumentasikan 12 kasus kematian pada anak-anak yang terjadi dalam 3,5 – 19 jam paska imunisasi DPT. Dia kemudian juga melaporkan 11 kasus kematian SIDS dan satu yang hampir mati 24 jam paska injeksi DPT. Saat dia mempelajari 70 kasus kematian SIDS, 2/3 korban adalah mereka yang baru divaksinasi mulai dari 1,5 hari sampai 3 minggu sebelumnya.

Tidak ada satu kematian pun yang dihubungkan dengan vaksin. Vaksin dianggap hal yang mulia dan tidak ada pemberitaan negatif apapun mengenai mereka di media utama karena mereka begitu menguntungkan bagi perusahaan farmasi.

Ada alasan yang valid untuk percaya bahwa vaksin bukan saja tak berguna dalam mencegah penyakit, tetapi mereka juga kontraproduktif karena melukai sistem kekebalan yang meningkatkan resiko kanker, penyakit kekebalan tubuh, dan SIDS yang menyebabkan cacat dan kematian.

Lalu adakah imunisasi yang benar menurut Islam?

Ada! Bahkan Rasulullah sendiri yang mengajarkan dan merekomendasikannya.

Imam Bukhari dalam Shahih-nya men-takhrij hadits dari Asma’ binti Abi Bakr

Dari Asma’ binti Abu Bakr bahwa dirinya ketika sedang mengandung Abdullah ibn Zubair di Mekah mengatakan, “Saya keluar dan aku sempurna hamilku 9 bulan, lalu aku datang ke madinah, aku turun di Quba’ dan aku melahirkan di sana, lalu aku pun mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, maka beliau Shalallaahu alaihi wasalam menaruh Abdullah ibn Zubair di dalam kamarnya, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam meminta kurma lalu mengunyahnya, kemudian beliau Shalallaahu alaihi wasalam memasukkan kurma yang sudah lumat itu ke dalam mulut Abdullah ibn Zubair. Dan itu adalah makanan yang pertama kali masuk ke mulutnya melalui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, kemudian beliau men-tahnik-nya, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam pun mendo’akannya dan mendoakan keberkahan kepadanya.

Dalam shahihain -Shahih Bukhari dan Muslim- dari Abu Musa Al-Asy’ariy, “Anakku lahir, lalu aku membawa dan mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam memberinya nama Ibrahim dan kemudian men-tahnik-nya dengan kurma.” dalam riwayat Imam Bukhari ada tambahan: “maka beliau SAW mendoakan kebaikan dan memdoakan keberkahan baginya, lalu menyerahkan kembali kepadaku.”

Ibu saya pernah mengatakan bahwa bayi dilahirkan dalam keadaan kekurangan glukosa. Bahkan apabila tubuhnya menguning, maka bayi tersebut dipastikan membutuhkan glukosa dalam keadaan yang cukup untuknya. Bobot bayi saat lahir juga mempengaruhi kandungan glukosa dalam tubuhnya.

Pada kasus bayi prematur yang beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kandungan zat gulanya sangat kecil sekali, dimana pada sebagian kasus malah kurang dari 20 mg/100 ml darah. Adapun anak yang lahir dengan berat badan di atas 2,5 kg maka kadar gula dalam darahnya biasanya di atas 30 mg/100 ml.

Kadar semacam ini berarti (20 atau 30 mg/100 ml darah) merupakan keadaan bahaya dalam ukuran kadar gula dalam darah.

Hal ini bisa menyebabkan terjadinya berbagai penyakit, seperti bayi menolak untuk menyusui, otot-otot bayi melemas, aktivitas pernafasan terganggu dan kulit bayi menjadi kebiruan, kontraksi atau kejang-kejang.

Terkadang bisa juga menyebabkan sejumlah penyakit yang berbahaya dan lama, seperti insomnia, lemah otak, gangguan syaraf, gangguan pendengaran, penglihatan, atau keduanya.

Apabila hal-hal di atas tidak segera ditanggulangi atau diobati maka bisa menyebabkan kematian. Padahal obat untuk itu adalah sangat mudah, yaitu memberikan zat gula yang berbentuk glukosa melalui infus, baik lewat mulut, maupun pembuluh darah.

Mayoritas atau bahkan semua bayi membutuhkan zat gula dalam bentuk glukosa seketika setelah lahir, maka memberikan kurma yang sudah dilumat bisa menjauhkan sang bayi dari kekurangan kadar gula yang berlipat-lipat.

Disunnahkannya tahnik kepada bayi adalah obat sekaligus tindakan preventif yang memiliki fungsi penting, dan ini adalah mukjizat kenabian Muhammad SAW secara medis dimana sejarah kemanusiaan tidak pernah mengetahui hal itu sebelumnya, bahkan kini manusia tahu bahayanya kekurangan kadar glukosa dalam darah bayi.

Tahnik sebaiknya dilakukan oleh orang-orang yang beriman kepada Allah, atau dapat pula dilakukan ayah atau ibu sang bayi.

Penutup

Imunisasi yang selama ini digembar-gemborkan oleh Zionis dapat berdampak kepada masalah yang sangat serius bagi kehidupan penduduk dunia. Mereka yang bertujuan untuk menjadikan ras lainnya berada di bawah kekuasaan mereka dengan berbagai cara. Sudah cukup adik laki-laki saya yang menjadi korban konspirasi imunisasi ini. Kini saatnya kita membuka mata dan bertanya pada hati nurani kita dengan berbagai propaganda yang mereka lakukan.

Bahkan Allah telah menyuruh kita berhati-hati terdadap berita dari mereka :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Qur’an surah Al-Hujuraat (49) : 6

Meng-up grade hidup di bulan penuh berkah

Segala puji bagi Allah SWT. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, keluarga, shahabat, dan umatnya yang senantiasa mengikuti sunnahnya. Amma Ba’du…
Di antara karunia Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW adalah Allah SWT menyediakan musim-musim tertentu yang diramaikan dengan amal-amal kebajikan, jiwa-jiwa manusia pada saat tersebut disiapkan untuk berama shalih, dan hati mereka berkonsentrasi dalam pengabdian diri kepada Allah SWT, semata-mata demi mengharapkan ampunan dan ridha-Nya.
Di antara musim panen kebajikan yang paling agung adalah bulan yang mulia, Ramadhan yang penuh berkah ini. Allah telah mewajibkan shaum Ramadhan kepada kita agar kita mampu merubah diri kita ke arah kehidupan yang lebih baik; mampu mencegah diri dari godaan hawa nafsu dan menyapih jiwa dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak bermanfaat.
*- Ramadhan adalah saat yang tepat untuk merubah diri bagi orang yang selama ini melalaikan shalat; orang yang sama sekali malas mengerjakan shalat, atau menunda-nunda pelaksanaan shalat dari waktunya, atau tidak menunaikan shalat wajib lima waktu secara berjama’ah di masjid. Ramadhan adalah bulan perubahan diri menuju pribadi muslim yang rutin mengerjakan shalat lima waktu secara berjama’ah di masjid di awal waktunya. Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat; jika shalatnya  baik niscaya seluruh amalan lainnya akan baik. Demikian pula, jika shalatnya buruk maka seluruh amalan lainnya akan buruk.
*- Ramadhan adalah momen yang tepat untuk memperbaiki diri bagi orang yang biasa mengumbar obrolan. Dengan Ramadhan, ia akan merubah dirinya agar tidak berbicara kecuali dengan perkataan yang baik. Apa yang ia ucapkan hanyalah perkataan-perkataan yang baik nan bermanfaat. Perkataan yang baik adalah sedekah. Menjaga lisan adalah jalan untuk masuk surga dan selamat dari api neraka.
فعن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله لا يلقي لها بالاً يرفعه الله بها درجات وإن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يلقي لها بالاً يهوي بها في جهنم »
Dari Abu Hurairah bahwasanyya Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba terkadang mengucapkan sebuah kalimat yang mendatangkan ridha Allah SWT tanpa ia sangka-sangka, ternyata dengan kalimat tersebut Allah SWT mengangkatnya beberapa derajat. Dan terkadang seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang mendatangkan murka Allah SWT tanpa ia pikirkan sebelumnya, ternyata dengan ucapan tersebut ia terjatuh ke dalam neraka Jahanam.” (HR. Bukhari, kitab ar-riqaq no. 5997)
*- Ramadhan adalah saat yang tepat untuk memperbaiki diri bagi orang yang tengah bersengketa dengan orang lain, untuk memberi maaf dan melupakan persengketaan. Allah SWT berfirman:
فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah (2):109)
-* Ramadhan adalah waktu yang tepat bagi orang-orang yang tenggelam dalam kubangan dosa dan maksiat untuk segera bertaubat dan kembali ke jalan Allah SWT. Allah SWT berfirman:
غَافِرِ الذَّنبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ
 “Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk). (QS. Ghafir (40): 3)
*- Ramadhan adalah waktu yang tepat bagi orang-orang yang biasa tidak membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an untuk memperbaiki dirinya dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai rutinitas amalan yang ia jaga setiap hari. 
*- Ramadhan adalah saat yang tepat bagi orang yang memiliki sifat kikir untuk memperbanyak sedekah di jalan Allah. Allah akan mengembangka harta orang yang bersedekah sehingga sedekah yang kecil bisa berkembang pahalanya sebesar gunung. Allah SWT berfirman:
يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.“ (QS. Al-Baqarah (2): 276)
* Ramadhan adalah momen yang tepat bagi orang-orang yang lalai dari dzikir untuk memperbaiki dirinya, dengan memperbanyak dzikir di waktu siang dan malam. Allah SWT berfirman:
يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اذْكُرُواْ اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً ، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab (33): 41-42)
Nabi Muhammad SAW telah berwasiat kepada umatnya untuk memperbanyak dzikir. Beliau bersabda,
لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Hendaklah lisanmu selalu basah dengan dzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3702)
*- Ramadhan adalah waktu yang tepat bagi orang yang biasa berdusta, untuk merubah diri dengan meninggalkan kebiasaan buruk tersebut dan membiasakan diri berkata jujur. Nabi SAW ditanya, “Apakah mungkin seorang mukmin itu menjadi seorang pendusta?” Beliau menjawab, “Tidak.” Beliau juga bersabda, “Seseorang akan senantiasa berkata jujur dan berusaha selalu berkata jujur sehingga di sisi Allah dicatat sebagai seorang yang jujur.” (Musnad Ahmad no. 3896)
*- Ramadhan adalah momen yang tepat bagi orang yang memutus hubungan kekeluargaan, untuk memperbaiki diri dengan menyambung hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya menyambung hubungan kekeluargaan akan menambah rizki dan memanjangkan umur. Barangsiapa menyambung hubungan kekeluargaan, niscaya Allah akan menyambung hubungan dengan-Nya.
Saudaraku yang mulia…
Agar Anda mampu memperbaiki diri Anda, maka Anda harus mau mengadapi kesalahan-kesalahan dan kemaksiatan-kemaksiatan Anda. Janganlah Anda menghindar darinya dengan mencari-cari alasan pembenaran.
Ketahuilah…
Sesungguhnya Anda tidak akan mampu memperbaiki keadaan diri Anda kecuali jika Anda memiliki tekad dan sikap yang kuat untuk berubah ke arah kehidupan yang lebih baik. Hendaklah Anda serius berusaha untuk memperbaiki diri Anda sejak sekarang, janganlah Anda menunda-nundanya.
Jangan berkata: Darimana aku harus memulai? Ketaatan kepada Allah adalah awal langkahmu…
Jangan berkata: Mana jalanku? Syariat Allah adalah jalan yang lurus…
Jangan berkata: Mana kenikmatan hidupku? Cukuplah Surga Allah sebagai kenikmatan…
Jangan berkata: Besok saja! Boleh jadi kematian tiba-tiba menjemputmu…
Ketahuilah…
Kewajiban Anda adalah memulai, niscaya Allah akan menyempurnakannya.
Allah berfirman:
« ابن آدم ، قم إلي أمشي إليك ، امش إلي أهرول أليك »
“Wahai anak manusia, bangkit berdirilah kepada-Ku niscaya Aku datang berjalan kepadamu! Berjalanlah dengan pelan kepada-Ku niscaya Aku berjalan cepat kepadamu!” (HR. Ahmad, 3/478, dinyatakan shahih oleh syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2287)
Mintalah pertolongan kepada Allah di awal dan akhir usahamu. Pancangkan niat dan tekad yang kuat dalam jiwamu untuk memperbaiki dirimu ke arah kehidupan yang lebih baik!
Ketahuilah… perbaikan diri harus dimulai dari lubuk hatimu yang paling dalam!
Ketahuilah… Allah tidak akan merubah keadaan sebuah kaum sehingga kaum tersebut berusaha memperbaiki keadaan diri mereka sendiri!
Latihlah dirimu dan biasakan diri untuk melakukan amal ketaatan!
Mintalah pertolongan kepada Allah agar senantiasa membimbingmu ke jalan yang Ia cintai dan ridhai.
Camkanlah semboyanmu:
Kan kuanggap mudah segala kesukaran
Sampai kematian menjemputku
Cita-cita tak kan tunduk kecuali
Kepada orang yang sabar
Jika engkau tergelincir dari jalan yang harus ditempuh, maka bersegeralah kembali ke jalan…
Bertaubatlah kepada Allah…
Bukalah lembaran baru dalam hidupmu…
Perbaharuilah selalu niatmu…
Ketahuilah…
jika kau tidak mampu memperbaiki dirimu di bulan Ramadhan, niscaya selamanya kau  tidak akan mampu memperbaiki dirimu…
Bahkan, aku menduga sebenarnya engkau tidak ada niat untuk memperbaiki diri…
Engkau termasuk orang-orang yang terhalang dari kebaikan dan akhirnya merugi.
Rasulullah SAW bersabda:
« أَتَانِي جِبْرِيلُ ، فَقَالَ : رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، قُلْ : آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ »
“Malaikat Jibril datang kepadaku dan berkata: “Alangkah merugi dan hina seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, namun ia tidak mendapat ampunan Allah. Katakanlah: Amin!” Maka Aku (Nabi SAW) menjawab, “Amin.” (HR. Al-Bazzar no. 1405)
Akhirnya…
Engkau harus memiliki target yang jelas yang ingin kau gapai…sebagai tujuan hidupmu…kau konsentrasikan usahamu untuknya…
Tidak diragukan lagi…target paling agung dan paling tinggi yang selalu hendak digapai oleh seorang mukmin di bulan yang mulia ini…adalah Allah SWT menyelamatkannya dari api neraka.
Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam golongan hamba-Mu yang Engkau bebaskan dari neraka dan Engkau terima amal shalihnya di bulan yang mulia ini.

Risalah Ramadhan Arrahmah

Keistimewaan Ramadhan


Alhamdulillah.
Ramadhan termasuk bulan arab yang dua belas. Ia adalah bulan nan agung dalam agama Islam. Dia berbeda dengan bulan-bulan lainnya karena sejumlah keistimewaan dan keutamaan yang  ada padanya. Di antaranya yaitu:
1.      Allah Azza wa Jalla menjadikan puasa (di Bulan Ramadhan) merupakan rukun keempat di antara Rukun Islam. Sebagaimana firman-Nya:
( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه) سورة البقرة: 185
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”.(SQ. Al-Baqarah: 185)
Terdapat riwayat shahih dalam dua kitab shahih; Bukhari, no. 8, dan Muslim, no. 16 dari hadits Ibnu Umar, sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله , وأن محمدا عبد الله ورسوله , وإقام الصلاة , وإيتاء الزكاة ، وصوم رمضان , وحج البيت.
 “Islam dibangun atas lima (rukun); Bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan haji ke Baitullah.”
2.      Allah menurunkan Al-Qur’an (di dalam Bulan Ramadan).
Sebagaiamana firman Allah Ta’ala pada ayat sebelumnya,
( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ )
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqarah: 185)
Allah Ta’ala juga berfirman:
( إنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) سورة القدر: 1
“Sesungguhnya Kami turunkan (Al-Qur’an) pada malam Lailatur Qadar.”
3.      Allah menetapkan Lailatul Qadar pada bulan tersebut, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah:
( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ) سورة القدر: 1-5
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?  Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar : 1-5).
Dan firman-Nya yang lain:
 ( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ) سورة الدخان: 3 
“sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3).
Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan adanya Lailaul Qadar. Untuk menjelaskan  keutamaan malam yang barokah ini, Allah turunkan surat Al-Qadar, dan juga banyak hadits yang menjelaskannya, di antaranya Hadits Abu Hurairah radhialahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ , تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ , وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ , وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ , لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ” رواه النسائي ( 2106 ) وأحمد (8769) صححه الألباني في صحيح الترغيب ( 999 ) .
“Bulan Ramadhan telah tiba menemui kalian, bulan (penuh) barokah, Allah wajibkan kepada kalian berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu (neraka) jahim ditutup, setan-setan durhaka dibelenggu. Padanya Allah memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang mendapatkan kebaikannya, maka sungguh dia terhalang (mendapatkan kebaikan yang banyak).” (HR. Nasa’I, no. 2106, Ahmad, no. 8769. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih At-Targhib, no. 999)
Dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, dia berkata, Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam  bersabda:
 مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ . (رواه البخاري، رقم 1910، ومسلم، رقم  760 ) 
“Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan (penuh) keimanan dan pengharapan (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1910, Muslim, no. 760).
4.      Allah menjadikan puasa dan shalat  yang dilakukan dengan keimanan dan mengharapkan (pahala) sebagai sebab diampuninya dosa. Sebagaimana telah terdapta riwayat shahih dalam dua kitab shahih; Shahih Bukhori, no. 2014, dan shahih Muslim, no. 760, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa yang berpuasa (di Bulan) Ramadhan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu”.
Juga dalam riwayat Bukhari, no. 2008, dan Muslim, no. 174, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
”Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”.
Umat islam telah sepakat (ijma) akan sunnahnya menunaikan qiyam waktu malam-malam Ramadhan. Imam Nawawi telah menyebutkan bahwa maksud dari qiyam di bulan Ramadhan adalah shalat Taraweh, Artinya dia mendapat nilai qiyam dengan menunaikan shalat Taraweh.
5.       Allah (di bulan Ramadhan) membuka  pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka dan membelenggu setan-setan. Sebagaimana dalam dua kitab shahih, Bukhari, no. 1898, Muslim, no. 1079, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
 إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة , وغلقت أبواب النار , وصُفِّدت الشياطين
“Ketika datang (bulan) Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu”.
6.      Pada setiap malam (bulan Ramadan) ada yang Allah bebaskan dari (siksa) neraka. Diriwayatkan Ahmad (5/256) dari hadits Abu Umamah, sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
لله عند كل فطر عتقاء. (قال المنذري: إسناده لا بأس به، وصححه الألباني في صحيح الترغيب، رقم 987)
“Pada setiap (waktu) berbuka, Allah ada orang-orang yang dibebaskan (dari siksa neraka)” (Al-Munziri berkata: ”Sanadnya tidak mengapa”, dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih At-Targhib, no. 987)
Diriwayatkan dari Bazzar (Kasyf, no. 962), dari hadits Abu Said, dia berkata: Rasulullah sallallahu’alaihi wasallan bersabda:
إن لله تبارك وتعالى عتقاء في كل يوم وليلة _ يعني في رمضان _ , وإن لكل مسلم في كل يوم وليلة دعوة مستجابة ”
“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan kebebasan dari siksa neraka pada setiap malam –yakni di bulan Ramadan- dan sesungguhnya setiap muslim pada waktu siang dan malam memiliki doa yang terkabul (mustajabah)”.
7.       Puasa pada bulan Ramadan (merupakan) sebab terhapusnya dosa-dosa yang lampau sebelum Ramadan jika menjauhi dosa-dosa besar. Sebagaimana terdapat riwayat dalam shahih Muslim, no. 233, sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda:
  الصلوات الخمس , والجمعة إلى الجمعة , ورمضان إلى رمضان , مكفرات ما بينهن إذا اجتنبت الكبائر
“Dari shalat (ke shalat) yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadan ke Ramadhan, semua itu dapat menghapuskan (dosa-dosa) di antara waktu tersebut, jika menjauhi dosa-dosa besar.”
8.       Puasa (di bulan Ramadan) senilai puasa sepuluh bulan. Yang menunjukkan hal itu, adalah riwayat dalam shahih Muslim, no. 1164, dari hadits Abu Ayub Al-Anshary, dia berkata:
 من صام رمضان , ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
“Barangsiapa yang berpuasa (pada bulan Ramadhan) kemudian diikuti (puasa) enam (hari) pada bulan Syawwal, maka hal itu seperti puasa setahun”.
Juga diriwayatkan oleh Ahmad, no. 21906, sesunggunya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
من صام رمضان فشهر بعشرة أشهر ، وصيام ستة أيام بعد الفطر فذلك تمام السنة
“Siapa yang berpuasa (pada bulan) Ramadan, maka satu bulan sama seperti sepuluh bulan. Dan (siapa yang berpuasa setelah itu) berpuasa selama enam hari sesudah Id (Syawal), hal itu (sama nilainya dengan puasa) sempurna satu tahun”.
9.      Orang yang menunaikan qiyamul lail (Taraweh) bersama imam hingga selesai, dicatat baginya seperti qiyamul lail semalam (penuh). Sebagaimana terdapat riwayat dari Abu Daud, no. 1370 dan lainnya dari hadits Abu Dzar radhiallahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Bahwasiapa menunaikan qiyamul lail bersama imam hingga selesai, dicatat baginya (pahala) qiyamul lail semalam (penuh)”. (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab ‘Shalat Taraweh’,  hal. 15)
10.  Melaksanakan umrah pada bulan Ramadan, (pahalanya) seperti haji. Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 1782, dan Muslim, no. 1256, dari Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada wanita dari Anshar: ”Apa yang menghalangi anda melaksanakan haji bersama kami?” Dia berkata: ”Kami hanya mempunyai dua ekor onta untuk menyiram tanaman. Bapak dan anaknya menunaikan haji dengan membawa satu ekor onta dan kami ditinggalkan satu ekor onta untuk menyiram tanaman.” Beliau bersabda: “Jika datang bulan Ramadan tunaikanlah umrah, karena umrah (di bulan Ramadhan) seperti haji”. Dalam riwayat Muslim: “(seperti) haji bersamaku”.
11.  Disunnahkan i’tikaf, karena Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam senantiasa melaksanakannya, sebagaimana dalam hadits Aisyah radhiallahu ’anha, sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam biasanya beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah ta’ala mewafatkannya, kemudian istri-istrinya beri’tikaf (sepeninggal) beliau”. (HR. Bukhari, no. 1922,  Muslim, no. 1172).
12.  Sangat dianjurkan sekali pada bulan Ramadan tadarus Al-Qur’an dan memperbanyak tilawah. Cara tadarus Al-Qur’an adalah dengan membaca (Al-Qur’an) kepada orang lain dan orang lain membacakan (Al-Qur’an) kepadanya. Dalil dianjurkannya (adalah): “Sesungguhnya Jibril bertemu Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam setiap malam di bulan Ramadhan dan membacakan (Al-Qur’an) kepadanya”. (HR. Bukhari, no. 6, dan Muslim, no. 2308). Membaca Al-Qur’an dianjurkan secara mutlak, akan tetapi pada bulan Ramadan sangat ditekankan.
13.  Dianjurkan di bulan Ramadhan memberikan buka kepada orang yang berpuasa, berdasarkan hadits Zaid Al-Juhany radiallahu ’anhu berkata, Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa memberi buka (kepada) orang yang berpuasa, maka dia (akan mendapatkan) pahala seperti orang itu, tanpa mengurangi pahala orang berpuasa sedikit pun juga”. (HR.Tirmizi, no. 807,  Ibnu Majah, no. 1746, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam shahih Tirmizi, no. 647).
Wallahu’alam .

Tahukah Anda Shiyam Ramadhan

Di antara rahasia dan hakekat shiyam Ramadhan dapat disimpulkan menjadi tujuh perkara yang dapat dirasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan:
  1. Menguatkan Jiwa
    Dalam hidup ini, tak sedikit didapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, didalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu dan akan mengalihkan penuhanan dari Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya:
    “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nyadan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.” (Qs. Al Jaatsiah, 45: 23)
    Maka dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala doanya dikabulkan oleh Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda :
    “Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do‘a mereka: Doa pemimpin yang adil, do’a orang yang berpuasa hingga berbuka, dan do’a orang yang dizalimi. Allah Ta’ala mengangkat do’anya keatas awan dan dibuka baginya pintu-pintu langit, dan Allah Tabaraka Wata’ala berfirman, “Demi keagungan-Ku sungguh pasti aku akan menolongmu tak lama lagi.”" (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Mjjah.
  2. Mendidik Kemauan
    Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu Rasulullah Saw menyatakan:
    اَلصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ
    “Puasa itu setengah dari kesabaran.” (HR. Ibn Majah, shahih dari Abu Hurairah)
    Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.
  3. Menyehatkan Badan
    Di samping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. Oleh karena itu diwaktu berbuka puasa, tidak boleh terlalu banyak makan sekalipun makanan itu halal sehingga perut tidak mampu memuatnya lagi, akibatnya perut menjadi sakit karena terlalu penuh diisikan makanan dan minuman.
    Para ulama mengatakan: “Tidak ada suatu wadah yang paling dibenci Allah dari pada perut yang penuh terisi dari pada apa-apa yang halal.” Bagaimana kalau sampai terisi dari makanan dan minuman yang haram? Inilah hikmah puasa yang sangat besar, yang tujuan utamanya ialah menentang segala macam yang tidak baik, kemaksiatan dan kemungkaran. Juga untuk mematahkan kehendak hawa nafsu agar jiwa menjadi kuat untuk melaksanakan ketaqwaan kepada Allah Swt. Dengan berpuasa badan menjadi sehat dan kuat, sehingga ibadah kepada Allah dapat dilakukan dengan maksimal.
  4. Mengenal Nilai Kenikmatan
    Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.
    Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasaakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air.
    Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya. Allah Swt berfirman:
    “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim, 14: 7)
  5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain
    Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Poso, Ambon – Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina, Pakistan, Afganistan dan sebagainya.
    Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah Swt berfirman :
    “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka,dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Qs. At Taubah, 9: 103)
  6. Melatih Diri Untuk Menundukkan Musuh Allah
    Musuh Allah Swt yaitu syetan (baik dari kalangan jin maupun manusia) menggunakan sarana syahwat untuk mengalahkan lawannya (manusia). Syahwat terbagi menjadi dua macam, yaitu syahwat yang timbul dari perut dan dari kemaluan. Syahwat ini bisa menjadi bertambah kuat karena makanan dan minuman. Selama ladang syahwat tetap subur, maka syetan bisa bebas berkeliaran ditempat gembalaan yang subur itu. Tetapi jika syahwat dipersempit dengan berpuasa maka jalan kesana juga menjadi sempit bagi si syetan itu.
    Ada banyak riwayat yang menjelaskan  bahwa syetan terbelenggu didalam bulan ramadhan sehingga menjadi sempit ruang geraknya menggoda manusia disebabkan karena manusia sedang berpuasa. Sebuah riwayat dari sahabat Anas Ra berkata, Rasulullah Saw bersabda:
    إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنْ ابْنَ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِّ
    “Sesungguhnya syetan itu berjalan pada tubuh anak Adam mengikuti aliran darah.“ (HR. Ahmad, Bukhari Muslim dan Abu Daud).
    Orang yang berpuasa berarti mengurangi makan dan minum. Ladang syahwat menjadi sempit, saluran darah mengecil sehingga kebebasan syetan menggoda terhalang, kemudian potensi jahatnya terbelenggu. Inilah keistimewaan shiyam yang memiliki potensi mengalahkan musuh Allah Swt.
  7. Menahan Seluruh Anggota Tubuh Dari Perbuatan Dosa
    Khususnya memejamkan mata dan mengekangnya dari melihat yang diharamkan Allah, menjaga lisan dari perkataan yang berdosa dan kotor, jelek dan menjijikkan, menahan pendengaran dari mendengarkan apa saja yang tidak disenangi menurut ukuran agama, karena setiap perkara yang haram diucapkan maka menjadi haram pula mendengarkannya, menahan tangan dan kaki jangan sampai mengerjakan hal-hal terlarang dari segi agama, demikian pula menahan perut dari memakan apa-apa yang haram dan syubhat. Sebab apabila orang yang berpuasa memakan sesuatu yang haram atau syubhat berarti sia-sialah puasa yang dikerjakan. Jika semua ini telah difahami dapatlah kita mengambil kesimpulan sesuai dengan apa yang telah dipesankan oleh Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya:
    كَمْ مِنْ صَا ِئمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ اِلّاَ الْجُوْعِ وَالْعَطَشْ
    “Banyak sekali orang yang berpuasa, padahal dia tidak dapat hasil apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus saja.“ (HR.  An Nasa’i dan Ibn Majah)
Wallahu’alam…
Source : abujibriel.com

Ramadhan Waktu Memilih

Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai sebuah pedoman untuk seluruh manusia, bukti yang jelas untuk petunjuk serta pembeda (antara haq dan batil). Maka siapa saja yang melihat (bulan pada malam pertama) bulan (Ramadhan), dia harus berpuasa pada bulan tersebut (2: 183)
Sebagaimana bom-bom yang dijatuhkan di kota-kota Afghanistan, Pakistan, dan Irak, juga sebagaimana laki-laki tua, wanita dan anak-anak yang diteror dengan sekumpulan senjata-senjata canggih, Juga para wanita bercadar, lelaki berjenggot, bergamis, dan bercelana ngantung, masjid yang diteror, faktanya bahwa mereka semua adalah Islam dan Kaum Muslimin,
Ramadhan ini harus menjadi sebuah waktu untuk introspeksi bagi seluruh Muslim. Sebuah waktu untuk becermin atas sebenar-benarnya tujuan dari penciptaan kita, sebuah waktu untuk becermin berapa banyak kewajiban yang belum kita laksanakan, dan sebuah waktu untuk becermin bagi saudara-saudara kita yang menangisi bantuan di negeri-negeri Muslim yang sedang terjajah, sebagaimana di Palestina, Irak, Afghanistan, Irak, Kaukasus, Moro, Pattani, Kashmir dan lainnya.
Sebagaimana banyak diantara kita menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh dengan ibadah rutin, dimana mengkonsumsi makanan dilarang pada saat siang hari dan pada saat habis Ramadhan banyak yang kehilangan arti dari bulan yang agung ini. Bulan Ramadhan seharusnya dijadikan oleh Ummat Muslim untuk mengevaluasi kembali ikrar mereka kepada Allah SWT, mendeklarasikan bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT (yaitu bahwa kita tidak menerima apapun sebagai tuhan kita atau pencipta semua makhluk kecuali Allah dan kita hanya menjadikanNya sebagai satu-satunya sumber ketetapan), dan bahwa Muhammad SAW adalah Rasul terakhir (yaitu bahwa dia adalah satu-satunya contoh yang harus kita ikuti).
Bulan Ramadhan ini kita akan menyaksikan 85 tahun Ummat Muslim hidup tanpa Khilafah, dan tanpanya Ummat Muslim menjadi terperosok ke dalam jurang kehinaan, mulai dari pendudukan negeri-negeri Muslim sampai serangan langsung terhadap kepercayaan kita, dimana sebagian Muslim bahkan datang dengan meragukan kebenaran Negara Islam sebagai sebuah bentuk pemerintahan yang bisa diaplikasikan pada abad 21.
Ummat Muslim mempunyai sejarah yang agung, dimana peradaban barat banyak berhutang padanya. Ummat Muslim hidup dengan otoritas politik lebih dari 1300 tahun, batasan-batasannya yang dibentangkan di muka bumi, berhukum dengan keadilan, memberikan Muslim dan non muslim ghanimah juga hak-haknya. Tetapi pada tahun 1924, Ummat Muslim berhadapan dengan malapetaka yang paling besar dimana mengguncang hak paling mendasar dari eksistensi mereka, pada saat pemerintah Inggris, yang dibantu oleh Mustapha Kemal At-taturk, yahudi laknatullah, berhasil menghancurkan Negara Islam.
Selanjutnya, sejak saat itu Ummat Muslim menyaksikan lebih banyak peristiwa penting yang telah diatur untuk merubah tatanan dunia sebagaimana kita telah mengetahuinya. Peristiwa 11 September 2001 telah merubah perpolitikan dunia. Dimana peristiwa tersebut menyibak konflik antara Islam dan Kufur dan menempatkan Islam pada garis terdepan agenda dunia.
Dengan demikian secara jelas membuat sebuah batasan antara camp iman dan camp kufur, dengan membuat pembagian itu menjadi jelas dan tegas.
Peristiwa itu juga menghidupkan konflik antara Haq dan Batil menjadi secara langsung dan terbuka berhadapan serta berperang sebagai pembangkit untuk memanggil Ummat Muslim. Sungguh setelah peristiwa 11 September 2001 munafiqin bersembunyi dalam Ummat ini dimana bersama-sama dengan kebencian kuffar kepada ummat Muslim.
Kuffar menerjunkan pasukan salib mereka untuk melawan Muslim dan seluruh dunia menjadi medan pertempuran terbuka yang digunakan untuk perang melawan Islam dan ummat Muslim diperangi di setiap belahan dunia. Bulan Ramadhan adalah sebuah kesempatan bagi Ummat Muslim untuk memeluk Islam sebagai sebuah sistem politik yang menyeluruh, yang bisa memberikan solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi manusia. Ini adalah waktu dimana Muslim harus bangkit dari pemahaman bahwa Islam hanyalah sebuah agama kepercayaan yang dilaksanakan secara personal. Tetapi tidak demikan, Al-Qur’an telah diturunkan pada Bulan ramadhan dengan tujuan untuk diaplikasikan pada seluruh lini kehidupan kita dan menjadi dominan di atas seluruh permukaan bumi.
Melihat peristiwa dunia, garis perjuangan telah tergambar dan setiap Muslim harus membuat pilihan sebagaimana dia menempatkan diantara kesetian sesungguhnya dan kesetian palsunya. Pemerintah Inggris telah bekerja keras meredam perbedaan antara orang Inggris dan Muslim, tetapi seseorang mendeklarasikan kedaulatan kepada ratu dan lainnya mendeklarasikan kedaulatan kepada Allah SWT. Namun visi dari banyak saudara-saudara kita menjadi lemah dan Allah SWT berfirman:
 “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al Anfal, 8: 25).
Tidak hanya sebagian Muslim yang telah memilih untuk berada di sisi musuh-musuh Islam, tetapi mereka juga lebih lanjut memerangi Muslim yang ikhlas dan jama’ah yang bekerja untuk menerapkan Dien Allah di muka bumi ini.
Maka pilihannya telah jelas yaitu kita berada pada sisi Iman atau kita berada pada sisi kufur. Pemimpin Muslim di dunia telah melakukan kemurtadan dan telah diekspos oleh Allah SWT, sebagaimana mereka satu persatu berada dengan barat bersekutu dalam perang mereka melawan saudara-saudara Muslim kita di Irak, Afghanistan, dan lainnya.
Mereka semua mengulurkan tangan mereka untuk mendukung kuffar tetapi tidak menjawab tangisan anak-anak yang dibantai di Palestina, tidak ada yang mengacungkan jari untuk melindungi saudari-saudari kita yang telah diperkosa di Kashmir, tidak ada juga yang mengeraskan suara untuk mengutuk kekejaman yang sekarang dilakukan di Chechnya. Itu karena mereka semua terlibat dalam kejahatan kuffar melawan Ummat Muslim.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS Ali Imran, 3: 118)
Ramadhan ini adalah sebuah bulan kesempatan dimana pintu-pintu jannah terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup dan syaitan dibelenggu. Ini adalah sebuah kesempatan untuk berdiri melawan sumpah Iblis yang dibuat kepada Allah …kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)..” (QS Al A’raaf, 7: 17)
Bulan Ramadhan ini kita harus bersumpah kepada Allah bahwa kesetiaan kita adalah hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, bahwa kita hanya akan menerima perintah Allah (Syari’ah), bahwa kita akan mendukung, membantu saudara-saudara Muslim kita di seluruh dunia, bahwa kita tidak akan pernah bersekutu dengan Kuffar, bahwa kita akan ambil bagian dalam perjuangan menerapkan Khilafah sebagai sebuah kewajiban atas semua Muslim, dan bahwa kita mendukung, dan membantu jihad di seluruh dunia.
Kita memohon pada Allah SWT agar diberikan kemenangan kepada kita dan sekutu-sekutu kita untuk memanfaatkan kemuliaan dalam bulan Ramadhan, dimana Dia SWT membuat kita masih tetap menyembah-Nya, untuk menjauhkan kita dari perbuatan pembangkangan, kufur dan syirik, dan memudahkan kita untuk beribadah. Dimana Allah SWT menetapkan bagi kita dengan kuat sebagai Muslim, yang benar dalam berkata dan perbuatan. Dimana bahwa Dia mempersatukan ummat Muslim di bawah panji Islam, dibawah otoritas satu Khalifah dan bahwa Dia SWT memberikan kita kemenangan atas musuh-musuh Islam.
Dari Abu Hurairah telah diriwayatakan bahwa Rasulullah menaiki mimbar dan berkata:
 “Amin, Amin, Amin” kemudian ditanya: Yaa Rasulullah, anda menaiki mimbar dan mengucapkan Amin sebanyak tiga kali? Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Jibril AS datang kepadaku dan berkata ‘siapa saja yang mencapai bulan Ramadhan dan tidak mendapatkan ampunan (atas dosanya) maka akan masuk neraka, kemudian semoga Allah menjauhkannya, ucapkanlah: Amin, kemudian aku berkata Amin (Ibnu Khuzaymah, Ahmad, Muslim, Baihaqi)
(arrahmah.com)

Gembira dan Sedih Saat Bulan Ramadhan Tiba


Dalam menghadapi masuknya bulan suci Ramadhan, kaum muslimin terbagi menjadi dua golongan; golongan yang senang, gembira, nan bahagia dan golongan yang sedih, cemberut, nan kesal. Kenapa kelompok pertama sedih dan gembira? Kenapa pula kelompok kedua sedih dan kesal? Siapa saja yang termasuk ke dalam masing-masing kelompok tersebut?
Kelompok yang gembira
Kelompok pertama menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan gembira dan bahagia karena banyak alasan, antara lain:
  1. Mereka mengetahui sepenuhnya keutamaan puasa Ramadhan dan buahnya dalam menghapus dosa-dosa dan menutupi kesalahan-kesalahan; Ramadhan adalah kesempatan emas untuk meraih derajat takwa, melakukan muraqabah (pengawasan terhadap amal perbuatan diri sendiri) dan muhasabah (introspeksi diri). Allah berfirman:
    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” 
    (QS. Al-Baqarah (2):183)
    Allah SWT juga berfirman:
    “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah (2): 185)
    Dari Ka’ab bin Ujrah RA. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku dan berkata: Merugi dan terhinalah orang yang namamu (Muhammad SAW) disebutkan di sisinya namun ia tidak mengucapkan shalawat kepadamu. Merugi dan terhinalah seseorang yang memasuki bulan Ramadhan kemudian bulan itu habis namun ia tidak mendapat ampunan Allah. Merugi dan terhinalah seseorang yang mendapati masa tua kedua orang tuanya, namun keduanya tidak memasukkannya ke surga (karena ia tidak berbakti kepada keduanya).” (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ath-Thabarani, Al-Baihaqi, dan Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi, seluruh perawinya tsiqah dan hadits ini memiliki banyak hadits penguat)
  2. Mereka adalah orang-orang yang mengharapkan ridha Allah, merindukan surga-Nya dan melihat wajah-Nya Yang Maha Mulia lagi Maha Indah. Dari Abu Hurairah RA. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jika bulan Ramadhan telah datang, niscaya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079) Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi RA. dari Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya surga memiliki sebuah pintu masuk yang dinamakan Ar-Rayyan. Hanya orang-orang yang banyak melakukan shaum saja yang memasuki surga melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Tiada orang selain mereka yang bisa memasukinya.” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152)
    Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA. bahwasnaya beliau SAW juga bersabda, “Barangsiapa melakukan shaum sehari di jalan Allah niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan 70 musim (70 tahun).” (HR. Bukhari no. 2840 dan Muslim no. 1153)
  3. Mereka mengetahui bahwa shaum adalah sumber kebahagiaan dan kegembiraan. Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT berfirman: “Semua amalan manusia untuk dirinya sendiri, kecuali shaum, maka ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya secara langsung.Shaum adalah perisai (dari perbuatan dosa dan adzab neraka). Maka jika salah seorang di antara kalian melakukan shaum, janganlah ia berkata dan jangan pula berteriak-teriak. Jika ada orang lain mencaci maki atau mengganggunya, maka hendaklah ia menjawab: “Aku tengah melakukan shaum.” Demi Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi dari minyak misk. Orang yang melakukan shaum memiliki dua kegembiraan: ia gembira saat berbuka dan ia gembira saat menghadap Allah.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)
  4. Mereka mengetahui bahwa shaum akan memberi mereka syafa’at di hari kiamat kelak. Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Shaum dan Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi hamba pada hari kiamat kelak. Shaum berkata: “Wahai Rabbku, aku telah mencegahnya dari makan dan melampiaskan nafsu syahwatnya. Maka izinkan aku memberinya syafa’at!” Adapun Al-Qur’an berkata: “Wahai Rabbku aku telah mencegahnya dari tidur di waktu malam (dengan melakukan shalat malam). Maka izinkan aku memberinya syafa’at!” Keduanya lalu diberi izin memberi syafa’at.” (HR. Ahmad, 2/174 dan Al-Hakim, 1/554. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib).
  5. Mereka mengetahui betul manfaat shaum bagi maslahat ruhani, psikis, jasmani, dan sosial. Dari aspek ruhani, Shaum mendidik pelakunya untuk menahan diri dari segala bisikan hawa nafsu, menyempitkan peluang godaan setan, membiasakan diri melaksanakan amalan-amalan wajib dan sunah secara disiplin, dan mengantarkannya ke derajat muttaqin. Secara psikis, shaum mendidik pelakunya untuk menjadi orang yang sabar, disiplin, pemaaf, teratur, tidak egois, tidak boros, tidak foya-foya, dan tidak emosional. Secara jasmani, shaum terbukti oleh dunia medis menjadi sarana peningkatan kesehatan dan penyembuhan berbagai penyakit. Adapun secara sosial, shaum mendidik pelakunya untuk lebih peduli, dermawan, dan penyantun kepada orang-orang yang membutuhkan. Shaum juga membiasakan hidup kebersamaan lewat berbagai amalan ibadah secara berjama’ah.
  6. Mereka mengetahui betul limpahan rahmat, nikmat, pahala, dan ampunan Allah yang disebar sepanjang siang dan malam bulan Ramadhan. Ibadah shaum Ramadhan, qiyam Ramadhan (tarawih dan witir), dan qiyam lailatul qadar sebagaimana disabdakan Nabi SAW dapat menghapuskan dosa-dosa kecil yang telah lalu, jika dilakukan karena iman dan mengharap balasan Allah semata. Ibadah tadarus Al-Qur’an, memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan, I’tikaf sepuluh hari terakhir, siraman-siraman ruhani, umrah, dan berbagai amalan lainnya juga merupakan lautan pahala yang tiada bertepi.
Kelompok yang Sedih
Adapun kelompok kedua adalah kelompok yang sedih dengan datangnya bulan Ramadhan. Mereka memiliki dua keadaan:
Pertama, orang-orang yang gembira bercampur sedih. Mereka gembira dengan datangnya Ramadhan yang penuh berkah, namun juga sedih karena mereka tidak mampu melaksanakan shaum Ramadhan atau sebagian amal kebaikan lainnya di bulan suci ini. Bukan karena kemalasan mereka, namun karena mereka memiliki udzur syar’I seperti tua renta, sakit, bepergian jauh, wanita hamil, atau wanita menyusui. Meski mereka sedih karena tidak mampu melakukan sebagian amal kebajikan tersebut, namun  mereka tetap layak bergembira karena Allah SWT tetap mencatat pahala kebajikan bagi mereka.
Allah SWT berfirman:
“Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah (2): 184)
Allah SWT juga berfirman:
“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan jauh (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah (2): 185)
Dari Abu Musa Al-Asy’ari RA. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang hamba sedang sakit atau melakukan perjalanan jauh, niscaya akan ditulis baginya pahala amal kebaikan yang biasa dia kerjakan saat  tidak bepergian jauh dan sedang sehat.” (HR. Bukhari no. 2996 dan Abu Daud no. 3091)
Kedua, orang-orang yang merasa kesal, cemberut, sedih, dan kecewa dengan datangnya bulan Ramadhan.Tiada kegembiraan sedikit pun dalam hati mereka dengan kehadiran bulan tebar amal shalih dan ampunan Allah ini. Mereka sedih, kesal, dan kecewa karena beberapa alasan:
  1. Mereka adalah orang-orang munafik yang tidak meyakini kehidupan akhirat, sehingga malas beramal shalih. Shaum sebulan penuh, shalat tarawih dan witir, tadarus Al-Qur’an, dan memberi sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan, bagi mereka sungguh berat. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’ (4): 142)
    Allah SWT juga berfirman: 

    “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah (9): 54)
  2.  Mereka adalah orang-orang yang lemah iman dan tidak mengerti arti penting ibadah bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Menurut angapan mereka, ibadah hanyalah beban belaka. Tiada kelezatan, keindahan, manfaat, dan pengaruhnya bagi kehidupan. Allah SWT berfirman:
    “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl (16): 97)
    Shahabat Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya amal kebajikan itu mendatangkan cahaya bagi hati, sinar terang pada raut wajah, kekuatan pada fisik, tambahan rizki, dan kecintaan dalam hati manusia terhadap pelakunya. Sebaliknya, amal keburukan itu mendatangkan kegelapan bagi hati, hitam kelam bagi raut muka, kelemahan bagi fisik, mengurangi rizki, dan mendatangkan kebencian dalam hati manusia terhadap diri pelakunya.”
  3. Mereka adalah orang-orang yang tenggelam dalam buaian lumpur syahwat, kemewahan, foya-foya, dan maksiat. Menurut anggapan mereka, bulan Ramadhan menjadi penghalang serius bagi hobi mereka untuk melampiaskan nafsu syahwat. Mereka lupa atau tidak tahu, sesungguhnya surga itu mahal harganya. Surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci oleh hawa nafsu, sedangkan neraka dikelilingi oleh segala hal yang diinginkan oleh hawa nafsu. Jika mereka menginginkan kenikmatan surga yang abadi, mereka harus mau membayar harganya, yaitu meninggalkan segala hal yang diinginkan oleh nafsu syahwat dan melaksanakan ajaran syariat Islam walau dibenci oleh hawa nafsu. Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Neraka itu dikelilingi oleh hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsu dan surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci oleh hawa nafsu.” (HR. Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2823)
  4.  Mereka adalah orang-orang yang tidak terbiasa melakukan shaum. Mereka hanya mengenal dan melaksanakan shaum Ramadhan saja. Dalam setahun, mereka tidak pernah melakukan shaum-shaum yang disunahkan: shaum Senin dan Kamis, shaum Daud, shaum Ayyamul Bidh (tanggal 13,14, dan 15 tiap bulan dalam kalender Hijriyah), shaum ‘Arafah, shaum ‘Asyura, shaum 6 hari di bulan Syawwal, shaum Sya’ban. Mereka tidak pernah, apalagi terbiasa, melakukan shaum sunnah. Akibatnya, melakukan shaum selama satu bulan penuh terasa sangat berat dan menyiksa.

    Syahdan, seorang ulama yang shalih bernama Hasan bin Shalih menjual seorang budak perempuannya kepada orang lain. Pada malam pertama di rumah majikan barunya, budak perempuan itu bangun di tengah malam lalu berteriak: “Wahai orang-orang…shalaaaat!!! Shalaaaaat!!” Kontan saja seisi rumah majikan baru itu terbangun. Berdiri sempoyongan sambil mengucek mata, mereka bertanya kepada budak perempuan itu: “Apakah fajar sudah terbit? Apakah waktu shalat Shubuh sudah tiba???” Budak perempuan itu menukas: “Jadi kalian ini tidak pernah melakukan shalat kecuali shalat wajib lima waktu saja???”
    Keesokan paginya, budak perempuan itu pergi ke rumah mantan majikannya dan berkata: “Tuan, Anda telah menjual saya kepada orang-orang yang berperangai buruk. Mereka tidak pernah melakukan shalat kecuali shalat wajib lima waktu. Mereka tidak pernah melakukan shaum kecuali shaum Ramadhan saja. Belilah saya kembali! Belilah saya kembali!” Karena kasihan, majikan yang shalih itu akhirnya membelinya kembali dari majikan barunya.
Wa ba’du…
Bulan Ramadhan adalah bulan shaum…bulan tarawih dan witir…bulan tadarus Al-Qur’an…bulan I’tikaf…bulan kajian ilmu…bulan menyantuni anak yatim, janda, fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan…bulan taubat dan istighfar…bulan ampunan dan ridha Allah.
Di manakah gerangan posisi kita darinya? Apakah kita termasuk kelompok pertama yang gembira dan bahagia…ataukah kelompok kedua yang sedih dan kecewa?
Ya Allah…masukkanlah kami ke dalam golongan hamba-Mu yang mampu menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan dengan sebaik-baiknya…
Ya Allah…masukkanlah kami ke dalam golongan hamba-Mu yang Engkau bebaskan dari api neraka di bulan penuh berkah dan maghfirah ini…
Ya Allah…sampaikanlah kami ke tingkatan hamba-hamba-Mu yang beriman dan bertakwa.
 (Muhib al-Majdi, 2 Ramadhan 1432 H)
Risalah Ramadhan Arrahmah

Tahukah Anda Doa berbuka puasa yang shahih

Berbuka Puasalah dengan doa berikut ini :
Terdapat sebuah hadits shahih tentang doa berbuka puasa, yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
 ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.”
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki]
(Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678)